Bala Tentara Jepang Masuk ke Bali

Bala Tentara Jepang di masa lalu |Sumber foto : Internet|

Singaraja, koranbuleleng.com | Pada suatu malam kira-kira pukul 20.00, di bulan Februari 1942, rakyat Bali dikejutkan oleh nyala yang merah di atas kota Denpasar dan Singaraja. Nyala merah membumbung tinggi hingga jauh ke langit hitam, menyebabkan kedua kota itu bermandikan cahaya merah, seolah-olah kedua kota itu sedang mengadakan pesta mahabesar.

Tidak, nyala merah dan kuning yang mahabesar dan mahatinggi itu bukan sebagai suatu tanda lagi berlangsungnya suatu pesta yang mahabesar. Nyala merah dan kuning itu merupakan suatu pertanda sebuah malapetaka yang mahabesar akan mengancam Pulau Bali yang aman dan damai itu. Bahaya perang besar akan mengancam ketenteraman dan ketenangan yang selalu dibutuhkan.

Tetapi nyala merah dan kuning itu terus saja berkobar-kobar, menghanguskan segala yang berdekatan denganya. Beratus-ratus liter drum bensin, berpuluh-puluh gudang bahan bakar di bumi hanguskan oleh serdadu-serdadu anggota pasukan regu penusuk. Regu penusuk ini terkenal dengan nama “vernielingsbrigade”, sebuah alat pertahanan Pemerintah Hindia Belanda yang gagah perkasa.

Regu penusuk ini dengan sangat gagah berani membakar semua persediaan bahan bakar yang ada di gudang-gudang BPM dan DPM di kedua kota tersebut. Inilah pertanda buat Pulau Bali akan adanya bahaya perang dahsyat yang tidak pernah diumumkan. Memang Bali belum pernah mengumumkan perang dengan siapa pun dan kapanpun.

Benarlah, keesokan harinya di atas pesisir pulau Bali di bagian sebelah selatan, di tepi laut Samudra Hindia terjadi pertempuran udara yang hebat antara penerbang-penerbang negeri matahari terbit dengan penerbang-penerbang Australia di langit biru. Demikian hebatnya pertemputan udara ini, sehingga dua penerbang Australia dengan pesawat pemburu mereka rontok.

Kedua peswat pemburu ini tergabung dalam armada Serikat, dimana Australia termasuk di dalamnya. Kedua pesawat pemburu jatuh berkeping-keping. Satu ditepi laut  Sekeh dan yang satu lagi jatuh di dekat Desa Blahkiuh. Penerbang-penerbangnya terjun selamat dengan payung mereka. Atas kerelaan penduduk, mereka ditolong diselamatkan kemudian diantar menuju Gilimanuk agar dapat menyebrang ke Jawa.

Pada keesokan harinya lagi, yaitu pada tanggal 19 Pebruari 1942, setelah pertempuran laut dan pertempuran udara antara balatentara Jepang dan Serikat diperairan Samudra Hindia di sebelah selatan pulau Bali berlangsung dengan seru dan hebatnya, maka bala tentara Jepang Raya (Dai Nippon) melakukan pendaratan di pantai Sanur di Bali Selatan. Pantai Sanur yang sangat indah dan bersejarah itu.

Serentak dengan pendaratan yang dilakukan oleh bala tentara Jepang Raya itu, serdadu-serdadu alat pertahanan pemerintah Hindia Belanda yang tergabung dalam kesatuan Prayoga (parayuda), dibawah pimpinan opsir-opsir Belanda, degan bergegas sigap bersiap-siap melakukan siasat mundur teratur, meninggalkan kota Denpasar. Pangkalan udara Tuban dan tempat-tempat pertahanan lainya yang penting-penting di Bali selatan mundur menuju kedaerah pedalaman Bali.

Sesampainya di desa Penebel dan sekitarnya, anak buah pasukan yang tergabung dalam kesatuan Prayoga ini mendapat perintah berhenti di tempat, membuka baju dan celana seragam mereka serta menanggalkan segala peralatan perang yang masih lekat di tubuh mereka.

Mobil-mobil, truck-truck kesatuan tentara Pemerintah Hindia Belanda ini dibebastugaskan, dilepaskan dan disuruh masuk jurang, setelah dipreteli dan dimartili pada bagian-bagian mesin hingga menyebabkan mobil dan truk ini tidak dapat beroperasi  jikalau sewaktu-waktu akan diangkat dari jurang yang dalam itu.

