Cerita Peradaban Durian dari Sudaji

Hasil pertanian durian dari Desa Sudaji |Foto : Nova Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com| Isi dari Durian jumbo yang disuguhkan Gede Sukra Suarnaya kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc dan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah,Anak Agung Puspayoga saat berkunjung ke lokasi pembibitannya di Desa Sinabun terlihat indah, membuat lidah terpancing untuk mencicipinya.

Isinya, benar-benar manis, rada empuk seperti roti yang sangat halus. Beberapa Durian jumbo yang disuguhkkan untuk kedua menteri bahkan dibagi-bagi oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana kepada awak wartawandan rombongan menteri.

Durian jumbo itu adalah buah dari pembibitan Durian asal desa sudaji, kecamatan Sawan. Gede Sukra Suarnaya adalah petani pembibit asal Desa Sudaji yang melebarkan sayap bisnis pembibitannya ke Desa Sinabun. Di sini, Dia mempunyai lahan pembibitan seluas dua hektar. Di desanya, Di Desa Sudaji juga punya lahan pembibitan.

Di Sudaji lah pembibitan durian ini lahir. Desa ini memang terkenal seantero jabat Bali sebagai kawasn pembibit durian kane. Tak banyak yang bisa menyangkal, karena setiap jengkal tanah pertanian di Desa Sudaji pasti ditemukan lokasi-lokasi pembibitan durian.

Di masa lalu, Sudaji bukanlah penghasil tanaman bibit durian. Justru, ribuan pembibitan durian yang ada saat ini di Sudaji itu justru asalnya dari daerah atau desa lain. Namun, petani di Sudaji punya kekuatan untuk mengkreasikan sehingga mampu memunculkan durian varietas baru dan unggul.  Seperti itulah, Sudaji dikenal sebagai desa yang melahirkan peradaban pertanian pembibitan durian yang sering disebut Durian Kane.

Gede Sukra Suarnaya mengaku dia areal pembibitanya juga melakukan pembibitan durian dengan cara okulasi antara beberapa varian durian yang berbeda. Banyak warga Desa Sudaji juga melakukan pembibitan durian. Bukan hanya durian sebenarnya, namun pembibitan tanaman produktif lainnya seperti tanaman mangga, manggis dan tanaman jenis aneh lain seperti sirsak jumbo, maupun lengkeng merah.

“Beberapa bibit yang berbeda, mencari varian-varian unggul kami kawinkan sehingga menghasilkan bibit unggul pula,” ujar Sukra.

Selain Sukra di Sudaji, salah satu petani lainnya bernama Gede Ampet yang lahir sebagai anak petani jug apunya cerita nyata soal kesuksesan dirinya mejadi petanipembibit durian. Kedua orangtuanya merupakan petani sekaligus pedagang buah durian. Pengalamannya semasa kecil menemani sang ayah mencari buah durian ke pelosok desa membuatnya ikut terobsesi pada durian. Kecintaannya pada buah durian itu pun akhirnya membawanya untuk melanjutkan jejak sang Ayah.

Gede Ampet kemudian mulai berdikari dan mencoba menjelajahi berbagai wilayah tempat asal produksi buah durian. Hingga tanpa sengaja ketika hendak ke Denpasar, ia pun sempat singgah di sebuah tempat yang berlokasi di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan – Bali.

“Tanpa sengaja, tahun 1984. Berhenti di Luwus dan melihat ada durian kecil setinggi dua hingga tiga meter kok sudah berbuah? Saya heran, kemudian langsung memesan bibit disitu. Namanya durian unggul, tidak ada namanya,” terangnya.

Masih cerita Gede Ampet, bibit itu kemudian datang setahun kemudian. Bibit durian yang dipesan telah dilengkapi peneng berbahan plat alumunium. Lantaran kecil, bibit durian itu pun tidak langsung ditanam.

“Pada tahun 1985 bibit itu datang, 20 bibit durian unggul pakai label tanpa nama. Karena bibitnya masih kecil-kecil, saya pelihara dulu di halaman rumah. Tahun 1986 baru ditanam,” jelasnya.

Bibit durian kane dari Desa Sudaji |Foto : Nova Putra|

Tiga tahun kemudian, pohon durian unggul setinggi satu meter itu mulai berbuah. Namun dari 20 bibit yang ditanam hanya 16 pohon yang berhasil hidup menyesuaikan diri dengan kontur tanah. Jumlah buah yang dihasilkan pada saat itu memang belum banyak. Namun, kualitasnya super. Panen pertama, tidak ada satu pun yang mengenal rasa durian unggul tersebut.

Gede Ampet sempat kebingungan memasarkan durian unggul miliknya. Lantaran, buah durian itu berukuran raksasa. Buah durian itu memiliki berat mulai dari enam kilogram, bahkan ada yang memiliki berat hingga 10 kilogram.

Kala itu, Gede Ampet tak kehilangan akal untuk memasarkan buah durian perdana miliknya. Ia kemudian mencetak kartu nama dan langsung menyebarkan kartu nama itu ke sejumlah kantor pemerintah di Kabupaten Buleleng dan juga mendatangi pengusaha toko-toko terkenal serta menjualnya kepada teman-teman dekatnya.

Salah satunya, pemilik toko spare part sepeda motor terkemuka di Buleleng. Pemilik toko Banhin bersama anak-anaknya langsung kepincut dengan durian yang punya daging tebal, biji kecil, kulit tipis, dan bercita rasa manis tersebut.

“Awalnya sulit sekali, orang jarang percaya jika ada durian sebesar itu. Paling susah itu, ketika ada pembeli harga durian Bali dengan durian unggul disamakan. Durian lokal beratnya kan hanya dua kilo, sedangkan durian saya enam kilo dan mereka belum mengetahui cita rasa durian milik saya. Pembeli pertama itu toko banhin namanya uuk, harganya kalau nggak salah tujuh ribu rupiah,” jelasnya kembali.

Dengan keunggulan rasa dan ukuran durian yang spesial itu, muncul ide pada tahun 1990 untuk mengembangkan dan memperbanyak penanaman biji durian unggul tersebut.

Apalagi, secara kasatmata buah durian di pohon-pohon budi daya itu terlihat amat menarik. Pohonnya yang tidak tinggi, daunnya yang tidak terlalu lebat, dan buahnya yang besar membuat pengunjung bisa dengan mudah memanen buah durian yang sudah lepas dari tangkainya.

Sebanyak 400 biji buah durian unggul disebar di lahan perkebunan seluas dua hektare, namun hanya 100 bibit durian yang berhasil hidup.

“Awalnya begini, biji durian dikumpulin. dicuci bersih dulu, dan umurnya bagus dibuatkan pembibitan. Biji itu lokal setelah tumbuh berumur tiga bulan lalu ditempel, batang bawah lokal kemudian kira-kira 10 centi dari tanah baru kita ambil mata tempel itu ditempel diatas 10 centi dari atas. Itu kan semua sudah tahu, kalau di sudaji,” ungkapnya.

Panen kedua, nama durian unggul mulai dikenal. Semakin banyak yang ingin mencicipi durian yang konon punya cita rasa yang jauh lebih enak daripada durian lokal itu.

“Waktu itu, orang masih bilang namanya durian bangkok. Kemudian saya pun mencoba memasarkan ke swalayan Tiara Dewata, dan laku. Iya, ketemu langsung pemiliknya Pak Iskak, disana laku per kilo lima ribu rupiah. Setelah orang coba durian saya, nggak mau coba durian lainnya. Kebun durian langsung dikontrak oleh pihak Tiara Dewata,’’ tegasnya.

Sejak itu, Gede Ampet mulai dibanjiri pesanan buah dan bibit durian. Saking hebohnya, pada tahun 1996 Gede Ampet kedatangan seorang tamu yang mengaku petugas pertanian dari Provinsi Bali. Petugas itu meminta agar dirinya mengikuti sebuah event bergengsi yang akan digelar oleh pihak pemerintah Provinsi Bali.

Mendapat tawaran itu, bukannya gembira. Gede Ampet malah kebingungan. Pasalnya, durian miliknya belum memiliki identitas atau nama yang jelas, karena sejak dibeli sebelumnya di Desa Luwus durian itu hanya ia namai durian unggul.

Gede Ampet langsung membongkar tabungan ingatan dan koleksi tentang durian unggul. Dia mencari informasi dari berbagai buku. Salah satunya, majalah trubus waktu itu.

“Durian itu kemudian dicocokkan dengan photo buah durian yang  di majalah trubus. Kalau tidak salah di majalah trubus namanya cane. Namun, petugas itu menyarankan agar tidak memakai nama cane ketika ikut festival. Lebih baik pakai nama durian Ampet Sudaji, namun karena bibit itu saya beli di luwus, jadinya nggak berani buat nama sendiri,” ungkapnya.

Saat mengikuti festival pasar petani yang diselenggarkan pemerintah Provinsi Bali di Renon Denpasar, Gede Ampet mewakili stand milik pemerintah kabupaten Buleleng.

Nah, keraguan masyarakat pecinta buah durian terjawab kala itu, durian unggul asli sudaji yang terkesan mahal terpatahkan dengan kehadiran Gubernur Bali, Ida Bagus Oka stand Buleleng. Bahkan, usai digelarnya festival pasar rakyat, Gubernur Bali, Ida Bagus Oka langsung meninjau perkebunan buah durian unggul milik Gede Ampet di Desa Sudaji.

“Stand saya nomor empat, berjejer dengan peserta kabupaten lain. Kalau nggak salah, Pak Ida Bagus Oka saat itu bawa TVRI langsung masuk ke stand saya, Pak Gubernur heran melihat buah durian sebesar itu. Tapi, saya memang spesial bawa durian seberat 10 kilo lebih dari Buleleng. Setelah dicicipi, durian pun langsung diborong, stand mendadak ramai sekali,” jelasnya kembali.

Usai mengikuti festival, nama durian unggul asal desa sudaji pun makin meroket dan mendapat tempat di hati para petinggi di kalangan pemerintahan.

