DB Mengganas, Dua Warga Buleleng Meninggal

Singaraja | Penyakit Demam Berdarah (DB) di Buleleng mengganas. Dua orang warga Buleleng meninggal akibat penyakit ini. Dua orang tersebut yakni Luh Putu Indah Purnama, balita berusia tiga tahun yang tinggal di Banjar Dinas Sekar, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, serta Made Roni, 43, warga Banjar Dinas Dajan Margi, Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng.

Keduanya menambah daftar panjang korban keganasan penyakit ini. Sampai saat ini, sudah 9 orang warga Buleleng meninggal akibat DB.

- Advertisement -

Korban Luh Putu Indah Purnama meninggal di UGD RSUD Buleleng, Kamis pukul 13.00. Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Banjar I namunn karena sudah kritis akhirnya dirujuk ke RSUD Buleleng.

Korban diterima di UGD pada pukul 12.30 siang, dan dinyatakan meninggal pada pukul 13.00 siang karena sudah menunjukkan gejala fase dengue shock syndrome (DSS). Jenazah korban langsung dikuburkan di Setra Desa Pakraman Banjar.

Sementara korban Made Roni, masuk ke RSUD Buleleng pada Kamis pukul 07.30. Dari hasil uji laboratorium korban sudah positif terjangkit demam berdarah dengan kondisi trombosit yang terus turun. Gejalanyapun sudah pada fase DSS.

Korban kemudian dirawat di ruang ICU RSUD Buleleng, dan dinyatakan meninggal pada Kamis pukul 17.15.

- Advertisement -

Wakil Direktur Pelayanan Medik, dr. Putu Sudarsana, Sp.Og mengungkapkan kedua korban sudah ditangani secara prosedural namun tim medis tidak bisa menolong karena kondisi kedua pasien itu sudah sangat kritis.

“Keduanya sudah kami tangani semaksimal mungkin. Karena kondisinya sudah masuk shock syndrome, memang agak susah ditangani. Tim medis kami sudah berupaya yang terbaik,” kata Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik RSUD Buleleng, dr. Putu Sudarsana, Sp.OG

Sementara itu suasana duka dan haru terlihat di rumah duka korban Made Roni. Suami korban, Nyoman Sudana menuturkan, mendiang mulai mengalami demam pada Kamis (10/3) pekan lalu. Karena sakit yang tak kunjung reda, pihak keluarga akhirnya memaksakan korban dirawat di RSUD Buleleng. Korban sempat menolak hingga akhirnya dipaksakan namun tak bisa ditolong tim medis.

Perbekel Sari Mekar, Made Sukasandi Ada mengatakan, penyakit akibat gigitan nyamuk di Desa Sari Mekar memang sangat mengkhawatirkan. Sebelumnya pada tahun 2015, sempat muncul kasus chikunguya di desa tersebut. Puluhan warga setempat terserang secara massal.

Paska itu, justru kasus demam berdarah mencuat sejak Februari 2016 lalu. Sejak saat itu, sudah ada enam orang warga di Desa Sari Mekar yang dirawat karena demam berdarah. Beberapa kali bahkan fogging sudah dilakukan namun justru penyakit demam berdarah semakin meluas.

“Tiga bulan ini sudah ada empat kali fogging. Tapi masih ada saja kasus. Saya juga kurang paham apa penyebabnya. Hari ini (kemarin, Red) kami sudah surati Dinas Kesehatan, minta supaya ada penanganan lebih lanjut karena disini sudah ada korban,” tandasnya.|NP|

 

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts