Harapan Petani Garam Akan Kemarau Yang Lebih Adil

Samawi, petani garam asal Madura yang bekerja sebagai dipetak produksi garam di Desa Pejarakan |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Samawi, Pria tua asal Madura ini terlihat sangat ulet menata lahan produksi garamnya di kawasan Batu Ampar, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Walaupun  panas terik matahari menyengat kulitnya, dia tetap saja tak menyerah. Terus saja memadatkan petak-petak lahannya yang akan dibuat untuk produksi garam.

Samawi, baru dua bulan disini. Konon, ada beberapa warga Madura lainnya yang datang secara khusus ke lokasi ini bekerja sebagai buruh produksi garam. Mereka datang secara musiman dan tinggal disini.

Samawi sendiri tinggal disebuah gubuk yang berlokasi beberapa meter dari garis pantai. Samawi bekerja dengan seorang juragan produsen garam, dari desa setempat.

Samawi bekerja dilahan produksi garam di Desa Pejarakan dengan sistem bagi hasil. Dari tiga ton garam yang dihasilkan setia panen, dia punya hak kepemilikan atas hasil panen itu sebanyak sebanyak 1 ton, sementara 2 ton lainnya milik sang juragan.

Jika nantinya, musim produksi garam selesai, Samawi akan kembali ke kampung halamannya.  Begitulah Samawi, datang ke Desa  Pejarakan sebagai buruh produksi garam dengan cara musiman.

Seperti itulah, secara budaya garam sangat berpengaruh terhada sejarah migrasi manusia.

Lalu ada warga bernama Wawan. Wawan juga keturunan dari Suku Madura,namun dia mengaku sudah lama menetap di Desa Pejarakan. Orang tuanya juga dulu seorang petani garam di kawasan ini dan pekerjannya diturnkan kepadanya.  Disini, dia juga punya sejumlah petak produksi garam di kawasan ini.

Sejak lama, Warga Madura dikenal sebagai petani garam yang sangat ulung, bahkan sejak jaman penjajahan kolonial Belanda. Dalam sejarah tercatat, Penjajah kolonial Belanda sempat melakukan monopoli perdagangan garam di wilayah Jawa dan Madura. Kala itu, diabad 18 wilayah Sumenep, Madura dan Gresik, adalah kantong-kantong produksi garam terbesar di Indonesia.

Wawan juga sudah dua bulan ini memulai produksi garam, ketika musim kering muncul di Buleleng.  Dia sudah beberapa kali panen garam dan telah dijual ke distributor garam.

“Ada yang ngambil garam ke sini, kalau sudah terkumpul banyak. Kita tinggal kontak saja pembelinya, langsung diambil,” ujar Wawan.

Harga garam kini berkisar diangka Rp1500 perkilogram. Harga ini masih anjlok. Pemciunya, isu garam yang berisi pecahan kaca beberapa waktu lalu.

“Gara-gara ada garam berisi pecahan kaca itu, harga garam jadi anjlok Pak. Itu benar adanya dan merugikan kita disini sebagai produsen garam,” jelasnya.

Padahal,  kata Wawan, baru kali ini produksi garamnya cukup bagus. Sejak dua tahun berturut-turut, produksi garam terus gagal total. Pemicunya karena hujan yang lebih lama dari musim kemarau.  Dia tak bisa melawan alam yang berdampak pada pemasukan keuangannya dari produksi garam ini.

“Dua tahun berturut-turut kemarin panen banyak gagal,  kembali modal saja sudah bersyukurlah Pak,”

Wawan berdoa, supaya tahun ini produksi garamnya bisa tetap stabil dan harganya semakin meninggi. Musim kemarau muncul dengan lebih adil dengan selisih waktu yang normal.

Buruh pengangkut garam |Foto : Putu Nova A. Putra|

Wawan mengajak sejumlah buruh untuk memproduksi garamnya. Mulai dari proses pemadatan lahan hingga buruh angkut.

Di musim produksi saat ini, Wawan mengaku meminjam uang Rp.10 juta untuk memulai produksi garamnya. Itu digunakan sebagai modal awal.  Wawan tak bisa mengarap lahan secara sendiri karena pekerjaan itu sangatlah berat.

“Untuk menggarap lahan dari awal, harus ngajak orang lain, buruhlah. Kita gaji mereka. Saya sampai pinjam modal dulu. Nanti kalau sudah ada untuk langsung saya kembalikan lagi,’ ujarnya.

Biasanya, Wawan tak pernah lama meminjam uang walaupun pihak lembaga keuangan yang meminjamkan uang memberikan masa tenor beberapa tahun.

“Kalau sudah dapat untung langsung bayarkan,  biar tidak lama meminjam, bayar bunga juga tidak tinggi. Jadi kalau ke depan mau pinjam lagi kan gampang. Mudah-mudahan sekarang ini, produksi garam bisa bagus,” ujar Wawan.

Wawan mengaku area produksi garam ini sangat luas. Dia sudah sudah cukup lama memproduksi garam di wilayah ini. Lahan yang digarap oleh Wawan bukanlah miliknya, namun lahan kontrakan.

Dia tak pernah tahu, berapa area produksi garam secara keseluruhan. Pengontrak lahan juga berbeda-beda. “Saya tidak tahu  berapa luasnya ini, luas sekali. Saya hanya kontrak disini.” ujarnya.

Wawan maupun Samawi berharap,  musim kemarau muncul  lebih adil bagi para petani garam. Namun begitu, dia hanya pasrah saja ketika hujan kembali diturunkan. “Kalau sudah panas ini ditarik lagi, lalu Yang Kuasa memberikan hujan lagi, ya kita hanya bersyukur saja,” tutupnya sambil tertawa.  |Pewarta : Putu Nova A.Putra|

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here