Anak Didik MKG Pamer Karya Kreatif

Kadisdik Gede Suyasa bersama owner PKBM Maha Karya Gangga Dewa Ketut Puspaka melihat pameran karya kreatif anak-anak lembaga pendidikan setempat |Foto : Rika Mahardika|

Singaraja, koranbuleleng.com | Puluhan anak-anak didik dari PKBM Maha Karya Gangga memamerkan sejumlah hasil karyanya selama menjalani kegiatan belajar selama satu tahun, Minggu 10 Desember 2016. Bukan hanya pameran karya pendidikan, pusat kegiatan belajar masyarakat ini juga menggelar pentas seni yang menampilkan kreatifitas anak-anak setempat serta bazaar.

Melalui pameran tersebut, masing-masing siswa juga menjelaskan hasil karya yang telah dibuat, termasuk menjelaskan proses pembuatan karyanya tersebut. Menariknya, hasil karya dari siswa tersebut juga dilelang oleh orang tua siswa bersangkutan.

Sejumlah hasil kerajinan yang diciptakan oleh siswa setempat dipamerkan dan dikunjungi langsung Kepala Dinas Pendidikan Buleleng Gede Suyasa didampingi Owner Maha Karya Gangga Dewa Ketut Puspaka, serta seluruh orang tua siswa.

Anak-anak didik di lembaga ini memang setiap harinya juga selalu didekatkan dengan alam. Mereka juga diajarkan untuk bercocok tanam di kebun halaman sekolah sehingga mereka tahu tentang alam, tanaman dan sejenisnya. Beberapa tanaman yang ditanam oleh anak-anak didik di lembaga ini juga dipamerkan dan lengkap berisi nama pemiliknya.

Selama ini, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Maha Karya Gangga dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mendidik dengan hati. Pola pendidikan di lembaga ini mengenal istilah sistem pendidikan oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi, bakat serta minat warga masyarakat yang bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan program bagi warga belajar, dengan menggali dan memanfaatkan potensi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang ada di lingkungannya.

Dengan sistem pendidikan tersebut, Maha Karya Gangga yang berlokasi di Desa Baktiseraga Kecamatan Buleleng itu berjalan dengan kurikulum dinamis. Kurikulum yang diterapkan mengambil dari permasalahan yang ada disekitar untuk dijadikan kurikulum.

“Sejumlah persoalan yang sedang terjadi di masyarakat kita jadikan bahan pembelajaran untuk siswa. Seperti misalnya pelajaran seksual. Sering menjadi kontrofersi karena berkaitan dengan pornograpi. Tapi dalam pembelajaran yang diberikan, kami memberitahukan kepada siswa yang sifatnya pribadi. Artinya mana yang seharusnya boleh disentuh oleh orang tua, atau mana yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Jadi mereka bisa mengetahui sejak dini,” jelas Kepala Sekolah Maha Karya Gangga Dewa Gede Rhadea Prana Prabawa.

Menurut pria yang akrab disapa Dewa Rhadea ini, pola pendidikan yang diterapkan di Maha Karya Gangga selalu mengedepankan life skill atau karakter.  “karena setiap anak memiliki kecerdasan, hanya saja kecerdasan mereka itu berbeda. Nah kecerdasan itu yang akan kami asah dan kembangkan, sehingga karakter mereka itu terbentuk sejak usia dini,” Imbuhnya.

Sementara itu praktisi dan pemerhati pendidikan anak Edy Wiyono menjelaskan, konsep pendidikan di Maha Karya Gangga jelas berbeda dengan konsep pendidikan yang diberikan pada lembaga pendidikan Formal. Salah satu konsep yang diterapkan yakni tidak ada perbedaan prestasi yang diraih anak didik yang menimba ilmu di Maha Karya Gangga. Pria yang lebih dikenal dengan Ayah Edy ini mengatakan, dengan konsep tersebut, artinya tidak boleh ada siswa yang gagal karena semua merupakan juara.

“Dengan konsep seperti itu, keberhasilan anak didik menjadi tanggung jawab guru disekolah dan juga orang tua. Disinilah letak perbedaannya, karena kami mengajak orang tua siswa untuk bisa bekerja sama untuk mengembangkan prestasi siswa,” jelasnya.

Menurut Ayah Edy, dari hasil pendidikan dan pengembangan minat yang dilakukan, out put nya siswa dan orang tua akan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam kehidupan nyata, terutama setelah mereka keluar dari sekolah.

“Kita disini tidak mengajarkan, namun lebih kepada mengamati minat dari siswa tersebut. Nantinya para guru disini akan mengambil kesimpulan untuk disampaikan kepada orang tuanya masing masing. Ini lo minatnya, ini lo bakat anaknya. Nah orang tuanya akan lebih mudah untuk mengarahkan setelah mengetahui bakat yang dimiliki,” ujarnya.

Sementara itu, sistem dan juga konsep pendidikan yang diterapkan Maha Karya Gangga mendapat Apresiasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng. Kadisdik Buleleng Gede Suyasa mengatakan, kegiatan proses pembelajaran dan pendekatan yang dilakukan bisa lebih inovatip, sehingga bisa membangkitkan minat belajar siswa sejak dini.

“Maha Karya Gangga sudah mulai mempolakan hal itu, lebih kepada menghasilkan sesuatu, dan menguatkan karakternya. Artinya, siswa lain memiliki potensi dan peluang yang sama, hanya tinggal bagaimana media dan ruang serta proses pembalajaran yang diberikan sekolah masing masing,” ungkapnya. |RM|