Janda Miskin Bertahan Hidup Dengan Jual Porosan

Ketut Tari, seorang janda miskin yang kini hidup sendiri harus berahan hodup dengan menjual porosan. Anaknya bekerja ke luar desa sehingga dia harus tinggal di gubuknya sendirian |foto : Nugraha Hardiyanta|

Singaraja, koranbuleleng.com | Ni Ketut Tari (71), perempuan lansia menjalani kehidupan penuh keprihatinan. Selama puluhan tahun harus tinggal seorang diri di gubuk yang terletak di tengah perkebunan miliknya. Janda tua ini adalah warga banjar dinas Bengkel, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Gubuk berukuran 2 x 3 meter yang ditempatinya itu terbuat dari bata mentah dan nyaris tanpa ventilasi udara. Di dalamnya hanya ada terpal terbentang diatas lantai beralaskan tanah. Tidak ada tempat tidur, kasur ataupun bantal. Biasanya diatas terpal itulah dirinya tidur untuk melindungi tubuh rentanya ditemani seekor kucing lusuh peliharaannya.

Dinding gubuk sudah banyak rapuh dan retak, bahkan sudah bolong. Agar tak nampak bolong dari luar, dinding itu kemudian ditutupi dengan kertas semen bekas. Dua kayu penyangga rumahnya pun sudah dimakan rayap hingga harus ditopang dengan kayu gamal.

Untuk penerangan, Ketut Tari hanya menggunakan lampu teplok. Sedangkan untuk buang air besar dia memanfaatkan saluran irigasi subak yang mengalir di dekat gubuknya. Saluran air subak itu juga dia manfaatkan untuk mandi, memasak dan mencuci. Meskipun kadang-kadang keruh karena hujan turun.

“Dulu saya tinggal berempat di gubuk ini bersama anak laki-laki serta dua cucu saya. Namanya Ketut Sumayasa (26). Tapi sejak setahun lalu anak saya dengan istrinya merantau dan tinggal di mess tempatnya bekerja. Kerja buruh bangunan,” tuturnya lirih saat ditemui koranbuleleng.com, Minggu, 15 Januari 2017.

Lebih miris lagi, dia mengidap penyakit katarak dan hampir setengah bola matanya sudah tertutup bintik putih hingga dia tak mampu melihat dengan jelas ketika dikunjungi di rumahnya. Di lengan tangan kanannya terlihat bengkok. Menurutnya lengan kanannya tersebut patah tulang dan selama ini hanya diobati secara tradisional dengan cara dipijat.

Demi bertahan hidup, Ketut Tari yang kini hidup sendiri setiap harinya membuat Porosan (sarana upacara umat Hindu). Setiap minggu, porosan buatannya dijual kepada penjual banten. Penghasilannya dari hasil penjualan porosan itu paling banyak hanya Rp 15 ribu.

“Sering ke rumah pak kadus Gede Ardana minta bantuan uang, saya juga minta agar bisa dibangunkan rumah seadanya saja. Rumah biar tidak bocor saat hujan.  Tapi katanya sudah diajukan dan saya diminta untuk sabar menunggu,” tuturnya. Ketut Tari pun kini hanya bisa pasrah dengan takdir hidup yang dijalaninya.

Sementara itu, Kepala Dusun Bengkel, Gede Ardana ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa warganya itu termasuk salah satu warga kurang mampu dan sudah tercatat memperoleh jatah program bedah rumah. Namun dikarenakan data penduduk kurang mampu yang diajukan cukup banyak, mereka harus antri untuk memperoleh jatah peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut.

“Raskin tiap bulan tetap kami berikan karena dia memang layak menerimanya, dan juga sudah diajukan dalam program bedah rumah tapi sampai saat ini belum terealisasi,” tutup Arnawa.|NH|