Arkeolog Menduga Goa di Suwug Peninggalan Jepang

Arkeolog dari Balai Arkeolog Denpasar meneliti awal keberadaan goa di Desa Suwug yang baru ditemukan beberapa waktu lalu oleh masyarakat setempat |Foto : Putu Nugraha Hardianta|

Singaraja, koranbuleleng.com | Tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Denpasar akhirnya mendatangi lokasi penemuan gua misterius di sebelah selatan kawasan suci Pura Lebah, Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Buleleng. Tim Balar Denpasar yang dipimpin Nyoman Sunarya bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Buleleng Nyoman Sutrisna.

Mereka diterima Kelian Desa Pakraman Suwug I Wayan Nawa dan Perbekel Suwug I Wayan Antara kemudian langsung melakukan survey di sekitar lokasi yang sebelumnya telah dipasangi police line, Kamis, 10 Nopember 2016.  Menurut Peneliti Nyoman Sunarya, dari pengamatan sepintas di lokasi, mulut dan dinding gua berdasarkan jenis batuannya menunjukan tanda-tanda sebagai bekas hunian di masa lalu. Bentuknya menyerupai kubu pertahanan jaman penjajahan Jepang. Meski demikian pihaknya belum bisa memastikan sebelum ada penelitian lebih lanjut yang bakal dilaksanakan Balar Denpasar.

“Gua ini buatan manusia, artinya hasil peradaban manusia, sengaja dibuat oleh manusia. Tadi saya sempat tanyakan ke pak klian, apakah ada versi cerita masyarakat tentang gua-gua ini, namun tidak ada yang mengetahui. Kecurigaan dari segi bentuk seperti gua jaman Jepang, modelnya hampir sama seperti ini, dan banyak dijumpai model seperti ini di daerah Denpasar, Badung, Gianyar bahkan sampai NTB dan NTT pun ada. Namun untuk memastikannya harus ada penelitian yang lebih mendalam terkait ini,” ujar Sunarya.

Ia juga menjelaskan, memang ada sejumlah perbedaan yang sangat mencolok antara temuan gua di lokasi dengan peninggalan gua arkeologis di sekitar DAS Pakerisan dan Petanu, Kabupaten Gianyar. Terkait fungsi dan kegunaannya dirinya tidak menampik nantinya terdapat perubahan atas pengamatan yang dilakukannya hari ini.

Jika dilihat materi jenis batuan dan segi bentuk dihubungkan dengan ritual sangat kecil. Jarak kedalaman gua jika digunakan untuk bersemedi ataupun yoga tidak terlalu dalam.

“Bisa kita bandingkan perbedaannya gua di lokasi ini dengan situs peninggalan arkeologis di DAS Pakerisan dan Petanu, Kabupaten Gianyar, tentunya sangat berbeda bentuknya. Berdasarkan itu saya berasumsi bahwa tidak mungkin gua ini digunakan sebagai tempat bertapa atau semedi, bentuk didalamnya juga tidak terlalu rumit, hanya sebagai pertahanan diri,” ungkapnya.

Menurut rencana, Balar Denpasar selanjutnya akan mengundang kembali ahli kolonial dari Balar Denpasar untuk lebih mengetahui kegunaan dan fungsi secara mendalam terkait temuan gua misterius di Pura Lebah.

Usai mendapatkan penjelasan tersebut, didampingi sejumlah tokoh masyarakat serta pengempon Pura Lebah, Klian Desa Pakraman Desa Suwug, Wayan Nawa menyampaikan untuk sementara akan tetap melakukan penutupan aktifitas di lokasi penemuan gua misterius sambil menunggu tim ahli kolonial yang akan melaksanakan riset penelitian untuk mengungkap rahasia dan sejarah keberadaan gua tersebut.

Namun diakuinya sejarah keberadaan gua itu masih “gelap” diantara kehidapn masyarakat setempat. Selama ini tidak paernah ada legenda atau mitos apapun terkait Goa misterius ini di Desa Suwug. Sebelum ditemukan  tidak ada warga yang tahu ada gua di sana. Bahkan, warga sekitar yang terbilang cukup sepuh pun tidak tahu sejarah keberadaan gua.

Namun paska goa misterius ini ditemukan, justru sempat memunculkan beragam rumor di masyarakat, bahkan ada warga setempat yang menduga tersimpan peninggalan berupa sebuah benda bertuah di lokasi tersebut.

“Ya rumor banyak,  saya dengar di masyarakat katanya sih ada semacam benda bertuah berupa keris. Tapi, itu kan hanya cerita dan belum terbukti. Tetapi sebelum in iditemukan menjadi sebuah goa, dulu memang terlihat  lubang kecil, warga justru dulu menduga sebagai sarang hewan landak. Jangankan bapak, orang paling tua di sini saja tidak ada yang tahu sejarah gua itu. Warga juga baru tahu sekarang ternyata ada gua di sini,” kata Nawa.

Sementara itu, Kadisbudpar Buleleng, Nyoman Sutrisna mengharapkan Balar Denpasar dapat sesegera mengungkap situs keberadaan gua di Desa Suwug.

Saat ini, Disbudpar Buleleng berencana untuk mengusulkan goa tersebut sebagai sebuah cagar budaya, mengingat usianya yang diperkirakan sudah di atas 50 tahun.

“Tentu kami ssangat berharap secepatnya ada tim arkeologi yang melakukan penelitian untuk mengungkap sejarah situs gua di Desa Suwug ini. Jika identitas dari goa ini bisa ditelusuri, sudah barang tentu kami akan usulkan Goa ini sebagai salah satu cagar budaya,” pungkasnya |NH|