Barong Rangda Jadi Karya Seni Struktur Terumbu Karang

Pementasan tarian Barong dan Rangda dalam Pemuteran Bay Festival

Singaraja, koranbuleleng.com | Konsep Rwa Bhneda, dua perbedaan yang selalu diyakini ada dalam kehidupan masyarakat Bali. Baik dan buruk, selalu bermunculan.  Di Bali, konsep rwa bhineda bisa disimbolkan dengan karakter Barong dan Rangda.

Karakter Barong dan Rangda inilah dijadikan sebagai sebuah karya seni struktur terumbu karang biorock yang akan ditenggelamkan dalam rangkaian Pemuteran Bay Festival, di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak.

Struktur terumbu karang Barong dan Rangda ini rencanaya akan ditenggelamkan Kamis 13 Desember 2018 di Teluk Pemuteran oleh puluhan penyelam profesional bersama masyarakat Desa Pemuteran. Ada juga, aktifis lingkungan dan wisatawan mancangera ikut urun kontribusi dalam penenggelaman struktur biorock Barong dan Rangda ini.

Pemuteran Bay Festival mengemban misi pelestarian lingkungan. Melakukan berbagai upaya konservasi lingkungan hidup terutama penjagaan terhadap terumbu karang dan  habitat wilayah  perairan secara berkelanjutan.

Namun konsep konservasi lingkungan tanpa meninggalkan konsep seni budaya Bali, sehingga dua sudut ini bisa menjadi satu untuk tujuan yang sama yakni kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Konsep-konsep konservasi lingkungan dengan balutan seni budaya ini terbukti mampu menggerakkan kesadaran masyarakat setempat untuk membangun wilayah desanya. Dimulai dari perbaikan wilayah laut, terutama perbaikan terumbu karang dengan sistem biorock. Dari niat-niat melakukan perbaikan itu, muncul terus ide-ide perbaikan lingkungan dengan basis seni dan budaya masyarakat Bali.

Inisiator Pemuteran Bay Festival,Agung Bagus Mantra atau akrab disapa Gus Mantra menyatakan konsep rwa bhineda ini juga sangat erat kaitannya dengan pondasi wilayah pemuteran yang muterin jagat, ada konsep keharmonisan atau keseimbangan.

“Kami menggambarkan rwa bhineda itu dalam karya seni yakni rupa Barong dan Rangda sebagai karya seni struktur terumbu karang biorock yang akan kami tenggelamkan lagi di priaran Pemuteran,” ujar Gus Mantra saat pembukaan Pemuteran Bay Festival, Rabu 12 Desember 2018.

Struktur terumbu karang Barong dan Rangda ini adalah karya seni lanjutan dari karya seni lain yang lebih awal ditenggelamkan di Pemuteran. Seperti diketahui, ada banyak struktur terumbu karang dengan ikon-ikon budaya Bali yang sudah ada di dasar perairan Pemuteran.

Seperti misalnya, Gajah Mina, Bedawang Nala, Garuda, dan yang keempat adalah Barong dan Rangda.

“Penenggelaman Barong dan Rangda ini sebagai momentum bagi generasi berikutnya ataupun bagi para diver bahwa dua karakter ini sudah menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh Unesco. Jadi, banyak ikon-ikon budaya Bali yang menjadi warisan budaya yang bisa diaplikasikan dalam berbagai hal,” terangnya.

Sementara itu, Kadis Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan Pemuteran Bay Festival ini dasarnya adalah Buleleng Bali Dive Festival (BBDF).  Namun untuk sebuah pemerataan pengembangan pariwisata kelautan di Buleleng, akhirnya pelaksanaan BBDF di desa Pemuteran digeser ke Desa Bondalem yang juga mempunyai potensi kelautan dan upaya-upaya konservasi lingkungan laut.

Dalam Pemuteran Bay Festival tema Rwa Bhineda, dengan maksud agar keseimbangan pariwisata terus berkesinambungan dengan menggali dan mengelaborasi upaya –upaya pelestarian lingkungan dan seni dan budaya.

“Konsep Rwa Bhineda sesuai dengan karakter pariwisata di Pemuteran dan sekitarnya. Ada konsep keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pariwisata. Kita majukan bersama,”  ujar Sutrisna.

Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana mendukung penuh even Pemuteran Bay Festival ini. Bupati meminta kepada Kadis Pariwisata agar di tahun 2019 bisa menganggarkan dana untuk dua festival yakni Pemuteran Bay Festival dan BBDF di Desa Bondalem.

Khusus untuk pariwisata di Pemuteran,  Bupati mengusulkan agar di Pemuteran dibangun sebuah patung rupa dari almarhum Gusti Agung Prana. Alasannya, Almarhum Gusti Agung Prana mempunyai jasa yang sangat besar terhadap pembanguan pariwisata berkelanjutan di Desa Pemuteran.

“Ini hanya usul saja, dan perlu kita kaji bersama. Agar tokoh masyarakat, pengusaha hotel di Pemuteran ini bisa mendirikan patung Gusti Agung Prana untuk menghormati jasa beliau membangun Pemuteran sejak awal dengan upaya konservasi lingkungannya,” terang Bupati. |NP|