Sosok Ini Yang Mendesain Busana “Jipak” Ala Serdadu Kolonial Belanda

Singaraja, koranbuleleng.com| Janger Menyali, janger kuno yang cukup nyentrik dimana pakaian para Jipak seperti tentara Belanda, menyorot rasa penasaran sejumlah kalangan. Banyak histori ada dibaliknya.

Di masa lampau, tarian Janger menjadi primadona dan pelipur lara yang paling digandrungi oleh masyarakat Desa Menyali. Tarian Janger sering dipertontonkan untuk menghibur segenap warga desa seusai melakukan aktifitas semacam bertani.

- Advertisement -

Diatas panggung, sang Penari Janger, baik Jipak dan Parik dituntut harus mampu merepresentasikan sebuah kisah kehidupan nyata secara runut selama berjam-jam di masa itu. Semisal, cerita perjalanan dua sejoli yang sedang kasmaran, dikisahkan dalam pementasan itu mulai dari mereka menjalin hubungan asmara hingga berumahtangga.

Kisah-kisah nyata yang terjadi sehari-hari inilah yang selalu menjadi latar belakang dari sejumlah gerakan dan gending Janger Menyali, termasuk pula soal pakaian para Jipak dimasa itu .

Lalu, siapa tokoh desainer pakaian para Jipak dari Janger menyali yang amat nyentrik ini?.

Nah, dimasa lampau,  kepopuleran Janger Menyali sendiri tak lepas dari peran almarhum Cening Beritem, seorang seniman asal desa setempat. Semasa hidupnya, Mendiang berperan besar terhadap perkembangan seni tari tradisional. Salah satu karyanya yang melegenda adalah Janger Menyali ini.

- Advertisement -

Salah satu Parik (penari wanita) Dadong Carik adalah saksi hidup atas eksistensi janger Menyali di masa lalmpu. Dadong Carik menuturkan sosok almarhum Cening Beritem dimata warga selain dikenal sebagai pencipta Janger Menyali juga merupakan inisiator busana Janger Menyali khususnya busana yang dikenakan oleh para Jipak (penari pria). Almarhum berhasil melahirkan desain busana yang begitu unik, hingga Jipak Janger Menyali memiliki penampilan nyentrik, tidak seperti penari Janger pada umumnya.

Para Jipak tampil elegan, bak serdadu angkatan laut belanda pada jaman dahulu kala. Busana nan unik, seperti baret, baju berwarna putih lengkap dengan pangkat dihiasi dasi panjang berwarna hitam serta slempang.

Selain itu, para Jipak juga mengenakan kacamata serta jam tangan saat pentas. Paling menjadi sorotan pengunjung, tentunya tampilan para Jipak yang mengenakan celana pendek berwarna hitam lengkap dengan sepatu hitam dengan kaos kaki panjang bergaris.

Pakaian Jipak yang memiliki rancangan unik tersebut memang diciptakan khusus oleh mendiang Cening Beritem. Konon, mendiang Cening Beritem mengadopsi pakaian Jipak Janger Menyali dari serdadu angkatan laut Belanda.

Di sisi lain, sosok Cening Beritem kemudian menciptakan gending-gending yang dirancang secara runut dari gending pembuka hingga penutup agar para penonton selain bisa menikmati hiburan, namun juga ada makna khusus yang tersirat dalam atraksi Janger dan iringan gendingnya.

Proses penciptaan gending-gending itu tak lepas dari kehidupan almarhum Cening Beritem di masa mudanya sudah hobi melanglang buana ke seluruh penjuru pulau Bali untuk menyiarkan dan menambah wawasan ilmu kesenian.

Almarhum Cering Beritem ternyata tidak hanya melahirkan kesenian dalam bentuk tarian, beberapa karya seni ukir dan lukisan juga ia torehkan, seperti ukiran dan lukisan yang masih abadi dan masih terpajang secara utuh menghias sejumlah sudut tempat suci di kawasan desa setempat.

“Almarhum Gde Manik duluya murid tari kakek saya Cening Beritem. Saat itu saya masih kecil, mungkin kelas dua Sekolah Dasar (SD),” kata Dadong Carik, mantan Parik (penari wanita) kelahiran tahun 1933 ketika ditemui koranbuleleng.com di kediamannya di Dusun Kawanan, Desa Menyali.

Menurut Dadong Carik, tarian Janger seperti sudah melekat dalam garis keturunan keluarganya. Ia sendiri memulai karir di kancah dunia seni Janger saat berumur 15 tahun.

Sambil mengingat-ingat koleksi “tabungan” ingatannya,  Ia pun mulai menceritakan awal perjalanan hidupnya menjadi seorang Parik Janger Meyali.

Dadong Carik sendiri memulai menekuni kesenian Janger Menyali dibawah binaan pelatih bernama Guru Tangsi yang masih memiliki hubungan pertalian darah dengannya. Tidak sendiri, Dadong Carik bergabung menjadi satu sekaa bersama dengan 10 orang Parik lainnya.

Kala itu, selama berbulan-bulan ia bekerja keras berlatih vokal dan gerakan bersama para Parik serta Jipak. Setelah hafal barulah mereka mulai berlatih. Pada saat itu Dadong Carik diwajibkan untuk menguasai beragam tarian Bali.

Ternyata, tujuan pelatih tari mewajibkan dirinya menguasai beragam tarian itu lantaran ia dianggap memiliki kemampuan lebih, hingga Dadong Carik menjadi penari sentral disetiap pementasan.

Mantan Parik Janger Menyali, Dadong Carik (85) diapit diantara penata tari Luh Sri Susanti dan penata tabuh Ketut Rediasa serta Ketua Rekonstruksi Janger Menyali, Gede Budasi |Foto : Nugraha Hardianta|

Dadong Carik dalam sekaa Janger kala itu diwajibkan tampil all out, selain mengemban tugas sebagai penari pembuka, ia pun wajib menarikan tarian penutup ketika pertunjukan itu akan berakhir. Ada banyak kawan yang diingatnya menjadi penari Janger menyali dikala itu, dan hanya tersisa beberapa orang saja hingga kini.

“Namun, Parik yang masih hidup sampai sekarang hanya sisa empat orang yakni, saya, meme Jaya, meme Sipat, meme Gede Redana. Gending yang wajib Dewa-Dewa Ayu, lalu Don Dapdap dan banyak lagi lainnya. Tapi dua itu saja yang saya bisa ingat,” terangnya.

Menurut Dadong Carik, Pada masa itu, tarian Janger menjadi primadona dan pelipur lara yang paling digandrungi. Tarian Janger dihadirkan untuk menghibur segenap lapisan masyarakat. Jadi tak heran mengapa Tari Janger khas Menyali menjadi begitu santer hingga akhirnya kesenian ini menurun ke generasi selanjutnya dan berkembang cepat di seluruh pelosok Desa Menyali.

Masih kata Dadong Carik, sang Penari Janger, baik Jipak dan Parik dituntut harus mampu merepresentasikan sebuah kisah kehidupan nyata secara runut selama berjam-jam di masa itu. Semisal, cerita perjalanan dua sejoli yang sedang kasmaran, dikisahkan dalam pementasan itu mulai dari mereka menjalin hubungan asmara hingga berumahtangga.

“Biasanya tema dan gending kisah percintaan yang paling digandrungi oleh masyarakat. Itu diambil dari kisah percintaan dua sejoli yang mengisahkan mulai dari perkenalan, perjalanan dua sejoli hingga muncul sebuah prahara baik itu pertengkaran ataupun pertikaian ketika berumah tangga,” terangnya kembali.

Tidak ada persyaratan khusus ketika ingin menjadi seorang Parik Janger pada masa itu. Namun, biasanya seorang Parik Janger memiliki kelebihan fisik. Sang Parik identik memiliki paras cantik dengan ukuran tubuh ideal, serta diimbangi dengan suara merdu. Jadi wajar bila seorang Parik Janger kala itu menjadi sorotan, bahkan publik figur.

Namun, dibalik itu semua siapa sangka jika mereka harus menempa pembelajaran yang sangat berat dari yang dibayangkan. Menjadi seorang Parik tak hanya soal harus pintar merias diri, mereka dituntut untuk piawai menari, utamanya olah vokal dalam menyanyi.

“Kakak sempat melarang keinginan saya menjadi penari Parik Janger, alasannya saya disuruh kembali bersekolah. Namun, Guru Tangsi membela saya, dan meminta kakak untuk sembahyang ke Pura Dalem dan meminta ijin untuk membatalkan niat saya menjadi penari Janger di hadapan Ida sesuhunan Pura Dalem. Kakak tidak berani saat itu,” imbuhnya.

Di masa lalu Penari Janger menari dan menyanyi dengan durasi waktu berjam-jam. Bahkan tanpa bantuan teknologi. Terlepas dari pengeras suara, mereka bernyanyi lepas dengan suara lantang sepenuh tenaga agar suaranya terdengar oleh para penonton.

Akhirnya, berbagai pelatihan fisik diberikan untuk melahirkan sosok Janger yang tangguh itu pun terbukti saat Janger Menyali diundang untuk pentas perdana di Desa Sangsit, lokasi tepat berada di Pasar Desa Sangsit sekarang ini. Saat itu, Dadong Carik berumur 25 tahun.

“Dulu menari lama sekali, lebih dari satu jam. Harusnya pakaian itu seperti sekarang ini. Tapi sanggar Janger belum bisa membeli pakaian, jadinya tampil sangat sederhana, Parik kompak menggunakan baju kebaya berwarna kuning, kamen dan plengkir, juga selendang di pinggang. Kalau pakaian Jipaknya lengkap, pakai baret, kacamata, baju putih berdasi, celana pendek, namum slempangnya berwarna putih dengan lis hitam. Jangernya semua tidak pakai alas kaki,” sebut Dadong Parik.

