Cuaca Buruk Jadi Tantangan Terberat Pengerjaan Shortcut

Progres pembangunan jalan shortcut titik 5 dan 6 dinilai sudah mencapai 16 persen. |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Hujan dengan intensitas tinggi menjadi kendala utama dalam proses pengerjaan shortcut di titik 5 dan 6 di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Di kawasan ini memang sering terjadi hujan dengan intensitas yang sangat tinggi, bahkan rawan bencana longsor.

Namun begitu, pihak kontraktor yang mengerjakan proyek jalan baru ini terus berupaya mengejar waktu dan progress pekerjaan sudah mencapai 16 persen. Shortcut dititik 5 dan 6 akan dikerjakan kurang lebih selama 15 bulan.  

Maket jembatan sebagai bagian dari Shortcut Titik 5 dan 6 di Desa Pegayaman, Sukasada |Foto : Putu Nova A.Putra|

Sesuai jadwal, jembatan sepanjang 210 meter yang menjadi bagian dari shortcut di titik 5 dan 6 akan mulai dibangun pada akhir Januari 2019 ini. Jembatan ini berada di titik STA 0+700. Proses yang akan dikerjakan pada akhir Januari nanti mulai dari pengeboran untuk pemasangan pondasi jembatan.

Salah satu pekerja teknis lapangan, Ketut Agus Setiawan mengatakan secara umum persiapan untuk pembangunan jembatan sudah dipersiapakan secara matang, termasuk kontur tanah yang sudah melalui uji laboratorium. Sejauh ini, walaupun tanah di sekitar lokasi pembangunan shortcut sangat subur, namun dipastikan tanah ini cukup kuat  untuk pondasi bangunan.

“Semua sudah melalui uji laboratorium, posisi tanahnya cukup kuat untuk pembangunan jembatan ini,” kata Agus saat ditemui di lokasi proyek oleh sjeumlah wartawan, Rabu 2 Januari 2019.

Agus menyatakan nantinya lebar badan jalan baru ini mencapai 9 meter dengan panjang jalan di titik 5 dan 6 saja mencapai 1.950 meter. Titik 5 dan 6 ini akan menghubungkan jalan baru dengan titik lainnya. Titik 3 dan 4 akan dimulai dari wilayah Baturitu dan melintasi peisisr danau beratan, Bedugul.  

Sementara manajer produksi, Prapto mengatakan untuk pembersihan area sudah dilakukan di seluruh zona di titik 5 dan 6. Masyarakat setempat juga sangat mendukung sehingga proses pengerjaan jalan baru ini tidak ada halangan secara sosial.

 “Secara teknis mengikuti saja, kontur tanah juga aman,” ujar Prapto.

Salah seorang warga setempat, Wayan Penpen terlihat masih melakukan pembersihan terhadap sisa tanahnya yang telah dibebaskan. Penpen mengiklaskan perkebunannya seluas 60 are dibeli pemerintah untuk pekerjaan shortcut 5 dan 6 ini.

Dia mengantongi uang senilai 1,2 miliar lebih. Namun, Penpen masihmenyisakan tanah sekitar 1,4 hektar lebih.

“Saya sebagai warga mendukung pembangunan ini, untuk masyarakat juga,” kata Penpen.

Penpen mengaku uang dari hasil pembebasan lahan miliknya akan digunakan untuk membangun rumah kos di Denpasar dan dikelola oleh anaknya.|NP|