Krisis Air Bersih di Madenan Teratasi

Singaraja, koranbuleleng.com | Krisis air bersih selama bertahun-tahun di Desa Madenan sudah teratasi.  Kini sarana air bersih yang bersumber dari kawasan hutan lindung Bali Timur di wilayah Kabupaten Bangli diapsok untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga desa Madenan.

Dari sumber air ke desa Madenan mencapai jarak 16,8 kilometer. Sumber air bersih berada di dalam kawasan hutan lindung sehingga proses perijinan untuk pemanfaatan sumber air pun cukup berliku karena harus mengantongi ijin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Program pembangunan sarana air bersih ini didanai dari dana APBD Buleleng senilai Rp2,7 miliar disertai dengan dana dari program Pansimas (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) senilai Rp380 juta dan dana desa sebagai penyertaan sebesar Rp50 juta. Total dana yang dihabsikan untuk membangun sarana air bersih mencapai Rp3,2 miliar.

Saat ini, pengelolaan air bersih  dikerjakan oleh desa adat Madenan sampai BUMDes desa setempat siap untuk mengelola secara professional. Harga per meter kubik juga cukup murah, hanya Rp1000/m3.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meresmikan secara langsung  pembangunan sarana air bersih di desa Madenan, Rabu 11 April 2018.

Agus menyatakan bahwa Pemkab Buleleng memang sudah memprogramkan untuk menuntaskan permasalahan air bersih bagi pedesaan di Buleleng, termasuk di Desa Madenan.

Menurutnya permasalahan air di Desa Madenan sudah terjadi sejak lama, sebelum dirinya menjadi kepala daerah Buleleng. Prosesnya pun cukup panjang untuk bisa mewujudkan sarana air bersih ini.

“Saya berharap, warga Madenan jaga hutan diatas. Kalau ada sifatnya ritual ke Selulung (lokasi sumber  air, red ) agar dijalankan dengan baik, agar kita tidak hanya sekedar memanfaatkan saja,” harap Agus.

Sementara itu, Kadis PUPR Buleleng, Ketut Suparta Wijaya mengatakan debit air yangdimanfaatkan mencapai 15 liter/pedetik. Debit cukup besar untuk mengaliri kebutuhan air bersih bagi Desa Madenan.

Pemerintah membangun pipa transmisi mencapai panjang 13,5 kilometer dan pipa distribusi 3,3 kilometer. Sarana pipanisasi ini cukup panjang karena harus mengambil sumber air dari wilayah kabupaten lain.  Sementara pengerjaannya hanya berselang enam bulan mulai dari pemasangan pipa di sumber air sampai distribusi ya.

“Kesulitan kemarin kita itu mengurus perijinan saja, karena berada di dalam wilayah hutan lindung. Tetapi syukur sekarang sudah bisa selesai dan sarana iar ini sudah bisa memenuhi kebuthan warga desa,” ujar Suparta.

Untuk pengelolaan jangka panjang, warga desa tetap harus berkoordinasi dengan pihak pengelola hutan lindung sehinga memudahkan perawatan sarana air bersih.

Disisi lain, Kepala Desa Madenan Komang Mudiartono mengatakan sebelum ada pembangunan sarana air bersih ini, warga seringkali membeli air bersih dengan harga yang sangat mahal.

Sebenarnya, sebelum sarana air bersih saat ini dibangun, memang ada sumber air lain yang dimanfaatkan dari wilayah Sanda di Kabupaten Bangli. Namun volume air dari sumber air dari Sanda sangat kecil dan tidak mampu memenuhi kebutuhan air bersih warga secara keseluruhan. |NP|