Tari Jaran Ngadang Sarat Wibawa dan Kekuatan

Tari Jaran Ngadang salah satu tarian kreasi baru yang energik, sarat wibawa dan kekuatan. Di bagian akhir tarian ini, para penari menggunakan topeng dalam rupa mulut kuda sesuai dengan nama tariannya Jarang Ngadang. Tari ini ditarikan oleh tujuh orang penari. |Foto : Rika Mahardika|

Singaraja,koranbuleleng.com| Diatas panggung nan megah, di hari kedua Utsawa Merdangga Gong Kebyar, sebuah gerak tari yang sarat wibawa dan kekuatan mempesona penontonnya, Selasa 18 Desember 2018. Tari Jaran Ngadang, ditarikan dengan penuh pesona kekuatan oleh 7 orang penari.

Wibawadan kekuatan itu terlihat dari gerak tari dan desain pakaian yang digunakan oleh penarinya. Desain pakaian dominan dengan warna hitam, seperti warna asli seekor kuda hitam yang melambangkan sebuah kekuatan.

Kaki-kaki penari juga terdengar beriak gemerincing dengan gongseng yang digunakannya, persis seperti suara gongseng yang digunakan pada kaki-kaki kuda.  Desain pakaian ini diciptakan langsung oleh pencipta tarinya, Nyoman Charisma Aditya Hartana.

Iringan tabuh dengan intonasi yang cepat juga menambah performa tarian Jaran Ngadang ini terlihat sempurna.

Komang Dipa Prasetya Wiradarma sebagai salah satu penarinya. Dia terlihat menarikan dengan amat sempurna. Kekuwub atau ekspresi wajah yang berwibawa dikeluarkan dengan cukup sempurna, begitupun dedeling terasa sangat galak sehingga membuat gaya tari Jaran Ngandang yang dibawakan Dipa bersama penari lainnya sangatlah berwibawa.

Dipa menyebut koreografi dalam tarian ini sudah sangat padat. Butuh tenaga yang ekstra untuk membawakan tari dengan karakter kuat seperti ini. Maka itu, persiapan sebelum menari juga harus lebih intens dan menjaga kebugaran tubuh supaya pementasan bisa sempurna.

“Persiapan untuk menarikan tarian ini memang lebih ekstra, latihan juga harus fokus dan butuh tenaga dan pikiran yang bebas tanpa beban. Tarian ini sebenarnya sangat kuat,” ujar Dipa. 

Dipamenarikan tarian ini bersama tujuh penarinya mewakili Sanggar Seni Anglocita Suara dari kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng dalam pelaksanaan Utsawa Merdangga Gong Kebyar Sanggar Seni Kabupaten Buleleng tahun 2018.

Dalam pementasannya, Sanggar Seni Anglocita sebenarnya tampil dengan menyajikan tiga garapan, termasuk tari kreasi baru Jaran Ngadang.

Tari Jaran Ngadang merupakan Tari Kreasi Baru yang diciptakan Nyoman Charisma AdityaHartana. Seniman dari Desa Nagasepaha ini mengaku sudah berproses sejak bulanApril 2018 lalu. Namun sekitar bulan Juni sempat tertunda karena disibukkan dengan agenda Pesta Kesenian Bali (PKB). Hingga kemudian penataan gerak tari ini kembali dikerjakan sejak Agustus 2018.

Menurut Charisma, tarian ini terinspirasi dari cerita mitologi yang ada di kalangan Krama Banjar Adat Penarungan Desa Pakraman Penarukan. Krama setempat meyakini jika di Pura Dalem Banjar Adat Penarungan, berstana Maha Patih Ida Bhatara DewaBagus, yang memiliki rencang atau pengawal berwujud Manusia Berkepala Kuda atau yang sering disebut Jaran Ngadang.

Sosok pengawal ini diyakini sebagai pelindung Krama Penyungsung Pura Dalem dari musibah, dan diyakini pula sebagai penebar kemakmuran dengan cara ngelawang.Dimana kedatangannya biasanya ditandai dengan bunyi lonceng atau gongseng.

“Garapan tari ini mencoba menggabungkan nuansa tarian rakyat, tarian Sang Hyang, sertatarian bebarisan sesuai sifat rerancangan Jaran Ngadang yakni riang gembira,keagungan, suci, kuat, dan berwibawa,” jelasnya.

Namun ternyata, dibalik terciptanya tarian yang penuh energi ini, ada aura lain yang tidak bisa diterjemahkan oleh nalar manusia.

Charisma menuturkan jika Ia megalami beberapa kejadian saat berproses dan mengerjakan koreografi tarian tersebut. Salah satunya yang dialami adalah mimpi secara berkelanjutan, termasuk bisikan-bisikan gaib yang didengar.

Mimpidan bisikan itu ternyata adalah sebuah petunjuk agar Ia bisa menciptakan tarian sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sesuunan di Pura Dalem Penarungan.

“Sayamendapat petunjuk tentang nada dasarnya harus menggunakan nada nding, kemudian bagaiman bunyi gongsengnya, termasuk harus ada tarian tunggal didalamnya,” Tuturnya.

Kisah lain yang didapatkan adalah saat menentukan gerak tariannya. Charisma awalnya berpikir untuk menyelesaikan gerakan tarian di rumahnya. Namun inspirasi itu tidak kunjung datang. Ia kemudian memutuskan untuk langsung datang dan melatih ditempat. Anehnya, koreografinya justru muncul dan mengalir.

“Saat langsung latihan, gerakannya justru mengalir. Seolah ada yang membisikkan tentang gerakan yang harus dilakukan,” Imbuhnya.

Tari Jaran Ngadang ini baru dipentaskan untuk kedua kalinya. Pertama dipentaskan saat pelaksanaan Podalan di Pura Dalem Penarungan Anggar Kasih Julungwangi lalu, kemudian yang kedua kalinya dipentaskan di Sasana Budaya serangkaian Utsawa Merdangga Gong Kebyar. Sebelum menarikan tarian ini, para Pregina wajib ngaturang piuning (memohon izin) di Pura Dalem Penarungan. |Rika Mahardika|