Diduga Warga dari Pedawa Migrasi ke Kei Pada Abad 10

Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun saat menemui sejumlah tokoh di wilayah Bali Aga sebagai salah satu upacaya membangun jembatan budaya antara Maluku Tenggara dengan Kabupaten Buleleng melalui penelusuran jejak sejarah, sosial dan budaya.

Singaraja, koranbuleleng.com | Maluku Tenggara sedang berusaha membangun jembatan budaya dengan Kabupaten Buleleng, khususnya di Desa Pedawa. Niat ini diyakini karena sebagian penduduk Kei diyakini mempunyai leluhur dari Desa Pedawa, di Kecamatan Banjar.

Keyakinan adanya hubungan keterkaitan leluhur di Desa Pedawa dengan orang Kei berdasar dari hukum daerah setempat sebagai tatanan hidup warga setempat yang disebut “Larvul Ngabal”. Dari sinilah ditelusuri.

Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara,  Peny Renwarin, SE M.SI mengatakan Larvul Ngabal berarti darah merah tombak Bali. Dari tatanan hidup itu, warga Kei meyakini ada tetua adat yang membuat aturan  hidup itu. Diyakini, diabad ke-10 silam, prinsip hidup orang Kei  sudah ada yang di dimotori oleh leluhur dari Bali yang bermigrasi ke Pulau Kei.

“Dari berbagai cerita dan tutur orang tua kami, ada juga pendekatan-pendekatan ilmiah kami yakini kehidupan kami ada hubunganya dengan warga Buleleng di Desa Pedawa, desa tua ini,” tutur Peny saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu 1 September 2018.

Dari beberapa temuan, ada sejumlah benda-benda warisan leluhur di Kei yang mirip dengan warga di Desa Pedawa. Bahkan, dari karakter budaya dan postur perawakan tubuh juga ada kemiripan.

“Di wilayah kami, ada sekitar 40 rumah adat yang masih dilestarikan sampai sekarang dan mirip dengan rumah adat yang ada di Desa Pedawa. Selain itu, kami juga mendapatkan prasasti Blanjong dari seorang peneliti budaya Bali yang kami yakini ada kemungkinan keterkaitan Kei dengan Pedawa,” tambahnya.

Peny menuturkan, kunjungan kemarin ke Bali aga itu juga sebagai bentuk silaturahmi dan sebagai upaya penjajakan sosial budaya dari keterkaitan yang diyakini selama ini.

“Penjajakan dilakukan, tidak hanya dari sisi ilmiah, tetapi keyakinan kita, leluhur kita sebagian dari Buleleng.” ujarnya.

Pemikiran untuk melakukan penelusuruan ini sudah dimulai dari tahun 2016 silam. Dan keyakinan, Desa Pedawa sebagai salah satu desa muasal leluhur mereka baru ditemukan sekitar bulan Desember 2017.

“Memang belum ada keyakinan hingga 100 persen, tapi ini upaya kami untuk menemukan sejarah kita, bayangkan kita akan membuka sejarah sebagian Indonesia dari abad ke-10.” ujarnya.

 

“Kami memperkirakan kami ini adalah keturunan ke-16 dari leluhur yang berasal dari Bali,“ katanya.

Kemarin, saat rombongan Pemkab Maluku Tenggara ke wilayah Desa Sidatapa dan Desa Pedawa dipimpin langsung oleh Bupati  Maluku Tenggara, Anderias Rentanubun.

Salah satu tokoh Desa Sidatapa, Wayan Ariawan mengakui ahwa desanya dikunjungi oleh Bupati Maluku Tenggara bersama rombongannya untuk melakukan penelusuran terkait jejak leluhur warga Kei di Maluku Tenggara.

Menurut Ariawan, pihkanya menerima dengan terbuka warga Malu Tenggara. “Pada prinsipnya, kita semua Orang Indonesia inia dalah bersaudara. Apapun yang mereka butuhkan kami siap membantu,” ujar Ariawan.

Ariawan mengaku mengajak rombongan Bupai Maluku Tenggara ini melihat kehdupanw arga di Desa Sidatapa serta warisan-warisan budaya yang masih ditinggalkan terlihat sampai kini.

Sesuai dengan keyakinan warga Maluku Tenggara, ada beberapa kesamaan kehidupan warga Kei dengan warga di Desa Sidatapa dan Desa Pedawa.

“Dari karakter manusia, keras, sama dengan kita. Postur tubuh yang ada kemiripan, serta beberapa temuan rumah dan warisan budaya seperti keris katanya berasal dari Bali aga,” ujar Ariawan.

Ariawan juga mengajak ke rumah adat Desa Pedawa menemui tokoh di Desa Pedawa. Konon, Desa Pedawa dan Desa Sidatapa dulunya berasal dari leluhur yang sama pula. Ada orang Desa Pedawa di jaman dahulu kala membuka desa di Desa Sidatapa hingga bernaka pinak hingga sekarang.

“Diduga, dari saudara-suadra kita yang dulu inilah juga bermigrasi ke wilayah Maluku Tenggara. Tapi bukti otentik kita tidak punya, baru dugaan semata,marikita telusuri lebih dalam olehkita sendiri,” ajak Ariawan.  |NP|