Setelah serdadu-serdadu kesatuan Prayoga ini melepas pakaian militer mereka yang serba hijau itu, maka menyusulah perintah,  “Sekarang, boleh pulang! Tidak boleh membawa senjata dan harus kembali menjadi penduduk biasa, supaya tidak dicurigai oleh balatentara Jepang! Perintah selesai!” .

Dengan adanya perintah ini, bubarlah kesatuan Prayoga ini tanpa syarat. Dengan bubarnya kesatuan Prayoga yang terdiri dari pemuda-pemuda Bali asli, maka bubar pulalah alat pertahanan Pemerintah Hindia Belanda di pulau itu.

Balatentara Jepang memasuki pulau Bali tanpa perlawanan dari pihak musuhnya, personil dari pasukan kesatuan Prayoga yang telah pulang lebih dulu ke asal masing-masing. Berakhirlah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di pulau Bali. Sesungguhnya Belanda tidak terlalu lama pernah menjajah Bali, dalam arti kepulauan Nusantara sebagai daerah jajahanya. Hanya kurang lebih selama 35 tahun.

Memang benarlah perlawanan tidak ada sama sekali dari pihak alat-alat kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda yang terjadi di pulau Bali. Kecuali pertempuran laut dan pertempuran udara yang diceritakan di atas tadi, yang dilakukan serdadu-serdadu Australia dan Amerika Serikat, yang tergabung dalam kesatuan angkatan perang Serikat (disebut juga sekutu), perlawanan dari serdadu-serdadu Prayoga tidak ada. Karena Belanda adalah anggota Serikat, maka alat pertahanan Pemerintah Hindia Belanda juga tergabung di dalamnya.

Sikap opsir-opsir  Belanda, yang termasuk memegang komando kesatuan Prayoga, seperti diceritakan di atas, kiranya dapat dibenarkan. Sebab, kalau tidak demikian pasti ia sendiri mati konyol ditembak oleh anak buahnya, yang memang akan dilakukan oleh anak-anak Prayoga seandainya komandan mereka tidak mengerjakan demikian.

Maklum, anak-anak Prayoga ini tidak mempunyai kesadaran bertempur melawan musuh. Betapa tidak karena anak-anak Prayoga sendiri tidak meyakini dirinya untuk apa mereka berperang, atas dasar apa mereka disuruh bertempur, sedangkan kesadaran akan cinta Tanah Air dan Bangsa tidak pernah dibayangkan oleh pimpinan mereka, itu opsir-opsir Belanda yang menjajah negeri dan bangsanya. Bagaimana opsir-opsir Belanda ini menanamkan rasa kesdaran cinta Tanah Air dan bangsa bagi anak-anak Prayoga yang mereka pimpin.

Mereka, orang-orang Belanda kaum penjajah yang memiliki watak colonial yang mendarah daging, sesungguhnya membenci rasa kebangsaan yang tumbuh di dada tiap manusia di Indonesia. Mereka, orang-orang Belanda ini menganggap momok rasa kebangsaan itu.

Demikianlah semangat atau kemauan berperang di pihak anak-anak Prayoga ini tidak pernah terbayang. Berperang melawan musuh yang memiliki keyakinan besar dan kuat untuk menang, tentu tidak terbayang dihati mereka, karena mereka sendiri sebetulnya tidak pernah meyakini adanya musuh mereka. Dengan sendirinya mereka tidk mempunyai nafsu untuk perang.

Inilah kesalahan Beanda yang  sangat besar terhadap Bangsa Indonesia. Tidak pernah mengajak mereka berunding soal Tanah air dan Bangsa mereka, baik di zaman damai maupun di masa perang. Tidak pernah Belanda mau mendekati keinginan-keinginan rakyat, bangsa Indonesia yang dijajahnya.

Tidak pernah Belanda mau mendengar apa kata pemimpin-pemimpin rakyat Indonesia yang sunguh-sunguh mau bekerja sama dengan mereka. Bekerja sama dengan syarat-syarat penghargaan yang wajar sebagai bangsa yang mau bersatu hidup damai, rukun dan iklah.

Bekerja sama dengan hasrat dan keinginan menyusun pemerintahan sendiri atas bimbingan bangsa Belanda. Tetapi Belanda sendiri mengangap segala sesuatu itu sepi saja, dan membiarkan mereka tanpa hirau. Malah Belanda membenci dan mencurigai mereka.

