Tradisi Ngaga Dihidupkan Setelah 47 Tahun Tidak Digelar

Singaraja, koranbuleleng.com | Warga Desa Adat Pedawa, pengempon Pura Pucak Sari, di Dususn lnsakan menghidupkan kembali tradisi Ngaga, atau menanam padi gaga (gogo, red) Rabu 19 Desember 2018.

Tradisi ini sempat ditinggalkan atau tidak digelar selama 47 tahun karena warga setempat beralih dari padi gaga ke perladangan kopi, cengkeh dan sejenisnya. Itu dirasa hasilnya lebih besar ketimbang menunggu hasil dari padi gaga. Padi gaga ini memang lebih cocok ditanam di area perkebunan, bukan di persawahan.

Terakhir kali, warga setempat mengingat, tradisi Ngaga ini dilakukan pada tahun 1971.

Tradisi ini digelar lagi dengan tujian menjaga pasokan gabah Padi Gaga untuk digunakan sebagai salah satu sarana pujawali di Pura Pucak Sari.

Warga melakukan penanaman sejak pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Mereka juga adalah krama pengempon pura.  Setiap krama terlihat membawa bambu runcing yang digunakan untuk menajuk bibit padi gaga yang akan ditanam di lahan seluas 8 are.

Benih padi gaga sudah tersedia dan telah dicampur dengan beberapa jenis biji-bijian. Diantaranya jagung, undisdan jagung kedu serta obat pemali (campuran dari kunyit, daun endong dan dapdap). Obat pemali ini bertujuan untuk mencegah agar tanaman tidak terkena hama saat tumbuh.

Sebelum.menanam, warga melakukan bakti piuining memohon keselamatan. Setelah itu, barulah warga menanam secara bersama-sama. Ada yang bertugas menajuk tanah, setelahnya ada pula krama yang menaburi lubang itu dengan benih padi dan kacang-kacangan.

Selama proses menanam itu, warga selalu berteriak “wuuuu….wuuuu….wuuu”. Diyakini, teriakan itu memaknai agar benih-benih yang ditanam tidak tuli sehingga bisa tumbuh berkembang dan tidak diserang hama.

“Pang ten bongol bibite, nike mangda mesuryak wuuuu…wuuuu…wuuuu…(biar tidak tuli benihnya, makanya berteriak wuuu…wuuu…wuuu),”  tutur dari seorang warga, Made Genong, 50.

Sementara Penglingsir Pengempon Pura Puncak Sari, Wayan Dasar, 60, sebenarnya tradisi ngaga dilakukan oleh para leluhurnya sejak turun temurun. Tradisi menanam padi gogo ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pujawali di Pura Puncak Sari yang jatuh setiap Sasih Kaulu (Bulan Januari-Februari).

Saat pujawali itu, salah satu sarana utama yang wajib dihaturkan adalah nasi yang berasal dari padi gogo. Nasi dari padi gogo ini ditambah dengan sejumlah lauk dan sayur-sayuran. Lali dihaturkan kepada Ida Bhatara Sri Rambut Sedana yang bersthana di Pura Puncak Sari.
Nantinya, nasi persembahan itu akan dimakan bersama oleh para penyungsung pura. Konon,itu simbol permintaan kesejahteraan dan kemakmuran dari warga.

“Nah, karena penting digunakan sebagai sarana saat pujawali, maka padi gaga ini harus kami tanam untuk memenuhi kebutuhan saat pujawali. Bukan hanya untuk dewa yadnya, tetapi upacara manusa yadnya dan pitra yadnya juga wajib menggunakan sarana bija ratus atau padi gaga ini,” terang Wayan Dasar.

Katanya, selama tradisi ini tidak digelar lagi, kebutuhan padi gaga untuk upacata justru didatangkan secara khusus dari Flores, NTT.

Petani di Bali memang tidak ada yang membudidayakannya.

Rencananya, pengempon pura yang disebut Sekeha Juragan akan rutin menggelar tradisi ngaga ini.

Ada tradisi unik setelah warga melaksanakan tradisi ngaga. Yakni, warga melakukan makan bersama yang disebut Megibung.  Menunya sederhana saja tanpa menggunakan daging babi. Itu dilarang.

Menunya hanya sayur pakis, ikan teri, ikan asin, kacang dan nasi merah. Seluruh warga yang ngayah harus ikut menyantap makanan ini.

Sedangkan minumnya disajikan dengan menggunakan kele, yakni kendi yang terbuat dari bambu.

“Disinilah nilai-nilai kebersamaan dan persatuan dari warga kami,” ujar Wayan Dasar.

Setelah itu, warga melakukan ritual permohonan kehadapan Dewi Sri agar benih padi gaga dan biji-bijian yang ditanam bisa tumbuh subur dan pada waktunya bisa dipanen dengan baik.

“Maknanya agar padi yang ditanam tumbuhnya bagus. Hujan tetap turun, sehingga benih-benih bisa bertumbuh dan dipanen,” tutupnya.

20 hari kedepan setelah Ngaga, warga kembali melakoni tradisi lanjutannya yakni ritual nambunang kulkul atau membuat stana dewi sri di areal ladang. (Putu Nova A.Putra).