Menhub Kunjungi Bukit Teletubies Persiapan Bangun Bandara

Jro Pasek Warkadea memperlihatkan peta area rencana Pembangunan Bandara di Kubutambahan | Foto : Rika Mahardika|

Singaraja, koranbuleleng.com | Bukit Teletubies di Desa Kubutambahan, pasti banyak yang mengetahui. Terutama anak-anak remaja. Bukit ini pernah tersohor dan jadi perbincangan karena pemandangan alamnya yang indah dengan gundukan sejumlah perbukitan, cukup menarik sebagai latar untuk foto selfie.

Bukit Teletubies yang terletak di Dusun Ampel Gading, Desa Kubutambahan ini biasanya ramai dikunjungi bila kondisinya lebih terlihat hamparan perbukitan hijau pada saat musim-musim hujan, namun jika musim kemarau, kawasan ini memang terlihat kerontang. Wilayah perbukitan ini dinamakan bukit Teletubies, karena latar pemandangan di kawasan ini mirip dengan latar film kartun teletubies yang pernah tersiar di televisi.

Nah, ternyata Bukit Teletubies ini akan dikunjungi oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi pada hari Minggu 30 Desember 2018 siang hari. Tujuan kunjungannya terkait dengan rencana pembangunan bandara internasional di Bali utara. Ternyata, kawasan di Bukit Teletubis berpotensi besar dimanfaatkan untuk lokasi pembangunan bandara Bali utara nantinya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan Adnyana Putra membenarkan rencana kedatangan Menhub ke Buleleng dan Pemkab Buleleng sudah mempersiapkan penyambutan kedatangan Menteri Perhubungan.

Menhub Budi Karya Sumadi direncanakan ke Buleleng dengan menggunakan helikopter setelah mendarat dengan pesawat komersil di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Helikopter yang ditumpangi Budi Karya akan landing di Sekolah Polisi Negara (SPN) Singaraja sekitar pukul 11.00 wita disambut Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana.

Dari SPN, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Dusun Ampel Gading di Desa/Kecamatan Kubutambahan, untuk meninjau kawasan Bukit Teletubies seluas 370 hektar.

“Secara protokoler kami akan siapkan penyambutan seperti mobil berplat khusus, pengawalan, atensi di tempat dan lokasi,” jelasnya.

Sementara itu secara terpisah, Kelian Desa Adat Kubutambahan, Jro Ketut Warkadea juga mengakui telah menerima undangan terkait dengan kehadiran Menteri Perhubungan ke Desa Kubutambahan. Desa adat juga akan menghadirkan seluruh prajuru mulai dari Desa Linggih hingga Perbekel Kubutambahan untuk menyambut kehadiran Menhub.

Disisi lain, Jro Warkadea mengakui jika pihaknya sudah mengantongi peta lahan yang terdampak. Dijelaskan jika lahan seluas 370 hektar itu merupakan duwen pura milik Desa Pakraman Kubutambahan. Hanya saja, ratusan hektar lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan Bandara Bali Utara tersebut kini tengah dikontrakkan kepada PT Pinang Propertindo dengan status HGB sejak 1991 silam.

Kala itu PT Pinang Propertindo mengontrak dengan sewa sebesar Rp 300 per meter persegi, selama 30 tahun dan bisa diperpanjang lagi. Bahkan PT Pinang Propertindo sudah memperpanjang kontrak hingga tiga kali sampai tahun 2026.

Saat ini, lahan ditempati oleh 50 lebih KK. Sementara untuk petani penggarapnya (penyakap, Red) jumlahnya sekitar 200 orang.

“Namun semua penyakap sudah ikhlas jika lahan yang digarapnya akan dibangun bandara,” ujarnya.

Jro Warkadea menuturkan jika pihaknya bisa menerima jika lahan milik Desa Pakraman Kubutambahan seluas ratusan hektar itu akan dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan Bandara Internasional di Kabupaten Buleleng.

Yang menjadi kekhawatirannya adalah jika nantinya lahan yang dibutuhkan melebihi dari  370 hektar, karena akan berdampak pada keberadaan pura milik Krama Kubutambahan.

Maka dari itu, pihak desa adat memastikan akan memantau secara teliti titik kordinat yang akan menjadi lokasi  pembangunan bandara di wilayah Kubutambahan. Sehingga penggusuran pura yang disungsung krama bisa dihindari.

“Kalau seandainya lebih dari 370 hektar lahan yang dibutuhkan, sudah pasti ada beberapa pura akan terdampak. Dan kami sangat keberatan kalau pura yang terdampak,”  tegasnya. |RM|