Justru karena sebab-sebab inilah bangsa Indonesia, dengan adanya perang yang diumumkan oleh pihak Belanda terhadap negeri Jepang Raya, tidak pernah merasa tersangkut ikut perang melawan balatentara Jepang. Justru karena inilah, maka rakyat Indonesia tidak pernah merasa berkewajiban membela pemerintah Belanda atas ancaman perang dari baltentara Jepang Raya yang ditunjukan kepada pemerintah Belanda dengan segala alat kekuasaan. Demikian pulalah halnya dengan rakyat Bali, sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Anak-anak Prayoga tidak terkecuali.

Begitu balatentara Jepang masuk ke pulau Bali, begitu kesatuan Prayoga bubar tanpa syarat. Mereka kembali ke kampung mereka masing-masing untuk menemui keluarga mereka yang ditinggalkan selama melakukan tugas sebagai anggota kesatuan Prayoga. Dengan bubarnya mereka sebagai anggota Prayoga maka selesailah pula tugas dan hubungan mereka dengan opsir-opsir mereka orang-orang Belanda yang tidak pernah disesalkan kepergianya.

Rakyat biasa yang mendengar berita masuknnya balatentara Jepang, yang digambarkan sebagai orang-orang kate, berkulit kuning, mata sipit dan terkenal sangat kejam dan gearing, merasa takut dan ngeri. Lebih-lebih kalau mendengar bunyi sirine yang mengaung-ngaung di udara sebagai tanda bahaya. Banyalah orang, penduduk kota (lebih-lebih orang berada, pedagang, hartawan dan sebagainya) pada mengungsi ke desa-desa.

Yang di desa-desa mengungsi ke gunung-gunung dan yang digunung-gunung mengusngsi ke hutan, bersembunyi di bawah-bawah pohon atau dalam semak-semak. Yang dihutan-hutan entah pergi kemana. Orang di kota menyangka di desa tidak akan ada perang, yang di desa berfikir di gunung tidak ada perang, dan seterusnya yang di gunung meyakini di hutan tidak aka ada perang.

Tetapi pengungsian ini tidak berlangsung lama. Setelah balatentara Jepang menduduki seluruh pulau dalam waktu yang sangat singkat, diserukan supaya mereka segera kembali pulang ke rumah masing-masing dan melakukan tugas kewajiban sebagai biasa. Yang berdagang supaya kembali berjualan, yang bertani supaya kembali ke sawah, yang jadi pegawai negeri supaya kembali bekerja kekantor masing-masing, yang menjadi guru supaya kembali mengajar, yang masih memegang senjata supaya menyerahkab kepada balatentara Dai Nippon, dan sebagainya.

Orang-orang Belanda dan orang-orang yang mengaku dirinya menjadi orang Belanda (kaum gelijkgestelden) , yaitu orang-orang yang haknya dipersamakan dengan hak orang Belanda antara lain residen, asisten Residen, Kontrolir dan sebagainya ditawan oleh balatentara Jepang. Orang-orang ini tidak lama kemudian dikirim ke Jawa, dimasukan dalam kamp tahanan.

Kurang lebih tiga bulan kemudian, yaitu pada bulan mei 1942, balatentara pendudukan dari Angkatan Darat Jepang yang melakukan pendaratan di pantai Sanur, seperti telah dituturkan diatas meninggalkan pulau bali. Pada waktu mereka masih ada di Bali, mereka keliahatan serba seram , brewok panjang, mata galak, keringat bau, bayonet terhunus di ujung senapan, omong kasar yang tidak dapat dipahami. Tampang serba sera mini menyebabkan rakyat jadi takut keluar rumah. Tetapi setelah mereka pergi meninggalkan pulau Bali menuju Jawa, mereka digantikan oleh Angkatan Laut Jepang, maka barulah keadaan lebih melegakan. Serdadu-serdadu Angkatan Laut Jepang ini mualai mendekati penduduk secara beramahan. Memang, mereka kelihatan lebih bersih, lebih sopan dan lebih ramah dari serdadu-serdadu Angakatan Darat Jepang.

