Entil dan Timbungan, Makanan Khas Desa Lemukih Saat Perayaan Nyepi

Entil yang dibungkus dengan daun Kalangedi , makanan khas Desa Pekraman Lemukih saat warga setempat merayakan Nyepi |Foto : Putu Hardiyanta Nugraha|

Singaraja, koranbuleleng.com | Hari raya selalu identik dengan makanan khas. Saat perayaan Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali di masing-masing desa pastilah mempunyai makanan khas yang dihidangkan untuk sanak keluarga dan kerabat.

Di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, ada makanan khas setempat yang dinamakan dengan Entil yang disantap dengan sayur Timbungan. Setiap hari raya Nyepi, Entil dan Timbungan ini menjadi sepasang makanan khas yang selalu dihidangkan oleh warga setempat.

Kewajiban membuat hidangan Timbungan menggunakan batang bambu sebagai pelengkap Entil ini dilakukan ibu-ibu rumah tangga di Desa Lemukih setiap tahun, tepatnya dilakukan sehari sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Apa uniknya Timbungan dan Entil itu?

Entil memang disiapkan secara khusus, dan hanya bisa dinikmati warga masyarakat dalam merayakan Nyepi. Makanan ini berbentuk seperti Lontong atau Ketupat yang dibungkus dengan daun.

Nah, bedanya adalah Entil tidak dibungkus dengan daun pisang atau janur, melainkan dibungkus dengan daun khusus, dimana warga setempat menyebutnya dengan nama daun kalangedi.

Entil dan timbungan yang disantap bersama sebagai makanan khas Nyepi di Desa Pekraman Lemukih |Foto : Nugraha Hardiyanta|

Daun dari tanaman liar ini memiliki lebar dan panjang mirip daun kunyit. Namun, daun akan elastis setelah direbus dan tidak tembus air sekalipun. Daun kalengedi membuat rasa Entil lebih enak dan tahan lama dibandingkan makanan sejenis seperti Ketupat atau Lontong.

Setelah beras dibungkus dengan daun kalangedi, Entil kemudian diikat dengan tali yang berbahan dari bambu. Entil ini lalu direbus sekitar 30 menit, bahkan bisa dilakukan lebih lama.

Merebus Entil dengan waktu lebih lama justru membuat rasanya makin legit dan tahan lama sehingga tidak cepat basi. Semakin lama direbus, aroma dan rasa Entil akan semakin sedap. Hal ini disebabkan karena ada aroma khas dan rasa daun Kalangedi yang meresap ke dalam Entil.

Sementara Timbungan, hidangan pelengkap Entil biasa dipakai sebagai sambal sekaligus lauk. Proses pembuatan hidangan Timbungan pun cukup unik.

Timbungan ini masak di dalam sebilah bambu yang dibakar atau dipanggang diatas perapian. Bambu dipotong dengan panjang rata-rata sekitar 50 sentimeter.

Nantinya, di dalam bambu itu akan diisi dengan sayuran dan daging yang dijadikan satu adonan. Daging dan sayuran seperti pakis, dilengkapi dengan bumbu Bali yang disebut base genep. Ujung lubang diatas bambu kecil itu, kemudian ditutup dengan daun tanaman pakis yang sudah tua. Inilah yang disebut dengan Timbungan.

Proses pembuatan Timbungan |Foto : Nugraha Hardiyanta|

Proses pemanggangan memerlukan waktu kira-kira sekitar satu jam atau dua jam untuk membakar Timbungan itu.

Salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Dusun Nyuh, Desa Lemukih bernama Ketut Mandri mengatakan bahwa Timbungan dan Entil merupakan makanan khas warga masyarakat Desa Pakraman Lemukih yang sudah diwariskan leluhur sejak dulu.

Hampir di setiap rumah warga di Desa Pakraman Lemukih, selalu menyuguhkan Entil bersama Timbungan tiap tahun disaat momentum khusus perayaan Nyepi.

Selain itu, Mandri juga menjelaskan bahwa teknik masak dengan cara memanggang adonan Timbungan yang dibakar dalam bambu itu dipilih agar bumbu meresap kuat ke dalam daging serta daun pakis. Rahasia pemilihan jenis bambu ini didapat secara turun temurun.

Menurut Mandri rasa yang nantinya akan dihadirkan bervariasi, lantaran bahan bumbu dalam Timbungan bisa diatur. Namun, biasanya warga masyarakat membuat Timbungan dengan menambahkan cabe untuk menambah selera pedas.

Suhu panas perapian saat membakar Timbungan diatur sedemikian rupa sehingga lemak daging akan mengering membentuk gumpalan. Biasanya, setelah dianggap matang, Timbungan dikeluarkan dari dalam bambu dan disantap bersama Entil.

“Kami masih mempertahankan tradisi kuliner Timbungan dan Entil pada perayaan Nyepi. Racikan bumbunya memakai rempah-rempah sederhana disebut base genep. Semua bahan bumbu diulek halus, kemudian bumbu itu diaduk seperti adonan bersama daging dan pakis muda, lalu dimasukkan dalam bambu sebelum dipanggang di perapian. Entil dan Timbungan dalam bambu, biasanya disantap oleh tiga sampai empat orang, ditambah sambal rasanya makin lezat,” jelasnya.

Benar saja, ketika dihidangkan daging itu terasa lembut. Begitu disantap, Timbungan disandingkan bersama Entil, ada rasa gurih, manis hingga pedas. Cita rasa yang tiada tanding saat lidah mengecapnya.

Hidangan tradisional Timbungan dan Entil menjadi salah satu kuliner primadona yang selalu dinanti warga masyarakat Desa Pakraman Lemukih saat merayakan Hari Raya Nyepi.|NH|

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here