Nikmati Kuliner di Kubu Hobbit, Dari Sate Keladi Hingga Makanan Jaman Now Es Krim Goreng

Sate keladi khas Desa Pedawa |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com| Beberapa pramusaji tampak sibuk di area wisata Kubu Hobbit Desa Pedawa, Minggu 19 Nopember 2017 diatas pukul 09.00 wita. Area wisata yang dibuka oleh Ketut Sudi Harta ini kini semakin ramai dikunjungi wisatawan.

Semakin siang, semakin banyak pengunjung. Di area Kubu hobbit juga kini dibuka gerai warung yang melayani masakan khas tradisonal Pedawa seperti Sate Keladi, ataupun kue Laklak. Ada juga makanan-makanan jaman Now semacam es krim goreng, burger maupun kentang goreng.

Ada beberapa pramusaji, lelaki dan perempuan muda dari desa setempat, Desa Pedawa. Sang pemilik Kubu Hobbit, Ketut Sudi Harta sengaja memberdayakan muda dan mudi Desa Pedawa di sana. Walaupun masih terbatas, namun Kubu Hobbit sudah membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.

Pramusaji lelaki tampak sibuk membawa daftar menu, serta buku nota untuk mencatat jumlah pesnan, Di tangan kananya ada sebuah pulpen. Mereka dengan serius mencatat segala pesanan dari pengunjung yang sedang menikmati area rekreasi di Kubu Hobbit.

Setelah itu, pramusaji laki-laki ini menyerahkan daftar pesanan itu ke dapur umum. Beberapa saat kemudian, pramusaji yang masih gadis pun mendatangi pengunjung di meja-meja yang sudah dikuasai pengunjungnya.

Walaupun tampak masih canggung, namun mereka tetap berusaha tersenyum untuk melayani pengunjung sehingga tidak ada kaku. Pengunjung juga merasa rileks ke Kubu Hobbit, apalagi sambil duduk-duduk manis dibawah,  rerimbunan tanaman perkebunan.

Beberapa saat kemudian, tampak seorang yang sudah dikenal warga, dia pecinta lingkungan, Wayan Ariawan datang ke Kubu Hobbit bersama rekannya dari Prancis, Pieter. Wayan Ariawan ini cukup terkenal di Bali Aga. Dia berasal dari Desa Sidatapa, masih dalam satu gugus desa Bali aga.

Oleh warga Bali Aga, Wayan Ariawan disebut “komandan”. Selama beberapa tahun belakangan, Ariawan terus menggerakkan warga Bali Aga untuk membenahi lingkungan.

Tujuannya, dari upaya pelestarian lingkungan ini Bali Aga bisa berbenah menjadi desa-desa yang hidup dengan kedamaian. Juga dari sisi ekonomi, berharap pembangunan lingkungan ini mampu membawa desa-desa di Bali aga menjadi desa wisata berbasis lingkungan dan adat budaya.

Perjuangan warga Bali aga sebenarnya sudah sebagian besar berhasil. Bali aga kini benar-benar berubah imej menjadi desa yang ramah dikunjungi oleh siapapun. Dulu banyak yang takut ke Bali aga hanya sekedar untuk berkunjung. Kini beda, Kubu hobbit ini menjadi salah satu buktinya.

“Saya tidak menyangka bisa seperti ini, generasi Bali aga jaman Now (sekarang, red) justru ditangannya sudah bawa daftar menu makanan, pulpen. Mereka sekarang bekerja karena ada kunjungan wisatawan ke sini,” kata Ariawan seperti kaget.

Kubu Hobbit mengawali menjadi obyek wisata di Bali aga. Di Kubu Hobbit juga sebenarnya dibangun tiga unit kamar sebagai akomodasi penginapan. Bahkan bisa dibilang, tiga unit kamar ini sebenarnya penginapan wisata pertama kali yang ada di Bali aga.

spot selfi dengan motor tua di depan akomodasi penginapan |Foto : Putu Nova A.Putra|

Namun sang pemilik Kubu Hobbit, Ketut Sudi Harta buru-buru menyatakan pada saat tertentu ketika kunjungan ke Kubu Hobbit padat sekali, apalagi di depan kamar penginapan juga ada spot selfi dua unit sepeda motor kuno, menjadikan kurang nyaman bagi yang menginap.

“Dari kondisi itu, kedepan ingin merubah konsep penginapannya. Rencananya, jika ada modal ingin buat kamar (penginapan, red)  dengan konsep rumah hobbit. Kalau sekarang kubu hobbit ini kan masih sebatas untuk selfi saja,” ujar Sudi Harta.

Awalnya, di area ini hanya dibuka produksi kopi lokal setempat khas Desa Pedawa, Moola Pedawa namanya. Lalu, berbagai ide brilian muncul dari Sudi Harta bersama sejumlah kawan-kawannya seiring dengan niat membangun kawasan Bali aga.

Di sela-sela produksi kopi, lalu muncul ide membuat rumah kecil berbentuk rumah kurcaci. Hingga akhirnya,  semua ide dikolaborasikan menjadi obyek wisata seperti sekarang.

Soal kuliner, Kubu Hobbit menyediakan berbagai makanan tradisional khas Desa Pedawa seperti sate keladi maupun kue Laklak. Ada juga makanan modern atau makanan jaman now seperti es krim goring, burger, kentang goreng maupun yang lainnya.

Lokasi makan bagi pengunjung juga cukup nyaman. Ada dua lokasi, di bagian depan yang dekat dengan minimarket dan produksi kopi.  Diwarung ini, didesain dengan sealami mungkin. Meja makan dan tempat duduknya dibuat dari kayu-kayu gelondongan yang dibiarkan seperti aslinya. Cuma dipermak dengan cat penghalus saja.

Sate Keladi, kini menjadi salah satu kuliner favorit di Kubu Hobbit. Kata Sudi Harta, Sate keladi adalah makanan khas dari Desa Pedawa, bahkan tergolong makanan yang cukup tua. Makanan sate keladi ini bahkan sempat lama tidak dibuat lagi oleh warga di Bali aga, karena kalah oleh makanan jaman sekarang.

“Kita mulai lagi, agar bukan saja budaya yang bisa kita lestarikan namun juga soal kulinernya,” kata Sudi Harta.

Proses pembuatan sate keladi ini juga sama saja dengan sate pada umumnya. Dicampur dengan parutan kepala serta bumbu Bali.

“Rasanya nikmat, pedas dan enak sekali. Cocok sekali untuk para vegetarian,” ucap Pieters, wisatawan asal Prancis.

Pieters bahkan sempat melihat ke dapur hobbit untuk melihat proses pembuatan sate keladi ini. Menurutnya, Kubu Hobbit harus bisa mempertahankan gaya tradisionalnya supaya tidak meninggalkan warisan masa lalu.

Pieters tampak terkesima dengan cara warga memanggang sate keladi diatas tungku api tradisional.

“Tungku ini bagus sekali, sangat klasik. Ini harus dipertahankan,” kata Pieters.

Dan semakin sore, akhir pekan kemarin di Kubu Hobbit semakin ramai.  |Pewarta : Putu Nova A.Putra|

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here