Menjaga Lingkungan Untuk Kebaikan Pariwisata

Pelepasliaran burung di Monkey Foret Tigawasa |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Sejumlah komunitas pecinta lingkungan dari Bali Aga, My Darling bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng melakukan pelepasliaran burung dan penanaman pohon buah-buahan di area hutan desa Tiugawasa, Kecamatan Banjar, Jumat 28 September 2018.  Hutan desa ini sebenarnya dihuni oleh kumpulan kera, kini warga setempat memberikan nama lokasi tersebut sebagai Monkey Forest Tigawasa.

Namun kelemahannya selama ini, Monkey Forest Tigawasa pada saat musim kemarau selalau alami kekeringan, sementara tidak ada pepohonan yang bisa tumbuh subur saat kemarau seperti sekarang.

Kini, menjelang musim penghujan ini, warga dan pecinta lingkungan My Darling melakukan upaya penanaman pohon supaya hutan ini bisa dijaga keasriannya ketika musim kemarau.

Kepala Desa Tigawasa, Made Suadarma Yasa mengatakan desa Tigawasa masih memiliki lahan hutan desa yang sangat luas. Namun, selama ini kera-kera yang ada di Monkey Forest ini kekurangan makanan karena tidak ada tanaman atau buah yang bisa dijadikan untuk santapan makanan ketika kemarau.

Untuk itu, warga serta sejumlah relawan yang mencintai lingkungan berinisiatif untuk membuat sejumlah tempat-tempat makanan bagi kawanan kera disini.

“Sudah ada orang-orang yang rela menaruh makanan di tempat-tempat makanan yang sudah kita buat, agar kera-kera disini bisa makan. Karena secara alami tidak ada makanan bagi kera-kera itu ketika musim kemarau seperti sekarang,” terang Suadarma Yasa.

Hutan desa di Desa Tigawasa masih cukup luas sehingga berpotensi menjadi habitat bagi hewan lainnya. Pelepasliaran burung di kawasan hutan desa juga diyakini mampu menambah spesies burung yang ada selama ini.

Kedepan, hutan desa dengan habitat kera dan hewan lainnya ini akan dijadikan destinasi wisata alam baru.

“Kami bertekad untuk menjadikan kawasan hutan ini sebagai monkey forestnya Buleleng, untuk itu kami memulai dengan membangun lingkungan dan kawasan hutan ini,” ujarnya.

Desa Tigawasa juga melarang warganya untuk menangkap dan menembak burung jenis apapun. Kebijakan ini sebenarnya sama di seluruh desa yang ada di Bali Aga. Desa-desa di Bali Aga bersatu untuk menjaga lingkungan tetap lestari dan melarang perburuan hewan.

Sementara itu, anggota My Darling, Wayan Ariawan membenarkan pihaknya sedang melakukan upaya untuk membangun imej agar hutan desa di Desa Tigawasa dan sekitarnya bisa dijadikan kawasan monkey forest.

Untuk itulah, menjaga keasrian lingkungan, menambah jenis tanaman dan spesies burung ataupun hewan lainnya adalah upaya awal untuk menjadikan destinasi wisata baru bisa dibuka di masa yang akan dating.

“Jika hanya mengandalkan keindahan alam, kita kalah dengan Negara lain. Tapi kita buat keunikan, termasuk menjaga budaya dan lingkungan yang asri untuk pariwisata kita,” kata Ariawan.

Sementara itu, Kadis Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan sedang ada upaya pemerintah untuk menyatukan berbagai bidang untuk membangun pariwisata di Buleleng. Kebetulan saat ini, berlangsung Festival Lovina yang diramaikan oleh para yachter dari berbagai Negara sehingga mereka bisa mengenal wisata di Buleleng yang menyatupadukan dengan lingkungan.

Pelepasliaran dan penanaman pohon di hutan Desa tigawasa, merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat desa untuk membangun lingkungan termasuk membangun pariwisata sebagai outputnya di masa datang.

“Menjaga lingkungan salah satu upaya investasi pariwisata. Tempat ini adalah tempat berkumpulnya kera-kera, tetapi mereka kekurangan makanan saat kemarau. Mulai saat ini kita jaga lingkunganya agar kedepan tempat ini lebih asri sehingga mampu menjadi destinasi wisata baru nantinya,” kata Sutrisna.

Sutrisna berharap dengan destinasi wisata baru yang terus bermunculan maka tingkat kunjungan wisatawan bisa ditingkatkan dan tingkat hunian hotel juga bisa lebih lama.|NP|