Durian sudaji makin identik dengan sebutan, pohon mini berbuah raksasa dan menjadi incaran banyak orang. Para pecinta buah durian pun berdatangan baik dari dalam dan luar daerah, didorong oleh rasa penasaran ingin membuktikan cita rasa durian varietas baru itu.

Pada bagian akhir kisah maestro durian jenis kane, Gede Ampet memastikan jika durian kane sudaji memiliki cita rasa khas berbeda dengan jenis durian kane yang dipanen di wilayah lainnya.

Selain itu, durian kane memiliki tekstur buah paling berbeda, Gede Ampet menyebutkan bahwa durian kane memiliki ciri khas pada kulit luar. Setiap buah durian kane asli desa sudaji memiliki kulit tak rata. Berbeda dengan durian kane wilayah lainnya, bentuk kulit luarnya bulat sempurna.

“Sejak tahun 1999 hingga tahun 2000an Desa Sudaji makin ramai dikunjungi. Bahkan, para wisatawan tidak saja ingin membuktikan rasa durian Kane, namun mereka sengaja datang ke kebun, tertarik melihat secara dekat durian yang memiliki ciri khas pohon mini berbuah raksasa,’’ tutup Gede Ampet.

Petani Kewalahan, Durian Kane Laris Manis Diburu Konsumen 

Permintaan buah durian jenis kane di tingkat petani di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng meningkat tajam sejak beberapa minggu terakhir.

Konon, sebagian petani memanfaatkan momentum itu untuk memanen durian secara dini untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar tersebut.

Salah seorang pemilik kebun durian kane, Ketut Angga (30) saat ditemui mengatakan bahwa permintaan buah durian dari pengecer juga agen pengumpul semakin meningkat. Hingga para petani pun kewalahan untuk memenuhi permintaan tersebut.

Namun, melonjaknya permintaan di tingkat petani dalam memenuhi kebutuhan pasar, tak merubah segala kebiasaannya selama ini. Ia memastikan, hanya menjual buah durian kane yang telah jatuh dari pohonnya ke pihak pengecer juga agen.

Agar tak merugi, Angga pun mengaku lebih memilih untuk menaikkan harga jual buah durian miliknya.

“Permintaan produksi durian kane sedang tinggi. Padahal belum memasuki panen raya,” katanya, Kamis, 9 Maret 2017.

Angga memperkirakan, panen raya durian pada musim ini akan berlangsung pada pertengahan bulan Maret – April 2017 mendatang.

“Musim panennya memang agak mundur. Kalau saya agak mahal jual ke pengecer, sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Saya jual durian yang sudah matang, durian itu langsung jatuh dari pohonnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Nengah Surata salah seorang pengecer durian ketika ditemui mengatakan bahwa untuk buah durian jenis kane dibeli dari petani dengan harga berkisar dari Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram.

Menurutnya, harga durian itu masih normal. Namun, jika hasil panen durian dari petani sedikit, harga jualnya pun langsung melonjak tajam. Dalam sehari, biasanya ia bisa mengirim tiga kuintal durian kane ke agen pengumpul.

“Kalau musim panen, harga per kilonya turun sekitar Rp 15 ribu per kilo untuk durian jenis kane. Saya khusus membeli durian kane atas permintaan agen pengumpul, paling laris dan cepat laku,” ujar Surata.

Koranbuleleng.com akhirnya menemui beberapa agen pengumpul buah durian di Desa Sudaji. Salah satu agen pengumpul durian terbesar di wilayah tersebut, yakni Made Mandiada (30).

Mandiada didampingi istrinya, Ketut Sukriani (29) kemudian menjelaskan bahwa dirinya khusus hanya membeli durian jenis kane. Dipilihnya jenis itu, lantaran durian kane paling banyak diminati konsumen.

Durian yang dijualnya berasal dari Desa Sudaji dan sekitarnya. Ia pun mengatakan, harga buah durian yang dijualnya itu bervariasi tergantung dari ukurannya.

“Kami jarang membeli durian lokal. Durian kane didapat ada dari Sudaji, juga desa lainnya. Buah ini pesanan, akan kami kirim langsung ke Jakarta,” katanya.

Pesanan durian dikatakannya semakin melonjak, hingga dalam tiga atau empat hari sekali, dia mengaku bisa mengirim empat sampai lima ton durian kane.

Pria yang telah tujuh tahun menekuni bisnis buah durian itu mengatakan, tingginya permintaan durian kane diprediksi akan terus meningkat hingga musim panen tiba.

Agar tak kewalahan memenuhi permintaan pasar itu, dia mengaku telah bersiap-siap meminta tambahan stok komoditas buah legit tersebut dari beberapa petani dan pengecer.

“Asal durian kane pasti kami beli. Namun, kami selektif membeli durian kane dari petani atau pengecer. Beda durian matang dan mentah hasil petikan, kami tahu. Durian kane itu kami beli seharga Rp. 20 ribu untuk per kilonya,” ungkapnya. |tim|