Tapel Rangda Dipralina

Sebuah Tapel Rangda di pralina oleh pemiliknya di Setra Desa Pekraman Bungkulan |Foto : Istimea|

Singaraja, koranbuleleng | Beberapa hari terakhir, di sebuah grup media sosial dihebohkan dengan peristiwa langka, yakni pralina sebuah tapel atau topeng Rangda. Tapel Rangda ini milik (alm) Jero Gede Mangku Putu Redita di pralina bersamaan dengan upacara pelebonan mendiang Nyoman Sumenada (53). Proses upacara pelebonan diadakan pada Sabtu, 24 Desember 2016 di setra Desa Pakraman Bungkulan, Kecamatan Sawan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun koranbuleleng.com, rangda yang sangat disakralkan pemiliknya tersebut sebelum dipralina, sehari-hari tersimpan di salah satu ruangan khusus di rumah (alm) Putu Redita.

Desak Putu Wisadi (48), istri mendiang Putu Redita ketika ditemui di rumahnya mengatakan tidak mengetahui secara pasti tentang asal usul keberadaan rangda itu. Sepengetahuan dirinya benda-benda itu ada karena suaminya senang dengan hal-hal gaib.

Sepeninggal suaminya pada bulan September 2016 lalu, rangda yang memiliki nama Mangku Poleng itu pun masih tersimpan rapi dirumah sebelum akhirnya ikut dibakar pada sabtu sore kemarin.

Ia pun tak menepis bahwa suaminya sering mengobati jika ada warga yang sakit. Namun cara pengobatannya selalu memakai sarana upacara lengkap dan itu dilakukan di Pura Prajapati setempat.

“Kalau ada yang berobat, biasanya tunasang tirta di Pura Prajepati karena mendiang dulunya jadi juru sapuh. Ten nike dados balian. Sekarang rangda itu sudah dipralina, sudah tidak ada apa-apa lagi,” ujarnya.

Sementara itu Made Sukadana (50) mewakili pihak keluarga besar mengatakan bahwa rangda Mangku Poleng dibeli dari salah satu pengerajin di Gianyar. Berdasarkan keyakinan dan kepercayaan umat Hindu, pihak keluarga kemudian mengadakan acara metuunang setelah dua hari meninggalnya Nyoman Sumenada.

Prosesi metuunang atau nunas rawos itu sendiri dilakukan tepat dihadapan jasad mendiang Nyoman Sukadana di rumah duka. Menghadirkan seorang balian yang beralamat di Pulau Nila, Kelurahan Penarukan.

Dari hasil nunas rawos itu, konon diduga kematian Nyoman Sumenada secara tiba-tiba tersebut disebabkan adanya hubungan mistis dengan rangda Mangku Poleng milik almarhum Jero Gede Mangku Putu Redita.

“Mendiang Nyoman Sumenada dan Jero Mangku Gede Putu Redita itu kakak beradik. Saat metuunang dikatakan kematian almarhum Sumenada disebabkan oleh roh halus. Entah roh halus rangda, kami tidak tahu. Tidak terucap saat ritual itu,” ujar Sukadana.

Terlepas dari sisi mistis, Sukadana mengungkapkan bahwa mendiang Sumenada juga sebelumnya memiliki riwayat penyakit jantung dan begitu pula dengan mendiang adiknya, Jero Mangku Gede Putu Redita yang juga mengidap penyakit gagal ginjal.

Selanjutnya atas saran balian dan rembug bersama dengan pemangku Prajepati Desa Pakraman Bungkulan, Mangku Ketut Ardha disarankan agar pihak keluarga kemudian melakukan pralina terhadap benda dengan wujud rangda bersamaan dengan upacara pelebonan Nyoman Sumenada.

“Cerita aslinya seperti itu, dari sisi medis keduanya sejak lama mengidap penyakit jantung dan gagal ginjal. Namun karena kami sebagai umat Hindu, percaya dan meyakini ritual metuunang. Mencari balian dan keterangannya seperti itu. Mangku prajepati juga menyampaikan saran yang sama, sebaiknya rangda digeseng atau dibakar. Sedangkan patung berwujud Ganesha cukup dilebar di segara. Tentu semua pakai banten lengkap, pake suci juga daksina,” terang Made Sukadana.

