19 Waitress Lakukan VCT

Relawan dari YCUI yang juga banyak berprofesi sebagai tim medis mengambil smapel darah sejumlah waitress untuk VCT |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com| Sekitar 19 orang waitress di salah satu tempat dugem atau kafe remang-remang di wilayah Kelurahan Penarukan, Singaraja diambil sampel darahnya untuk VCT, Minggu 19 Nopember 2017. Pengambilan sampel darah ini dilakukan langsung di kafe setempat.

Pengambilan sampel darah oleh lembaga sosial, Yayasan Citra Usada Indonesia (YCUI) bersama sejumlah relawan penanggulangan HIV/Aids di Buleleng merupakan aktivitas rutin untuk memantau dan memberikan pemahaman tentang bahaya HIV/Aids dan prilaku seks bebas. Selain pengambilan sampel darah, juga digelar sosialisasi bahaya HIV/AIDS dan seks beresiko.

Aktivis dari Citra Usada, Made Riko Wibawa mengungkapkan selama ini banyak tudingan bahwa penyebaran HIV/AIDS yang terjadi di Buleleng berasal dari maraknya keberadaan kafe remang-remang.

Maka itu, YCUI sebagai lembaga sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan HIV/Aids terus bergerak melakukan berbagai upaya pemantauan, pencegahan dan penanggulangannya.

Apa yang dilakukan oleh YCUI ini termasuk salah satu upaya VCT (Voluntary Counselling and Testing) yang langsung enyasar ke lokasi-lokasi tertentu. Ini sebagai upaya tes kesehatan dan akan berkelanjutan setiap enam bulan sekali.

“Jika misalnya hasilnya negatif kita sarankan teman-teman yang bekerja di dunia malam ini melakukan pencegahan dengan tidak melakukan prilaku yang tidak terpuji. Jika positif kita bantu sampai mereka mendapatkan penanganan dan pengobatan. Tentu sebelumnya dengan cara metode pemahaman-pemahaman tadi itu dan pengambilan sampel darah ini,” kata Riko Wibawa.

Riko menyatakan sebenarnya tidak semua pekerja kafe remang-remang mempunyai prilaku beresiko. Opini di masyarakat itu, kata Riko terus berkembang seperti itu namun dibalik itu juga tingkat kepedulian para pekerja kafe ini juga sangat tinggi untuk menjaga diri mereka dari penyakit mematikan itu.

“Ini juga untuk membuktikan bahwa mereka punya tingkat kepedulian, termasuk kepedulian dari pengelolanya. Apa yang kami lakukan juga bisa dipertanggungjawabkan dan kita tahu kelompok mana yang sebenarnya dengan prilaku beresiko, tidak bisa salah satu pihak aja dikatakan sebagai sumber penularan HIV/AIDS tetapi kita semua beresiko sepanjang tidak bisa menjaga prilaku beresiko kita,” tambah Riko.

Riko memaparkan dari hasil pendataan ada sekitar 2600 penderita HIV/AIDS yang ditemukan di Buleleng. Angka itu akumulasi dari tahun 1999 sampai 2017. Sementara tingkat percepatan kasusnya setiap bulan ditemukan 15 – 20 kasus baru HIV/AIDS.

Di Buleleng mempunyai banyak layanan pemeriksaan darah HIV.  Jadi dari sini, bisa diketahui banyak kasus –kasus baru, seperti ibu hamil dengan HIV dan kasus lainnya.

“Setiap tahun selalau ada ibu hamil  tertular HIV dari pasangannya,” ujar Riko.

Dian (nama samaran), salah satu waitress mengungkapkan juga ketakutannya bila tertular HIV/AIDS ini.

Dian tidak menampik, posisinya sebagai pekerja kafe rawan akan prilaku berresiko. Namun Dian mengaku berusaha untuk tetap menjaga agar dirinya tidak tertular HIV/AIDS.

Dia juga tidak menampik banyak pengunjung yang berbuat naal, namun dia tolak dengan cara halus.
“Saya paham itu, tetapi saya juga mencari nafkah disini. Sebisa mungkin mungkin, saya menolaknya,” kata Dian.

Sementara salah satu pengelola yang enggan disebutkan namanya mengaku kafe yang dikelolanya ini sudah ada sejak empat tahun silam.

“Disini kami sangat keras menolak berbagai bentuk narkotika, jika soal ijin, saya ada semua, tapi narkoba saya tolak. Tempat kami juga bukan tempat prostitusi,” katanya.

Pengelola kafe seperti dirinya juga sepakat bila ada lembaga sosial semacam YCUI ikut berperan aktif melakukan pengambilan sampel darah dan memberikan sosialisasi serta pemahaman mengenai prilaku berresiko, bahaya HIV/AIDS dan narkoba di seluruh kafe-kafe yang ada di Buleleng. |NP|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here