Suwug Setia Dengan Tradisi Nawur Penempuh

Warga Desa Suwug menuju Pura untuk melaksanakan tradisi Nawur Penempuh |Foto : Desa Suwug|

Singaraja, koranbuleleng.com | Desa Suwug, Kecamatan Sawan menyimpan kearifan lokal yang sangat beragam. Salah satu bentuk keragaman kebudayaan dan tradisi di kalangan masyarakat setempat yakni upacara Nawur Penempuh yang digelar bertepatan saat Purnama sasih Kanem, seperti yang dilakukan beberapa hari lalu, Selasa 13 Desember 2016.

Tradisi yang diwarisi secara turun-temurun sangat dipercaya membawa kemakmuran serta kesejahteraan khususnya bagi pria yang menikahi wanita asli Desa Suwug. Rangkaian upacaranya sendiri rutin digelar setiap tahun dengan melibatkan puluhan pasangan pengantin dan juga diikuti seluruh lapisan masyarakat desa adat suwug.

Menurut keterangan Klian Desa Pakraman Suwug, I Wayan Nawa terdapat tiga tahapan prosesi upacara persembahan yang wajib diikuti oleh krama desa adat di tiga Pura secara berturut-turut, yakni prosesi upacara di Pura Lebah, kemudian di Pura Agung Menasa dan puncak acara berakhir pada prosesi upacara Nawur Penempuh yang dilaksanakan di Pura Desa setempat.

“Tradisi Nawur Penempuh sendiri tidak tertulis dalam catatan awig-awig desa adat suwug, namun lebih mengikat pada sebuah kewajiban. Upacaranya dilakukan setahun sekali,” ucap Nawa.

Tradisi upacara Nawur Penempuh ini dilakukan oleh pihak keluarga besar pengantin pria dan juga diikuti keluarga dari wanita asal desa suwug (purusa dan pradana) ketika mereka sudah memiliki kehidupan yang mapan. Persembahan yang dihaturkan pun disesuaikan dengan tingkat kemampuan ekonomi. Tujuan dari prosesi upacara itu sendiri adalah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada sang pencipta atas limpahan berkah dan rezeki selama mengarungi bahtera rumah tangga. Biasanya pihak keluarga pengantin pria memberikan atos berupa hewan babi jantan sebagai persembahan.

Selain itu ciri khas purusa dan pradana saat berlangsungnya prosesi upacara yang digunakan yakni bantal alem. Sedangkan kebutuhan sarana dan prasarana banten pelengkap lainnya disesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Pada saat itu, pihak keluarga juga menghaturkan berbagai ragam tarian seperti  Tari Pendet, Baris Tumbak. Kemudian pada akhir prosesi dilakukan upacara pegat seet. 

“Babinya sebagai atos, kemudian desa mengelola sebagai aci. Lawarnya dinikmati bersama, tulang dari hewan ini di kembalikan sebagai bangun urip, sebagai ayaban sang maturan penempuh, setelah menjadi lungsuran di kelem ke desa kembali. Sekarang kami batasi pesertanya. Per tahun sebanyak 20-25 saja, dari satu keluarga yang ikut bisa mencapai ratusan orang jika dikalikan 25 keluarga itu mencapai ribuan, belum lagi jumlah krama wajib turunan yang berjumlah 1.170 KK,” ungkapnya.

Warga sangat menghormati dan menghaturkan puji syukur kepada leluhur atas keberhasilan yang mereka capai selama hidupnya. Namun ada juga warga yang menghaturkan dan mengikuti tradisi ini karen apemicu lain, seperti kehidupannya yang tidak tenteram karena sakit hingga akhirnya meninggal.

“Kemudian dari keturunan mereka menanyakan penyebabnya kepada orang pintar.Mereka mengetahui bahwa mereka lupa akan asal-usul serta kewajibannya sebagai umat Hindu. Jadi Nawur Penempuh itu keyakinan, bukan kewajiban apalagi keharusan. Tradisi yang diberikan leluhur kami secara turun temurun dan tidak tertulis. Kewajiban krama sebagai umat Hindu bukan kewajiban sebagai warga. Jadi jangan takut jika ingin menikahi gadis dari suwug,” pungkasnya. |NH|