Panggung Tuti Dirgha di Hari Pahlawan

Pementasan Sumarni astuti alias Tuti Dirgha

Singaraja, koranbuleleng.com | Hari Pahlawan, 10 Nopember 2018 menjadi panggung drama bagi Sumarni Astuti, atau yang dikenal sebagai Tuti Dirgha. Dia seorang ibu yang tabah, sabar namun juga seorang penulis. Di hari Pahlawan, Tuti Dirgha menjadi aktor teater dari projek teater dokumenter  11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah garapan Sastrawan muda, Kadek Sonia Piscayanti. Sonia menggarap projek teater dokumenter ini setelah mendapatkan hibah dari Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi.

Tuti Dirgha melakukan pementasannya di Puri Buleleng. Sonia dan Tuti Dirgha mempunyai hubungankedekatan,layaknya seorang Ibu dan anak. Tuti Dirgha adalah guru saat dirinya bersekolah dimasa kecilnya. Dialah yang punya jasa menyambungkankata perkata di sekolahnya, mengajarkan bahasa dan sebagainya. Sabar dan tabah, adalah karakter tuti ang diketahui oleh Sonia.

Itulah yang menjadi dasar pilihan Sonia untuk mengangkat kisah hidup Tuti keatas pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 kisah.

Ketabahan Tuti juga tersingkap dari kisah hidupnya yang pilu atas berbagai kematian yang dihadapi keluarganya.  Tuti, seorang ibu yang melahirkan enam anaknya, namun satu orang anaknya meninggal dunia ketika berumur 6 bulan. Kejadian itu membuatnya terus belajar hidup dan bijak menghadapi kematian itu sendiri. Disela menghadapi cobaan yang belum terhapus darikematian sang anak, ada lagi keluarganya yang menghadap Hyang Kuasa mulaid ari mertua, saudara-saudara ipar dan yang lebih membuatnya lebih bersedih adalah kematian sang suami.

Namun tak ingin lama terus terjerumus kesedihan, Tuti Dirgha berusaha bangkit. Memikirkan nasib anak-anaknya yangharus diberi masa depan baik.

Seperti itulah Tuti Dirgha, yang pantas mementaskan jiwa kepahlawannya menghadapi berbagai persoalan hidupnya. Dia pahlawan bagi anak-anaknya, karena mampu memberikan kebangkitan setelah cobaan yang dihadapi keluarganya.  Dia memberikan inspirasi bagi yang lain.

Di projek ini, masih vulgar dalam ingatan, profil perjuangan dari masing-masing ibu. Setidaknya ada tujuh pentas sebelumnya. Ada Ibu Erna Dewi, seorang pembaca tarot yang berjuang untuk keluarga. Ada Ibu Watik, seorang tukang batu yang merantau ke Bali untuk menghidupi keluarganya di Jawa. Ada Ibu Hermawati, seorang keturunan China yang menikah dengan lelaki Bali yang berjuang di keluarga mencari asal usul leluhur di tengah kerinduannya mencari rumah jiwa.

Diah Mode seorang desainer juga berbagai cerita diatas panggung. Diah merancang baju seperti merancang hidupnya sendiri. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal dibidang fashion namun belajar otodidak hingga karyanya dikenal bahkan di tingkat nasional.

Ada Ibu Simpen seorang bidan senior yang berjuang menolong kelahiran ribuan bayi dan menolong dirinya sendiri keluar dari persoalannya. Ia pernah mengalami trauma karena isu kekerasan domestik di pernikahan pertamanya namun bangkit lagi dan menata pernikahan keduanya.

Ada juga ibu Sukarmi yang tuna rungu dan tuna wicara namun tetap menjadi tulang punggung keluarga. Ia pernah menikah dua kali, dan gagal. Kini ia menikah untuk ketiga kalinya dan menata kembali hidupnya.

Yang akan pentas setelah pentas ke delapan ini adalah Ibu Tini Wahyuni, seorang pelukis, pemusik dan penyuka kesunyian yang kini berdamai dengan dirinya sendiri. Ia pernah  dua kali jalani kegagalan dalam rumah tangga dan kini memilih sendiri dan menghayati hidupnya yang sederhana berteman dengan kanvas, piano dan anjing-anjingnya. Ibu Tini akan pentas pada tanggal 17 November 2018.

Pentas berikutnya adalah pentas kesepuluh Ibu Cening Liadi yang mengambil kisahnya berjuang menemani anaknya yang sakit. Sakit anaknya adalah sakit misterius yang hampir membuatnya putus asa, namun ia bisa bangkit lagi. Ibu Cening akan pentas pada tanggal 7 Desember 2018.

Pentas terakhir adalah pentas Prof. Pk Nitiasih atau Ibu Titik yang  menjadi seorang ibu peracik menu masa depan bagi keluarga dan anak-anaknya. Prof. Titik berjuang menjadi pengayom, penyokong, pelindung keluarga di samping menjadi akademisi dan pejabat di kampus. Perjuangannya bisa kita saksikan di rumah beliau sendiri pada tanggal 15 Desember 2018.