Rekonstruksi Janger Menyali Dipersembahkan Untuk PKB

Dinas Kebudayaan Buleleng menggelar diskusi untuk persiapan Pesta Kesenian Bali untuk Kabupaten Buleleng dan Bali |Foto : Rika Mahardika|

Singaraja, koranbuleleng.com | Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng kembali merekonstruksi sebuah kesenian kuno. Kesenian yang direkonstruksi tahun ini yakni Janger Menyali, asal Desa Menyali, Kecamatan Sawan, yang konon merupakan cikal bakal kesenian janger saat ini. Gerakan tari Janger Menyali sangat berbeda dengan janger yang sering terlihat dipentaskan di era sekarang.

Ambisi Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng untuk membangkitkan kembali kesenian Janger Menyali supaya identitas masa lalu Buleleng bisa dikembalikan dengan baik. Ini berguna bagi generasi di masa mendatang.

Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng, Wayan Sujana mengatakan Janger Menyali adalah salah satu kesenian khas Buleleng yang diperkirakan sebagai asal mula Janger yang ada di Bali saat ini.  Beberapa kali kesempatan, Dinas Kebudayaan sudah melakukan pendekatan dengan sejumlah tokoh untuk merekonstruksi serta mencari referensi mengenai gerakan-gerakan Janger Menyali.

“Kami sudah sempat berkomunikasi dengan beberapa tokoh di desa setempat maupun dengan para seniman untuk mencari referensi terkait dengan Janger menyali ini. Tampaknya, dari sisi gerakan sangat berbeda dengan tarian janger masa kini, dan ini sedang kita dalami lagi untuk kepentingan rekonstruksi ini,” ujar Sujana.

Menurut Sujana, Pemerintah Kabupaten Buleleng memang menargetkan sejumlah tarian khas Buleleng untuk di reksontruksi kembali. Salah satu tari yang sudah di rekonstruksi yakni Tari Legong Tombol. Sementara untuk tahun ini, Rekonstruksi Janger Menyali akan dipersembahkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 2017.

“Tiap tahun selalu ada seni rekonstruksi. Kalau tahun lalu kami tampilkan Legong Tombol, tahun ini kami tampilkan seni rekonstruksi Janger Menyali. Ini yang kami utamakan dan kami tampilkan pada PKB tahun ini,” ujar Wayan Sujana.

Sementara itu salah seorang seniman asal Menyali, Luh Sri Susanti mengatakan banyak perbedaan antara Janger Menyali dengan Janger masa kini, mulai dari pakaian, gerakan, bahkan sampai gending atau lagunya.

Gending dalam Janger Menyali selalu terkait dengan pemujaan dewa-dewa. Selain itu bahasanya juga menggunakan Bahasa Indonesia, tapi ejaan lama. Bahasa Balinya juga bahasa Bali lama,” ujar Susanti.

Susanti menyatakan dari sejumlah arsip Bali 1928, Janger Menyali sempat ditarikan oleh sejumlah penari di tahun 1930. Saat ini, ada beberapa generasi yang masih hidup dan masih ingat tentang Janger Menyali ini.

Akhirnya, Drama Gong Tidak Dilombakan

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXVIII tahun 2017 kembali akan berlangsung. Ajang pesta seni dan budaya tahunan ini terlaksana dengan tema Ulum Danu. Seperti tahun tahun sebelumnya, salah satu jenis kesenian yakni Drama Gong kembali akan dipentaskan dalam PKB Buleleng tahun 2017 ini.

Menariknya, Pementasan Kesenian Drama Gong dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2017 ini, tidak lagi dilombakan. Panitia PKB yakni dari Dinas Kebdayaan Provinsi Bali memutuskan untuk mementaskan Drama Gong secara parade. Kondisi ini tmerupakan buntut dari protes keras yang dilayangkan beberapa seniman Drama Gong dalam PKB tahun lalu.

Putu Satriya Kusuma seniman yang juga penulis naskah dari Sukreni Gadis Bali  untuk cerita Drama Gong yang dipentaskan Buleleng dalam PKB tahun lalu mengapresiasi langkah Disbud Bali untuk tidak lagi melombakan Drama Gong.

Menurutnya, masing masing daerah memiliki ciri khas untuk bisa ditampilkan dalam setiap perlombaan. Jika Drama gong dilombakan,ada sebuah unsur pemaksaan khususnya dalam hal pakem.

“Kalau memang harus lomba, kita samakan persepsi dulu soal drama gong. Biar tidak seperti tahun lalu, penilaian dewan juri yang justru merugikan peserta yang sudah total berkarya. Selain itu juga merugikan gaya drama gong Buleleng yang dipaksa sesuai dengan pakem drama gong Bali Selatan,” ujar Satria.

Sementara untuk tahun 2017 ini, Sangar Seni Nong Nong Kling ditunjuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng untuk menjadi duta Kabupaten Buleleng dalam pementasan Drama Gong. Penunjukan sangar seni yang berlokasi di Banyuning itu berlangsung dalam rapat koordinasi persiapan PKB oleh Dinas Kebudayaan Buleleng selasa, 17 Januari 2017 di Wantilan Sasana Budaya Singaraja.

Ketua Sanggar Seni Nong Nong Kling Nyoman Swardika menjelaskan, pihaknya akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan persiapan, termasuk memilih cerita yang akan ditampilkan dalam PKB mendatang. Terkait dengan konsep dan cerita pementasan, Pria yang akrab disapa Mang Epo ini mengaku akan mengeksplor cerita rakyat dari Kabupaten Buleleng.

Pria yang juga sebagai Dosen ini juga tidak terlalu mempermasalahkan untuk pementasan Drama Gong Tahun ini dengan system parade bukan dilombakan. Menurutnya, itu tidak akan mengurangi semangatnya untuk menampilkan yang terbaik bagi Kabupaten Buleleng.

“Tidak akan mengrangi semangat kami untuk tampil, karena disini kami tidak hanya membawa sanggar tapi membawa nama Kabupaten Buleleng. Tentunya dengan Parade ini, kami lebih bebas mengeksplor diri, dengan tetap membawa pakem Buleleng. Apakah itu dari sisi dekorasi, dari sisi pakaian, termasuk dari sisi Bahasa,” Terangnya.

Sementara itu Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Wayan Sujana menjelaskan, persiapan untuk PKB tahun 2017 sudah berlangsung sejak November tahun lalu. Saat ini, hanya dilakukan sosialisasi materi PKB serta penunjukkan Sanggar, Sekaa, dan juga kelompok seni sebagai Duta Kabupaten Buleleng. Dalam pelaksanaan PKB tahun 2017, Kabupaten Buleleng mengikuti seluruh kegiatan yakni sebanyak 21 materi yang digelar.

“Persiapannya sebenarnya sudah dari tahun lalu, untuk awal tahun ini juga kami akan mulai melakukan pembinaan lanjutan hingga bulan Juni mendatang. Kalau untuk anggaran, total yang disiapkan untuk PKB di Denpasar sebesar Rp 1,1 miliar. Angka itu mengalami kenaikan dari tahun lalu sebesar 10 persen,” Jelas Sujana.|RM|