Sementara itu Klian Desa Pakraman Bungkulan, Made Mahawerdi saat dikonfirmasi terkait pralina rangda mangku poleng mengatakan keberadaan rangda milik Putu Redita tersebut bersifat pribadi dan tidak tercatat sebagai tapakan Pura Prajepati desa Pakraman Bungkulan.

“Sejak dulu tiang dengar almarhum memiliki rangda. Namun rangda itu tidak ada keterkaitan dengan Pura Prajepati Desa Pakraman Bungkulan. Masyarakat Bungkulan hampir semua tahu tentang hal tersebut,” ujar Mahawerdi singkat.

Rangda memiliki Taksu Penangkal Ancaman Mistis

Peristiwa unik itu pun kemudian mendapat perhatian dari berbagai kalangan, salah satunya Nyoman Suma Argawa. Salah seorang penggiat seni topeng di Buleleng.

Berbagai karya topeng yang dihasilkannya banyak diminati para kolektor lokal ataupun mancanegara. Puluhan mungkin hingga ratusan karya monumental berupa barong, rangda dan topeng yang disakralkan warga berhasil dirampungkannya. Salah satunya seperti tapakan rangda sesuhunan Pura Sari Abangan, Desa Pakraman Bungkulan.

Seniman topeng Nyoman Suma Argawa |Foto : Istimewa|

Menurut Suma Argawa, tantangan bagi orang atau komunitas yang memiliki rangda sangat berat. Biasanya rangda tidak disimpan di rumah melainkan harus distanakan di Pura Besar.

“Sebenarnya petapakan rangda memiliki fungsi sebagai penangkal ancaman niskala-mistik. Agar bertaksu harus melalui proses sakralisasi. Rangda itu kan penyeimbang kehidupan, ada sisi hitam dan putih. Namun kalau oknumnya salah memanfaatkan jadinya ngiwa dan itu bisa berakibat buruk. Sangat menyimpang dari ajaran agama Hindu,” pungkasnya.

Ia memandang petapakan rangda adalah topeng dalam wujud sosok makhluk magis yang meyeramkan. Pemilihan bahan kayunya pun tidak sembarangan. Berasal dari kayu tertentu, kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi simbol unsur niskala dan dijuluki Ida Betara Rangda.

Beberapa fenomena-fenomena gaib dialaminya ketika memulai perbaikan tapakan rangda Pura Sari Abangan yang telah berumur hampir dua setengah abad. Sebelumnya tapakan rangda memiliki kondisi sangat memprihatinkan. Mengalami kerusakan di berbagai, matanya borok, taringnya juga hilang. Namun perlahan tapakan rangda itu pun berhasil diperbaiki dalam kurun waktu enam bulan.

Kemudian ia pun berniat menyimpan tapakan rangda tersebut di rumah pribadinya. Pasalnya, jika tapakan rangda itu dikembalikan dirinya merasa khawatir benda sakral tersebut kembali mengalami kerusakan.

Ia pun kemudian mengurungkan niat tersebut setelah dirundung berbagai peristiwa aneh. Mulai dari suara lolongan anjing santer terdengar di malam soma kliwon. Hingga mendapatkan cucunya tengah tertidur lelap tepat dibawah petapakan rangda Pura Sari Abangan.

“Kejadiannya luar biasa. Tapakan rangda itu bertaksu, belum selesai ngatep bok tapakan rangda itu sudah mengeluarkan bunyi seperti derap langkah manusia. Setelah rampung diperbaiki, cucu saya seperti kedaut. Agar tak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan saya putuskan mengembalikan tapakan itu ke tempat asalnya di Pura Sari Abangan,” ucap Suma Argawa.

Petapakan Ida Betara Rangda diyakini oleh umat Hindu karena bisa mengusir gerubug. Selain itu, keberadaan Ida Betara Rangda juga memberikan rasa tenang, aman dan tentram untuk masyarakat.

Tapel rangda yang sudah di pasupati memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Tapel itu telah memiliki roh melalui proses bayu urip, sabda urip, dan idep urip yang kemudian dikenal dengan taksu.

Tapel rangda yang sudah dipasupati dipentaskan di Pura atau tempat lain biasanya dilakukan pada pukul 24.00 wita.

“Sebelumnya mohon keselamatan sebelum dipentaskan. Ngatep dulu antara tapel dan rambut setelah itu tapel langsung berjiwa karena roh sudah menyatu dengan karakter penari. Seperti yang pernah dipentaskan di gedung Sasana Budaya, pertunjukannya sangat menegangkan” ungkapnya. |NH|

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here