Angklung Kebyar Mebarung Dengan Penuh Girang

Suasana pembukaan Utsawa Merdangga Angklung Kebyar 2017 di Pelabuhan Buleleng |Foto : Putu Nova A. Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Begitu mulai suara keklentengan dari tabuh “Wana Tamara”  yang dibawakan sekaa angklung kebyar Werdhi Ulangun, supporternya langsung berteriak kegirangan meneriakkan yel-yel hingga bertepuk tangan.  Bukan supporter saja yang girang, namun penabuhnya juga menabuh sambil menunjukkan gaya-gaya tertentu yang mampu menghidupkan suasana.

Sekaa angklung dari Desa Ambengan Kecamatan Sukasada ini membuka tabuh pertama saat mebarung dengan Sekaa Angklung Manik Suara, Desa Munduk. Gemerincing bunyi bilah terdengar sangat “menyayat” telinga, namun merdu didengar. Ternyata suara suara angklung ini menjadi tontotan atau seni pertunjukkan yang mampu memancing kegirangan warga.

Seperti itulah, situasi klasik jika ada perhelatan gong yang sedang mebarung di Buleleng, termasuk saat perhelatan Utsawa Merdangg Angklung Kebyar 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan Buleleng di Pelabuhan Buleleng, 23 Oktober 2017.

Biasanya, angklung hanya dipertunjukkan pada setiap acara upacara adat seperti manusia yadnya,pitra yadnya maupun dewa yadnya. Ustawa merdangga ini berusaha mengangkat grade angklung pada sisi seni pertunjukkan.

Kasi Kesenian Dinas Kebudayaan, Wayan Sujana mengungkapkan angklung kebyar ini sebenarnya aset seni khas Buleleng yang mempunyai ciri khas yang tidak nampak di daerah lain. Di Buleleng, angklung menggunakan lebih dari empat bilah daun yang mampu memainkan tabuh kekebyaran.

Namun seiring perkembangan jaman, angklung hanya diminati oleh warga atau penabuh-penabuh tua, sementara anak muda enggan memainkannya. Kesannya, angklung ini seperti dikesampingkan jaman.

“Ternyata selama pembinaan Utsawa ini, 80 persen anak muda mau memainkannya. Disinilah,kami ingin mengangkat angklungkebyar ini menjadi seni pertunjukkan yang diminati oleh masyarakat luas” ujar Sujana saat ditemuia usai pembukaan Utsawa Merdangga Angklung Kebyar, Senin 23 Oktober 2017.

Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra menyapa penabuh peserta Utsawa Merdangga Angklung Kebyar 2017 |Foto : Rika Mahardika|

Utsawa Merdangga Angklung Kebyar secara resmi telah dibuka Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra di panggung terbuka Pelabuhan Buleleng Senin, 23 Oktober 2017.

Sutjidra dalam sambutan mengapresiasi inisiatif Dinas Kebudayaan Buleleng menggelar Utsawa Merdangga Angklung Kebyar ini. Sutjidra mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai upaya regenerasi sekaa angklung sekaligus merubah citra angklung selama ini yang identik dengan kegiatan yang berhubungan dengan upacara Pitra Yadnya.

“Biasanya kita nikmati saat acara acara kedukaan, misalnya kematian, atau pengabenan. Kalau tidak ada pitra yadnya mereka tidak tampil. Tapi sekarang bisa kita lihat, anggota sekaa angklungnya muda-muda, biasanya kan tua tua, ini artinya generasi muda sudah mau melestarikan angklung ini. Terima kasih desa sudah melestarikan kesenian angklung,” pungkasnya.

Namun pada kada kesempatan itu, Sutjidra juga mengingatkan Dinas Kebudayaan agar memberikan dana pembinaan yang lebih besar bagi para ppemenang lomba.

Sesuai dengan laporan Kadis Kebudayaan Buleleng, Putu Tastra Wijaya panitia penyelenggara menyiapkan hadiah sebesar Rp 12,5 juta untuk juara satu, sementara Juara dua mendapat hadiah Rp 10 juta, dan Juara Tiga sebesar Rp 7,5 juta. Sementara untuk pembinaan selama persiapan, Disbud Buleleng memberikan anggaran sebesar Rp 25 juta.

Menurut Sutjidra, jumlah itu dirasakan masih kecil, jika melihat persiapan yang dilakukan masing masing sekaa angklung dari sembilan Kecamatan di Buleleng.

“Untuk Dinas Kebudayaan, hadiah pembinaannya janganlah menganak tirikan Angklung, masa hadiahnya hanya 12,5 juta. Mereka persiapannya kan lama, belum lagi sekarang tampil harus sewa atau beli pakaian. Pokoknya tahun depan harus lebih serius lagi,”ujarnya disambut tepuk tangan penonton sembari mengiyakan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Putu Tastra Wijaya mengaku akan melakukan evaluasi untuk kegiatan Utsawa Angklung. Apalagi, kegiatan utsawa merdangga ini, sudah menjadi kalender tahunan Dinas Kabudayaan sebagai upaya pelestarian kesenian.

“Tahun depan kita menyiapkan anggaran yang lebih besar untuk latihan, karena kita lihat tadi antusiasnya peserta. Serius dalam berkreatifitas. Kita juga akan himbau kepada seniman, menyambut peluang yang diberikan Bupati untuk berkreativitas, karena utsawa merdangga ini akan kita lakukan setiap tahunnya,” jelasnya.

Utsawa Merdangga Angklung Kebyar ini digelar di Panggung Terbuka Eks Pelabuhan Buleleng selama lima hari dari tanggal 23 sampai dengan tanggal 27 Oktober 2017. Para peserta merupakan sekaa sebunan atau penabuh asli warga banjar/desa perwakilan masing-masing kecamatan.

Oleh karena formatnya mebarung, akan disediakan satu pendamping sehingga jumla peserta menjadi sepuluh sekaa. Sementara itu, masing masing sekaa akan menampilkan empat atraksi, yakni Tabuh Klasik Pangklungan, Tabuh Kreasi, Tari Wajib Truna Jaya, dan Tari pilihan sesuai dengan hasil undian. |RM|

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here