Lomba Ngelawar Antisipasi Kelangkaan Makanan Tradisi Karena Maraknya Fast Food

Lomba Ngelawar serangkaian Buleleng festival ke-4 |Foto : Humas Buleleng|

Singaraja, koranbuleleng.com| Lawar tentunya sangat mudah ditemui di berbagai daerah di Bali, karena ini adalah masakan khas. Setiap daerah di Bali memiliki ciri khas yang berbeda untuk mengolah masakan satu ini. Makanan khas Bali ini berusaha dilestarikan oleh Pemkab Buleleng melalui lomba ngelawar mengingat banyaknya serbuan makanan fast food yang ada di Bali sekarang.

Melalui Buleleng Festival (Bulfest) tahun 2016, Pemkab Buleleng menyelipkan Lomba “ngelawar” untuk memeriahkan sekaligus melestarikan makanan khas Bali ini. Ada dua kategori lomba yang diadakaan Pemkab Buleleng yakni antar desa dan antar SMA/SMK se-Kabupaten Buleleng. Untuk Lomba ngelawar antar desa ini diikuti sembilan Desa perwakilan dari masing-masing Kecamatan Sekabupaten Buleleng. Lomba ini diadakan di Rumah Jabatan Bupati Buleleng pada hari ke-3 penyelenggaraan Bulfest, Kamis 4 Agustus 2016. Lomba ngelawar kali ini berbahan dasar daging babi.

“Sebelumnya Kami sudah bekali para peserta lomba bagaimana untuk melestarikan makanan khas Bali ini sehingga makanan ini bisa dipertahankan,” ujar ketua Panitia lomba antar desa Ir. Nyoman Sutrisna,MM.

Sutrisna mengatakan, lomba ini bukan hanya untuk melestarikan saja melainkan untuk meningkatkan dan mengembangkan makanan ini. “Kita akan cari model untuk mengembangkan lawar ini agar bisa dinikmati oleh masyarakat luar Bali, misalnya menggunakan bahan dasar selain babi,” pungkasnya.

Sementara itu, lomba ngelawar antar SMA/SMK diikuti 16 sekolah. Lomba ini menggunakan bahan dasar yang berbeda dari lomba antar desa. Bahan dasar yang digunakan untuk lomba antar SMA/SMK ini yaitu dolong atau bebek.

Panitia pelaksana lomba ngelawar antar SMA/SMK Drs. Gede Suyasa,M.Pd mengatakan tujuan diadakan lomba ini untuk memperkenalkan tradisi ngelawar sejak muda. “Ngelawar merupakan tradisi masyarakat Bali, jadi kita harus memperkenalkannya sejak muda sehingga tradisi ini bisa kita pertahankan,” ujarnya.

Suyasa berharap, anak muda di Buleleng bisa tetap mencintai makanan khas Bali ini. “Kita harus jaga betul tradisi ini, sehingga anak muda kita tidak lari kemakanan asing sehingga bisa menghilangkan tradisi kita,” imbuhnya.

Ditemui saat meninjau lomba, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana,ST mengatakan lomba ini sangat tepat untuk melestarikan ngelawar yang merupakan tradisi Bali. “Program 12 PAS yang saya keluarkan salahsatunya adalah pelestarian seni dan budaya dan lomba ini juga merupakan implementasi dari program tersebut,” jelasnya.

Bupati yang gemar memasak ini berharap anak muda di Buleleng bisa mencintai makanan khas Bali ini. “Saya harap anak muda di Buleleng ikut menjaga tradisi ini dan bisa mencintai ke-khasan masakan yang kita miliki,” harapnya.

Para Juri telah menetapkan juara dalam katagori lomba ngelawar antar desa pakraman sebagai juara pertama diraih Kecamatan Sukasada yang diwakili oleh Desa Pakraman Batu Dinding dengan mendapatkan uang pembinaan sebesar lima juta rupiah.

Kecamatan Tejakula sebagai juara kedua yang diwakili oleh Desa Pakraman Sembiran dengan mendapat uang pembinaan sebesar empat juta rupiah dan Kecamatan Sawan sebagai juara ketiga yang diwakili Desa Pakraman Giri Emas mendapat uang pembinaan sebesar tiga juta rupiah.

Dalam Katagori lomba ngelawar antar SMA/SMK se-Kabupaten Buleleng juara pertama diraih oleh SMK N 1 Seririt dengan mendapat uang sebesar  tujuh juta rupiah, Juara kedua diraih SMK Triatmajaya Singaraja dengan mendapat uang sebesar empat koma lima juta rupiah, dan Juara ketiga diraih SMK N 1 Singaraja dengan mendapatkan uang sebesar tiga juta rupiah. Untuk juara harapan satu diraih SMK N 2 Singaraja, harapan dua diraih SMK Nusa Dua Gerokgak, dan harapan tiga diraih SMA N 4 Singaraja. Masing – masing juara harapan memperoleh uang sebesar satu setengah juta rupiah.|Rilis Humas Buleleng|

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here