Bulcofest, Tempat Ngopi Gaul di Desa

Lomba meracik kopi dalam Bulcofest |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com  | Buleleng Coffee Festival atau Bulcofest hanya digelar selama dua hari saja, 1-2 Desember 2018. Digelar di area pematang persawahan di Desa Sekumpul, dengan latar belakang perbukitan menghijau dan hamparan persawahan dan laut di sebelah utaranya.

Terasa segar, dan nyaman berada di Bulcofest. Bulcofest, merupakan festival kopi pertama di Buleleng. Even ini, untuk memerkan produk kopi lokal Buleleng, terutama cita rasa kopi dari tiga desa bersaudara, Desa Sekumpul, Desa Lemukih dan Desa Galungan. Namun, ada juga kopi dari wilayah lain, seperti kopi Banyuatis yang sudah jadi pesohor lebih dulu di Bali.

Salah satu kopi lokal Buleleng dari Desa Galungan.

Bulcofest juga sebuah gaya marketing yang piawai dalam mempromosikan hasil limpah ruah kopi-kopi dari desa itu. Tentu, yang dipasarkan bukan hanya produknya tetapi lebih dari itu tentang sebuah cita rasa. Jadilah, Bulecofest tempat ngopi yang gaya atau gaul yang dihelat di pedesaan. Mau ngopi robusta, atau arabika ada disini.

Jadi, festival ini bertujuan untuk menggali keunggulan kopi Buleleng agar ada peningkatan daya saing usaha, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk. Sehingga, Kopi Buleleng nantinya mampu menembus pasar ekspor.

Di hari kedua, di arena Bulcofest ada even menantang. Yakni, adu bakat dalam meracik segelas kopi. Inilah salah satu agenda favoritnya, karena Bulcofest berupaya mendekatkan produk kopi lokal Buleleng dengan masyaraat sekitarnya.

Kadek  Rajes Darmayasa, siswa SMK Negeri 1 Sawan ikut dalam lomba meracik kopi ini. Tidak tidak memusingkan bila pesaingnya mempunyai pengalaman dalammeracik kopi.

“Tapi bagi saya, ini soal selera saja.” kata Rajes usai mengikuti lomba.

Dibawah panggung, sejumlah stan pameran kopi sudah ada. Disitu, ada berbagai macam kopi lokal Buleleng. Pengunjung bisa langsung ngopi disana. Jadi, tempat ini emang disetting sebagai pameran kopi sekaligus tempat ngopi asyik sambil memandang pemandangan alam yang luar biasa indahnya.

Bulcofest merupakan kerja bareng antara Pemkab Buleleng dengan JCI(junior Chamber International) Kabupaten Buleleng. Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Nyoman Genep mengaku Bulcofest bisa dijadikan sebagai media untuk mempromosikan kopi Buleleng yang mempunyai cita rasa yang nikmat.

Dari sini, secara perlahan masyarakat juga mendapatkan edukasi untuk kembali menanam pohon kopi. Dalam sejumlah catatan, di masa-masa lalu, banyak masyarakat Bali menebang pohon kopi karena harga kopi tidak menjanjikan.

Kini, secara ekonomi kopi justru menjadi gaya hidup sehingga potensi perkebunan kopi di Buleleng bisa dikembalikan.

Selama ini petani kopi di Buleleng masih melakukan penanaman kopi dengan tumpang sari. Pemkab Buleleng mempunyai rencana untuk memfasilitasi kebutuhan petani mulai dari cara budidaya, penggunaan bibit unggul dan memberikan pemahaman tentang pentingnya penggunaan pupuk organik untuk kopi dengan kualitas ekspor.

“Petani harus mau menggunakan pupuk organik agar kualitas kopi tetap terjaga. Selain itu pupuk organik juga banyak memiliki menafaat untuk struktur tanah,” jelasnya.

Pemerintah akan memberikan edukasi agar kelompok petani kopi menggunakan pupuk organik dan mereka juga memberikan pembinaan tentang cara budidaya kopi dengan baik antar petani.

“Nanti kita akan berikan pembelajaran bagaimana cara membudidayakan kopi yang baik, sumber bibitnya, pada umumnya saat panen harga kopi akan turun, sehingga dengan dikelompokan harga kopi tidak terlalu turun karena sudah memiliki kualitas yang baik,” ujar Genep.

Tentang festival kopi ini, pemerintah akan membuka pintu seluas-luasnya agar festival kopi seperti ini rutin digelar untuk mengenalkan kopi Buleleng.

“Ini kesempatan bagi kita untuk terus memasarkan dan mempromosikan kopi Buleleng. Potensi yang kita miliki soal kopi ini sangat besar,” ujar Genep.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mendukung petani yang ingin membudidayakan tanaman kopi. Kini, kopi memiliki pasar yang sangat bagus, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Ia menambahkan, kopi dapat dijadikan berbagai macam olahan sehingga memiliki nilai jual yang berbeda.

“Nanti mungkin ibu-ibu PKK bisa membuat olahan makanan dengan bahan dasar kopi misalnya jajanan tradisional dan roti dengan rasa kopi,” ungkapnya.

Kata Bupati, Pemerintah akan membantu warga untuk untuk mempromosikan kopi Buleleng karena kopi lokal Buleleng memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain.

“Untuk pasar lokal saya yakin Kopi Buleleng mampu bersaing. Kenggulan ini lah yang harus kita kembangkan sehingga kopi Buleleng dapat berkembang,” pungkasnya.

Sementara Gede Santiawan, salah satu petani kopi dari Desa Galungan, Kecamatan Sawang mengaku diuntungkan dengan perhelatan buleleng Coffe festival ini. Dirinya adalah petani kopi dan juga memproduksi hasil-hasil pertanian kopi untuk dijual ke konsumen.

Di Bulcofest ini, dia bisa memajang beragai kemasan kopi Galungan, serta kopi luwak yang dihasilkan secara alami.

“Kami juga memproduksi kopi luwak, seperti ini,” ujar Santiawan menunjukkan produksi kopi luwaknya. |I Putu Nova A.Putra|