Lomba Pesantian Diyakini Bisa Kembalikan Eksistensi Adat dan Budaya Bali

Singaraja | Kehidupan remaja masa kini sangat terlihat jelas dipengaruhi arus globalisasi dan modernitas yang berdampak pada tergerusnya posisi adat dan budaya Bali. Ini terjadi karena remaja lebih gandrung terhadap kegiatan-kegiatan yang lebih bersifat modernitas daripada tradisional.

Dari fenomena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menggelar Lomba Pesantian tingkat Remaja serangakian Hut Kota ke-412 ini diikuti oleh Sembilan sekeha teruna-teruni dari Sembilan kecamtan di Buleleng. Lomba Pesantian ini mengembalikan eksistensi adat dan budaya Bali yang sempat tergerus oleh modernitas.

- Advertisement -

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa mengakui eksistensi adat dan budaya harus bisa dipertahankan dalam perkembangan jaman, dengan cara-cara penyelenggaran lomba pesantian seperti ini.

“Lomba ini digelar dengan dasar fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita. Remaja saat ini lebih memilih pada kehidupan modernitas bahkan lebih dari itu. Karena itulah. Lomba Pesantian ini kita harapkan mampu mengembalikan adat dan budaya ,” ujar Suyasa.

Kata Suyasa, remaja yang diikutkan sebagai peserta ini dengan susah payah dicari oleh pihak desa adat sebagai perwakilan dari masing-masing kecamatan. Dalam prosesnya menuju lomba pesantian ini juga tidak gampang, mereka harus melewati masa pembinaan secar intensif standar pesantian yang baik dan benar.

“Jangan dikira pesantian langsung ada, Tim dari kecamatan mencari anak-anak remaja yang mau bekerja keras untuk belajar sloka, mantram-mantram ini. Mereka dibina oleh tim Pembina dari Kabupaten dan Kecamatan serta pihak desa adat atau sekehaa santi. Jadi dengan situasi seperti sekarang memang agak sulit, tetapi kita harus lakukan itu untuk mengembalikan adat dan budaya Bali,” papar Suyasa.

- Advertisement -

Kesulitan mencari remaja yang mau ikut dalam pesantian ini diakui pula oleh tim dari Sekeha Santi Widya Sesana dari Desa Pucak Sari yang mewakili Kecamatan Busungbiu. Salah satu timnya, Made Widana mengungkapkan remaja-remaja ini melalui pembinaan yang cukup keras dan intensif.

Mulai dari pencarian peserta hingga pembinaan membutuhkan waktu selama tiga bulan. “Efektif pelatihan dan pembinaan itu selama kurang lebih satu setengah bulan. Dan mereka sebelumnya belum berpengalaman melakukan pesantian. Ini memang kesulitan yang luar biasa,”ujar Widana.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana optimis bahwa lomba pesantian ini pasti mampu menjaga karakter remaja serta menjaga adat dan budaya Bali. “ Di sloka-sloka itu pasti banyak nilai-nilai filosopis yang baik yang terkandung. Karena itulah, lomba ini sebenarnya sangat penting untuk menjaga adat dan budaya kita sebagai masyarakat Bali,’ ujar Bupati.

Dari sisi pelaksanaan, lomba pesantian tingkat remaja ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada sekaa teruna, prajuru adat tentang tatanan Tri Hita Karana serta pelestarian adat dan budaya. Serta meningkatka pengetahuan dalam membaca dan menyanyikan mantram-mantram sloka untuk menghidupkan Taksu Bali.

Dari sisi pembangunan, Lomba Pesantian ini merupakan wahana kegiatan pelestarian adat dan budaya yang masuk dalam RPJMD 2012-2017 dalam kepemimpinan Putu Agus Suradnyana dan dr. Nyoman Sutjidra.

Peserta diikuti oleh sembilan sekaa santi dari sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng. Pihak panitia mengundang tiga orang dewan juri, dua orang dewan juri dari Widya Saba dan satu orang Seniman.

Untuk juara satu akan mendapatkan dana pembinaan Rp. 10 juta dan sebuah piagam, Juara 2 mendapatkan Rp.9 juta dan piagam, Juara 3 mendapatkan Rp.8 juta dan piagam serta juara 4 sampai juara 9 masing-masing mendapatkan Rp.6 juta dan piagam. Lomba pesantian akan digelar selama dua hari, dari 28 – 29 Maret 2016 di Gedung Lakmsi Graha, SIngaraja. |NP|

 

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts