Jejak Pendudukan Belanda dan Jepang di Tarakan

Salah satu sudut Museum Sejarah Perang dunia II di kota Tarakan |Foto : Rika Mahardika|

Tarakan, koranbuleleng.com| Tarakan, salah satu kota penghasil minyak di Kalimantan Utara. Potensi minyak yang cukup besar di negeri “Bumi Paguntaka” ini menjadikan Tarakan sebagai ladang penjajahan bagi Belanda dan Jepang di masa lalu.

Sebuah perusahaan perminyakan Belanda, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapii) pada tahun 1896 menemukan sumber lading minyak terbesar di Nusantara di kawasan ini. Belanda yang sudah mulai bercokol di Pulau Jawa lalu mendatangkan sejumlah pekerja dari sana untuk mengebor minyak di Tarakan.

Pada tahan 1923, Pemerintah Hinida Belanda menempatkan seorang pejabat, berkedudukan sebagai asisten residen di pulau Tarakan membawahi lima wilayah yakni Tanjung Selor, Tarakan, Malinau, Apau Kayan, dan Berau. Asisten residen ini adalah penguasa untuk mengatur kekayaan Tarakan yang sudah dicaplok penjajah Hinda Belanda.

Saat perang asia pasifik, Jepang juga melancarkan serangan pertama kali ke Indonesia melalui Tarakan. Disinilah, awal mula pendudukan Jepang bermula. Ladang minyak menjadi salah satu upaya Jepang menduduki Nusantara agar pundi-pundi kekayaan mereka terus penuh.

Jepang mulai menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan Belanda dalam pertempuran yang berlangsung selama 2 hari. Diketahui, separuh pasukan Belanda tewas. Namun begitu, Belanda sempat menyabotase ladang-ladang minyak di Tarakan sebelum benar-benar kalah dari Jepang.

Namun Jepang berhasil memperbaiki sejmlah sumur pengeboran untuk memproduksi minyak. Diperkirakan hingga 350.000 barel minyak diproduksi tiap bulan dari awal tahun 1944.

Kisah pendudukan Belandan dan Jepang di Tarakan sampai saat ini masih membekas. Puing-puing masa lalau tersimpan di Museum Sejarah Perang Dunia II Tarakan, sebagai salah satu museum yang menyimpang sejarah perang dunia ke II dan asia pasifik.

Lokasi museum ini tepat berada di jantung Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Memasuki museum, pengunjung disuguhi dengan sejumlah barang peninggalan Perang Dunia II milik tentara Jepang dengan tentara Sekutu Belanda.

Pengunjung diajak bernostalgia ke masa perang di masa lalu melalui rentetan duplikat foto, sementara aslinya masih tersimpan di Negara Belanda.

Kemudian ada lagi barang bersejarah berupa pedang Kepolisian. Pedang itu merupakan bagian dari perlengkapan dan peralatan oprasional Satuan Kepolisian yang digunakan untuk melaksanakan tugas, setelah terbentuknya Satuan Kepolisian tanggal 1 Juli 1946.

Museum ini juga menyimpan seragam militer Kapten Cyril James Gray, seorang komandan pasukan Infanteri dari Australia. Kapten Cyril James Gray memimpin pasukan Negeri Kangguru datang ke Tarakan tanggal 1 Mei 1945 silamMuseum ini mendapatkan seragam itu dari keturunan Cyril pada Desember 2016 lalu.

Meiska, salah satu pemandu museum. Sudah sangat paham tentang lekak-lekuks ejarah tarakan di masa lalu. Kata Meiska, bangunan yang dimanfaatkan sebagai lokasi museum ini merupakan peninggalan kantor area pertambangan Tarakan pada masa peperangan dahulu. Kontruksi bangunan masih tetap asli. Pemerintah Kota Tarakan hanya melakukan rehab pada beberapa bagian yang mengalami kerusakan.

Museum ini baru diresmikan pada 23 November 2017 lalu, sehingga museum ini belum memiliki konsep. Walaupun demikian, museum kerap kali dikunjungi oleh siswa setempat sebagai bahan pembelajaran.

“Biasanya sih yang sering berkunjung ke sini siswa. Kalau pengunjung dari luar daerah ada yang datang, walaupun tidak terlalu sering,” Jelasnya. |RM|