Ketika Bung Di Ende, Bukan Sekedar Sejarah Tapi Duplikat Keragaman Indonesia

Salah satu adegan Sukarno dan seorang Pastor di atas Danau Kelimutu . Merkea berkomunikasi tentang keragaman keyakinan dan budaya Indonesia

Singaraja, koranbuleleng.com | Labu..labu…labuuu…, Seorang penjual labu mondar-mandir beberapa kali di depan rumah pengasingan Sukarno di Ende, Nusa Tenggara Timur. Sampai beberapa kali bolak balik, sejumlah aparat Pemerintah Kolonial Belanda yang selalu menjaga rumah pengasingan Sukarno, menampar si tukang labu ini. Gerak-gerak Sukarnomemang selalu diawasi oleh Belanda selama pengasingan.

Ibu Inggit Garnasih, istri Sukarno yang akhirnya tersadar, kenapa sampai si tukang labu ini bolak-balik, mondar-mandir di depan rumahnya. Inggit akhirnya membeli labu dan meminta bantuan kepada pembantunya yang setia untuk membuka labu tersebut. Di dalam labu, ternyata terdapat sebuah surat dari Bandung, dari seorang kawan seperjuangan Sukarno.

Itu bagian kecil dari adegan yang ada di dalam film sejarah berjudul Ketika Bung di Ende. Masyarakat menjadi tahu, seperti itu kesulitan Sukarno dipengasingan, dijauhkan dari teman-teman seperjuanganya, dan berkomunikasi dengan cara yang sangat rahasia supaya tidak diketahui oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Film ini diputar secara gratis di Taman Kota Singaraja Selasa 15 nopember 2016. Sebelumnya juga menjalani road show pemutaran ke sejumlah kecamatan di Buleleng. Pemuteran film ini digelar oleh Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, RI ke sejumlah wilayah di nusantara, termasuk di Buleleng.

Banyah hal yang bisa dipetik dari film yang berdurasi kurang lebih dua jam. Walaupun sebenarnya banyak yang kurang puas dengan pemeran Sukarno yakni Baim Wong. Peran Baim Wong dinilai kurang berwibawa sebagai seorang Sukarno muda.

Namun jika memetik sejarah perjalanan Indonesia dari Sukarno, banyak hal yang menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Sukarno walaupun dibuang ke Ende, tetapi Dia tetap berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan mengedepankan aset budaya lokal.

Di Ende, Sukarno sempat membangunkan kepasrahan warga Ende dengan membangun komunitas-komunitas lokal mulai dari pedagang, nelayan dan petani untuk membangun daerahnya supaya lebih maju. Sukarno memadupadankan paham marxisme (ala Sukarno) dan marhaenisme. Dari padupadan paham itu, lahir pandangan azas musyawarah dan keadilan sosial. Menurut Sukarno dalam film ini, paham marxisme ala dirinya adalah paham yang selalu menggemakan suara Tuhan.

Di dalam film ini, seluruh aktifitas warga dari berbagai latar belakang itu direkam dengan setting alam yang sangat menakjubkan yang dimiliki oleh Ende. Begitu indah! Garis pantai, danau , suasana keakraban antar penduduk, terlihat lengkap dipamerkan dalam film ini. Masyarakat yang menonton menjadi tahu, inilah Indonesia yang sesungguhnya.

Di Ende, Sukarno tidak hanya menghidupkan komunitas lokal dengan ragam aktifitas pekerjaan warga setempat, namun juga memompa semangat masyarakat Ende untuk terus bergerak dengan cara berkesenian.

Dia selalu didukung penuh oleh Inggit. Di Ende, Sukarno pernah menulis naskah teater, yakni “Rahasia Kelimoetoe” serta “Indonesia 1945”.  Warga setempat juga banyak yang tidak bisa membaca menjadi kendala Bagi Sukarno untuk melatih warga bermain teater.

Naskah “Rahasia Kelimoetoe” adalah naskah untuk membangunkan kesadaran masyarakat setempat untuk berjuang dan membangun daerahnya yang penuh dengan berkah alam. Suakrno menyadarkan masyarakat supaya tidak terlalu percaya dengan tahayul seperti jin, setan dan sejenisnya karena itu tidak akan membuat maju. Sementara Naskah “Indonesia 1945” adalah cita-cita tentang Kemerdekaan Indonesia.

Rencana pementasan “Rahasia Kelimoetoe” yang dimainkan oleh masyarakat Ende sempat mendapat penolakan dari Pemerintah Kolonial Belanda karena ditakutkan akan menjadi propaganda kemerdekaan.

Sukarno sempat berdebat dengan pejabat kolonial Belanda dan dia siap untuk ditagngkap akan hal itu. Namun, seorang pastor membela Sukarno dan mengijinkan untuk mementaskan naskah tersebut. Dari adegan itu terlihat bahwa gereja sebenarnya sangat bertentangan dengan keberadaan pemerintah kolonial Belanda. Banyak yang mendukung cita-cita Sukarno untuk membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.

Dalam pemuteran film ini, perwakilan dari Kemendikbud, Prima Duria Nirmalawati mengatakan pemuteran film ini ke sejumlah daerah di seluruh wilayah di Indonesia supaya masyarakat bisa terpancing untuk mencintai film-film Indonesia. Bukan sekedar mencintai, tapi masyarakat juga paham akan sejarah, budaya yang dimiliki oleh Indonesia yang sangat beragam.

“Kita harus bangga, dengan film ini kita menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia itu mempunya sejarah panjang yang luar biasa, punya tokoh-tokoh besar yang mempersatukan Indonesia. Punya budaya yang beragam. Melalui film-film Indonesia yang berkualitas seperti ini, kita bisa mencintai Indonesia.” terang Prima Duria. |NP|