Tidak lama kemudian, dengan remsi oleh Angkatan Laut Jepang mulailah dijalankan pemerintah sipil, dengan pegawai-pegawainya yang didatangkan dari negeri Matahari Terbit. Pemerintah sipil ini disebut pemrintahan “Minseibu” yang dikepalai oleh “cookang” yang berkedudukan di Singaraja. Berbarengan dengan Cookang didatangkan pula Kepala-Kepala Jawatan yang disebut “Kaco”. Dengan munculnya Pemerintahan Pendudukan Sipil Balatentara Jepang Raya ini, maka keadaan menjadi bertambah aman dan tentram kembali. Rakyat kembali mengerjakan pekerjaan mereka sehari-hari sebagai yang sudah-sudah.

Makin hari, makin bertambahlah jumlahnya orang-orang sipil atau preman datang dari Jepang di Bali. Di antara mereka banyak pula wanita-wanita. Orang-orang bekerja diperusahaan juga banyak datang.

Ada yang dari perusahaan “Mitzui Norin” yang mengurus kapas (dari menanam biji kapas sampai memetiknya dan menjadikan benang, lalu terus ditenun kain kapas asli), ada yang dari perusahaan “Kumiai” yang mengurus soal distribusi bahan sandang dan bahan pangan serta kebutuhan hidup sehar-hari lainya, pabrik ham yang mengurus babi dan sapi untuk dijadikan daging asinan atau kalengan dan sebgainya.

Pada awalnya kedatangan balatentara Jepang Raya ini banyak terjadi hal-hal aneh, karena tidak adanya saling pengertian pada saat-saat menyatakan kemauan atau perasaan masing-masing di antara penduduk dan serdadu-seradadu jepang, maka sering terjadi hal-hal yang membingungkan, menyinggung perasaan dan prasangka.

Seorang penduduk yang tidak mengerti makna perkataan seorang serdadu Jepang tiba-tiba saja dibentak, dipukuli atau ditendang dengn caci maki tipikal orang Jepang “Bagero! Bageo! Bagero! (Goblok, Bajingan,Laknat dan sejenisnya) lebih-lebih pada watu memberi hormat kepada seorang serdadu yang sedang berada dipos tempat kawalan dipinggir jalan didepan tangsi milter Jepang, salah salah kalau tidak bisa member hormat dengan cara membungkuk, pastilah dapat kata makian atau hadiah pukulan, tempelengan atau tendangan.

Agak sedih dan lucu peristiwanya, tatkala wanita Bali yang sedang menjujung sesuatu diatas kepalanya harus member hormat dengan jalan membungkukkan  badan dan menundukan kepala. Sungguh berabe, sebab barang-barang yang ada di dalam bakul diatas kepala bisa tumpah. Ini menyiksa namanya.

Tetapi kemudian Susana jadi biasa lagi. Rakyat kembali ke masing-masing pekerjaan dan kesibukan mereka yang dulu-dulu. Di antara rakyat yang banyak itu, ada segolongan yang merasa beruntung berkat kedatangan balatenta Jepang Raya itu, karena mereka memang benar-benar benci kepada Pemerintahan Belanda dan menginginkan Bangsa dan tanah air mereka bebas dan merdeka, mereka ini sebagian besar yang disebut kaum pergerakan, atau lazim pula dinamakan kaum nasionalisten.

Perasaan bersyukur ini kemudian bertambah besar, setelah Pemerintah Balantera Jepang Raya menyatakan kepada rakyat Indonesia umumunya dan rakyat Bali khsusnya, bahwa kedatangan mereka ke Indonesia tiada lain untuk kepentingan bangsa Asia, sudah barang tentu diartikan termasuk juga bangsa Indonesia. Pemerintah Jepang Raya menyatakan kepada rakyat Indonesia bahwa kedatangan mereka untuk mengusir bangsa kulit putih dari bumi Asia umunnya dan dibumi Indonesia khususnya.

Justru karena itu, Dai Nippon telah memaklumkan perang terhadap “serikat” perang suci Bangsa Asia. Perang untuk Asia Timur , akhirnya asia telah dikembalikan kepada Bangsa Asia, marilah kita bekerja sama untuk kepentingan Asia Timur Raya, marilah kita bekerja sama untuk kemakmuran Asia Timur Raya. Demikianlah semboyan yang di dengung-dengungkan oleh Pemerintah Jepang Raya di Indonesia.

Tulisan ini dikutip langsung dari : Buku Bali Berjuang, Nyoman S. Pendit