Nikmatnya Jukut Kakul, Kenyal, Bergizi dan Berkhasiat Meningkatkan Vitalitas

Jukut Kakul |Foto : Putu Nugraha Hardianta|

Singaraja, koranbuleleng.com| Masakan khas Bali yang satu ini memiliki kenikmatan yang tidak perlu diragukan lagi. Jukut Kakul (keong), pastinya ini tidak asing lagi bagi siapapun. Kuliner yang satu ini juga menawarkan cita rasa khas yang tak kalah serunya diantara menu masakan khas Bali lainnya.

Kakul sebutannya memiliki rasa yang enak, gurih dan berkhasiat. Utamanya jenis kakul gondang yang memiliki warna cangkang hijau pekat sampai hitam. Umumnya kakul diolah dijadikan sate dengan bumbu kacang, namun rasanya akan lebih nikmat jika diolah menjadi gulai.

“Setahu saya, kakul berkhasiat¬†meningkatkan vitalitas dan stamina laki-laki, serta dapat mengobati penyakit liver. Kakul gondang memiliki ukuran lebih kecil dari kakul emas, beratnya pun jauh berbeda, yang dimasak biasanya adalah kakul gondang tersebut. Cangkang kakul gondang berwarna hijau pekat sampai hitam, jika sudah dimasak rasanya lebih kenyal. Kebanyakan masyarakat mengolahnya menjadi sate, padahal jika diolah dijadikan gulai malah lebih nikmat dan cara pembuatannya lebih praktis. Saya lebih sering mengolahnya dijadikan gulai, kakul tinggal cuci bersih dan dimasak utuh bersama cangkangnya, bumbunya pun tak serumit membuat sate, gulai cukup diberi bumbu rempah-rempah khas Nusantara dengan dominan penggunaan garam,” ungkap seorang pecinta Jukut Kakul, Ketut WInata.

Sebagai masakan khas Bali, Jukut kakul ini juga sangat identik dan erat hubungannya dengan tradisi agrarais di wilayah-wilayah pedesaan di Bali.

Ketut Winata mengatakan, keong menjadi musuh utama para petani padi, hal itu disebabkan hewan yang satu ini kerap mengganggu tanaman sawah termasuk merusak padi. Hal ini sudah tentunya mengganggu produksi pertanian masyarakat.

Namun masyarakat di Bulelengmempunyai cara terseniri untuk memberantas keong ini supaya tidak merugikan atau mematikan tanaman padi dan habitat lainnya.

“Keong kerap merusak tanaman padi kami, sehingga menjadi musuh utama bagi para petani, selain itu hama yang satu ini proses perkembangbiakan dan penyebarannya pun tergolong sangat cepat, sehingga untuk mengendalikannya para petani harus menempuh berbagai cara mengatasi penyebaran hama keong ini, dimulai dari pemungutan keong dan penghancuran telurnya, penggunaan bebek untuk memakan keong muda, sampai penggunaan pestisida. Jika dibiarkan, para petani bisa merugi” ujarnya. |NH|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here