Kesempatan Emas Promosi Pariwisata dan Budaya dari Tangan Penulis di Ajang APWT

Pemberian cinderamata dari Sanaz Fotouhi kepada Dekan FBS Prof. DR Putu Kerti Nitiasih dan Ketua Panitia APWT 2017 Kadek Sonia Piscayanti |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Aktivitas menulis bukan saja tentang menulis puisi,cerpen atau makalah kajian ilmiah, namun banyak sendi tentang aktivitas menulis. Bisa menggambarkan sebuah keelokan budaya, kecantikan dari sebuah obyek pariwisata, atau menulis yang ringan tentang makanan dan minuman khas sebuah desa.

Asia Pacifik Writers and Translators  (APWT) yang digelar di kampus Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja sedari 22 – 24 Oktober 2017 ini memberikan pendidikan penting soal kreatifitas dalam dunia menulis dan penterjemahan.  APWT yang dibuka secara resmi Minggu 22 Oktober 2017 di gedung Fakultas Bahasa dan Seni menghadirkan para penulis beken dari Asia Pasifik.

Dari sisi pendidikan, APWT ini memberikan kesempatan mahasiswa Undiksha untuk menjadi penulis selain dididik menjadi seorang guru.

Diluar itu, APWT ini justru penting juga dalam dunia pariwisata seni dan budaya. Kabupaten Buleleng mempunyai beragam potensi bidang pariwisata, kesenian dan kebudayaan yang khas di masing-masing desa adatnya.

Dekan Fakultas bahasa dan Seni Undiksha, Prof. Ni Putu Kerti Nitiasih menjawab Undiksha adalah salah satu member aktif dari APWT sehingga wajib menyelenggarakan perhelatan ini ketika ditunjuk. Setiap tahun APWT digelar di Negara yang berbeda, dan  menginjak tahun ke-10, Undiksha ditunjuk sebagai tuan rumah.

Bagi Undiksha, kata Nitiasih, merupakan kebanggaan tersendiri karena mampu menyelenggarakan forum berskala internasional yang dihadiri kalangan intelektual. Disisi lain, APWT ini juga berkontribusi besar untuk mempromosikan daerah.

“Kita disini bisa belajar  (mengetahui, red) seorang traveler kalau dia mampu menulis dengan baik dan disebarkan maka itu akan menjadi ajang promosi pariwisata. Semua sektor pariwisata. Bagaimana sebuah menu dikemas dengan cantik oleh penulis maka itu akan mempromosikan tentang makanan, minuman khas kuliner, atau tentang hotel serta budaya maupun landskapnya.” terang Nitiasih.

“Bagi mahasiswa, selain mahasiswa kita didik untuk menjadi seorang guru, juga mendapat kesempatan emas untuk menjadi seorang penulis,” lanjutnya.

Baca Juga : 

Forum APWT Digelar di Singaraja

Manfaat yang sama diutarakan oleh Sekretaris Deputi bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Ni Wayan Giri Adnyani bahwa forum internasional seperti APWT ini menjadi wahana untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Pariwisata itu menyangkut berbagai aspek kehidupan, bukan sekedar soal perporman ataupun tentang handicraft.

“Khususnya di Bali tentang cara kita menyapa, itu adalah aspek kehidupan juga. Nah kemudian ketika partisipan ini puas dengan apa yang diperoleh bukan sekedar substansinya ketika berhubungan dengan orang-orang kita,  maka lebih dari itu mereka akan menyampaikan dinegaranya tentang destinasi yang dikunjungi serta keramahan masyarakat kita. Itu poin besarnya,” ucapnya.

Kita di Indonesia, kata Giri Adnyani, juga tidak perlu khawatir tentang travel warning yang dikeluarkan sebuah Negara kepada warga negaranya. Menurutnya, sebuah Negara punya hak untuk memberikan masukan kepada masyarakatnya dalam melakukan perjaalanan ke berbagai Negara.

“Itu adalah haknya pemerintah, tugasnya pemerintah. Tapi sekarang sudah educated people, wargan punya data apalagi jaman teknologi seperti sekarang gampang untuk mendeteksi suatu tempat apakah layak untuk dikunjungi atau tidak,” tambahnya.

Giri Adnyani menyatakan APWT 2017 ini membuktikan bahwa Indonesia, terutama Bali selalu menjadi tempat yang favorit untuk dikunjungi.

APWT 2017 ini menghadirkan sejumlah penulis dan penterjemah yang beken dari negara negara asia pasifik. Beberapa diantaranya Cate Blake, Brentley Frazer, Roanna Gonsalves, Chris Raja, Osamah Sami, Rajith Savanadas, Ian See, Peter Polites, Hannah Donneley, Eugenia Flynn, Marie Munkara.

Juga salah satu sudut penting dalam forum ini yakni diselenggarakan eksebisi tentang budaya Indonesia melalui karya fotograpi.  David Metcalf, fotograper profesional yang tinggal di New Zealand akan mempresentasikan karya-karya fotograpinya tentang budaya Indonesia itu.

Selama ini, David telah menghabiskan waktu selama lima tahun berkeliling  Indonesia mengumpulkan berbagai cerita dan foto tentang Indonesia.  Dalam kesempatan ini,  David akan memamerkan 12 foto yang lebih banyak menggambarkan tentang spirit dan jiwa dari masyarakat Indonesia.

Sementara itu penulis yang juga direktur APWT 2017, Sanaz Fotouhi mengatakan dalam perjalanan sejarah APWT ini bertujuan untuk membangun kreatifitas untuk komunitas lokal dalam bidang literasi. Komunitas lokal ini dilibatkan secara aktif untuk berdialog sehingga penulis internasional dan lokal, seniman maupun produser budaya bertemu untuk berbagi inspirasi.

“Tahun ini, kami telah melakukan upaya ekstra untuk meningkatkan keterlibatan komunitas lokal. Oleh karena itu, kami menyajikan beberapa rangkaian panel khusus untuk literatur dan budaya Indonesia.” katanya.

Pihak rektorat Undiksha juga menyambut positif agenda APWt 2017 yang digelar di Kampus Undiksha. Sebagai tuanrumah, banyak hal yang bisa diuntungkan dan dipetik dari agenda ini.

Wakil Rektor IV bidang Perencanaan dan kerjasama, I Wayan Suarna Jaya mengatakan ini merupakan momen baik untuk memberikan kesempatan pada penulis dan penterjemah di kampus seribu jendela, Undiksha. Bukan berarti, penulis lokal tidak bagus, namun dari ajang ini penulis dan penterjemah kita mendapat pengetahuan dari penulis yang berasal dari berbagai Negara di kawasan asia pasifik.

“Pertemuan ini ajang untuk berbagi pengetahuan bidang penulisan karya sastra dan menterjemahkannya.   Ini kesempatan mendapatkan pengetahuan bagaimana kemampuan penulis asing dalam menulis. Dari sini bisa dimplementasikan oleh pengajar dan mahaiswa kita,” ujarnya. |NP|

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here