Pakaian yang mereka kenakan saat itu boleh dibilang mewah pada masa itu. Kala itu, nilai ekonomis sebuah baju masih sangatmahal, sementara kehidupan masyarakat juga masih sangat tradisional.

Ketika ditanya apa alasan yang menjadikan Janger Menyali besutan sanggar milik Guru Tangsi tampil secara perdana di Desa Sangsit?

“Desa Sangsit itu sebagai parameter kelulusan, mental kami betul-betul diuji dengan bisingnya sorakan para penonton warga Desa Sangsit. Setelah sukses pentas perdana, Janger Menyali benar-benar kebanjiran order permintaan pentas. Setiap hari ada saja permintaan pentas, mulai dari Desa Pakisan, Sanda Sudaji. Tapi Janger Menyali masih jalan kaki untuk sampai di lokasi pentas,” ungkap Dadong Carik.

Di Menyali Ditemukan Ragam Situs Tarian Sanghyang

Desa Pakraman Menyali merupakan salah satu situs desa tua di Kabupaten Buleleng, dan itu dibuktikan dengan adanya beragam kesenian kuno di desa setempat. Disisni ditemukan sejumlah situs tarian Sanghyang.

Ketua Panitia Rekontruksi Tari Janger Menyali, I Gede Budasi didampingi penata tari Janger rekontruksi, Luh Sri Susanti serta penata tabuh, Ketut Rediasa menjelaskan bahwa Tari Janger merupakan salah satu bagian tarian Sanghyang yang disebut Tari Sanghyang Janger

“Disini ada beberapa situs Tari Sanghyang, seperti situs Tari Sanghyang Celeng, Sanghyang Memedi, Sanghyang Janger. Namun yang paling terkenal Tari Janger, menjadi warisan budaya Bali kuno dan diteruskan secara turun temurun,” kata Budasi.

“Kalau diukur sejarah Janger kapan munculnya Tari Janger pastinya tidak ada yang tahu, para penari itu semuanya sudah mewarisi dari generasi pendahulu yang merupakan warisan budaya suku austronesia yakni suku sebelum Hindu masuk ke Bali. Suku Bali mula, ciri-ciri tariannya pada setiap gerakan menghentakkan kaki ke bumi,” tambahnya.

Tari Sanghyang Janger khas Menyali memiliki fungsi ganda. Pertama, secara implisit menurut Budasi, Tari Janger memiliki fungsi sebagai tarian sakral. Dimana bait gending-gending yang dilantunkan Janger Menyali diyakini sebagai penangkal sekaligus sebagai benteng dari ancaman mara bahaya seperti ancaman gerubug, paceklik dalam bidang pertanian dan juga dari sisi spiritual diyakini mampu mengusir roh-roh jahat yang bergentayangan dan mengancam kehidupan masyarakat Desa Pakraman Menyali. Kemudian secara eksplisit Tari Janger Menyali adalah merupakan warisan budaya adiluhung Kabupaten Buleleng.

“Tokoh seni yang mempopulerkan Tari Janger Menyali, almarhum Guru Cening Beritem. Kalau tidak salah eksis, sejak tahun 1921 sampai dengan tahun 1972,” terangnya.

Kepiawaian Janger Menyali selain sakral sebut Budasi, bahkan memiliki taksu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Memang harus diakui, jika Janger Menyali sudah ditarikan tidak sedikit hati para penonton akan tertegun dan berdecak kagum melihat tampilan kostum serta lantunan gending-gending yang dibawakan oleh para Jipak dan Parik Janger Menyali tersebut.

Tak hanya sebagai sosok penghibur, Janger Menyali di masa kejayaannya kerap kali menjadi seorang pemimpin sebuah upacara adat.

Kehadirannya dihormati dan dipercayakan sebagai pembawa keberuntungan. Posisi ini menunjukkan kedudukan seorang penari Jipak dan Parik yang begitu dihormati oleh warga desa setempat.

“Contoh, mendiang almarhum Kepala Desa Menyali Gede Intaran, beliau sangat semangat jika melihat warga aktif membentuk kelompok yang menarikan Janger Menyali. Bahkan, mendiang dulunya merupakan salah satu sponsor pakaian Janger Menyali,” tutup Budasi.

Gede Budasi yang menjabat Pembantu Dekan III Fakultas Bahasa & Seni Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja ini pun juga menyebutkan beberapa tokoh dan pelaku seni di Desa Menyali khususnya para Jipak dan Parik Janger Menyali. Mantan Jipak paling tua dan masih hidup sampai sekarang ini bernama Ketut Kuta (104 tahun) tinggal di kelompok Panca Yasa, Dusun Kawanan. Sedangkan Parik yang masih yakni Dadong Carik cucu dari keturunan Guru Cening Beritem.|NH|

 

 

 

 

 

Komentar

Related Articles

spot_img

Latest Posts