Warga Pedawa Jalankan Tradisi Namunang Pulpul

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana meninjau lahan pertanian padi gaga di desa Pedawa disela-sela warga menjalankan tradisi Namunang Pulpul.

Singaraja, koranbuleleng.com | Desa Pedawa, sedang memulai lagi menanam padi gaga setelah 47 tahun tak pernah dilakukan. Empat minggu lalu, masyarakat setempat secara serentak menanam atau najuk di area lahan pertanian masing-masing. Setelah penanaman itu, kini warga petani setempat menjalankan tradisi Namunang Pulpul.

Tradsiini sudah ada dari nenek moyang warga Desa Pedawa. Tradisi Namunang Pulpul berasal dari dua kata yaitu Namunang yang berarti mengumpulkan dan Pulpul berarti alat-alat yang digunakan untuk najuk atau penanaman padi.  Jadi, Namunang Pulpul berarti upacara pemberian sesajen pertama kali untuk alat-alat yang dipakai pada saat menanam padi.

Saat tradisi ini digelar, warga juga langsung membuat sebuah pelinggih Dewi Sri sebagai salah satu tempat untuk prosesi  upacara. Sedangkan, untuk Pulpul nya dikumpulkan menjadi satu lalu diikat dan diberikan sesajen.

Sesjaen akan terus dihaturkan pada hari tertentu atau hari baik, sampai padi gaga dipanen oleh masyarakat.

“Ini sesajen pertama di lahan padi gaga (padi gogo). Untuk kelanjutannya akan terus dibawakan sesajen pada hari-hari baik selanjutnya. Sampai pada padi gaga ini dipanen,” jelas Wayan Dasar, petani di Desa Pedawa didampingi penglingsir Nyoman Kalam saat ditemui di sela-sela upacara Namunang Pulpul di Banjar Dinas Insakan, Desa Pedawa, Sabtu 12 Januari 2019.

Wayan Dasar pun bercerita lahannya seluas tujuh are. Pada lahan ini tidak hanya ditanam padi gaga saja melainkan bibit padi gaga hanya lima kilogram. Sisanya, yang juga ditanam pada lahan ini adalah jagung, ketela, macam-macam kecipir, kacang-kacangan, jahe dan cekuh.

“Semua ini dinamakan bijaratus untuk keperluan upacara adat Desa Pedawa. Di sanalah hasil petikan termasuk padi gaga ini diperlukan untuk upacara adat,” ujarnya.

Bijaratus ini sendiri sebenarnya diambil dari hasil gaga ini. Tidak boleh mencari di luar gaga. Dan jikalaupun bisa betul-betul dari hasil gaga Desa Pedawa. Inilah yang membuat Desa Pedawa itu unik dengan tradisi dan budayanya.

Walaupun ada jenis varietas padi baru, selain dari padi gaga tidak bisa dipakai untuk Bijaratus. “Tradisi ini merupakan budaya turun temurun dari leluhur kami sebelum ada sawah. Sudah harus begitu. Di samping itu, penghasilan padi juga bisa digunakan untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya,” pungkas Wayan Dasar.

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana hadir ditengah masyarakat Desa Pedawa saat menjalankan tradisi Namunang Pulpul ini.

Kehadiran Agus Suradnyana ditengah warga desa Pedawa juga tidak lepas dari program Pemkab Buleleng yang sedang gencar memajukan sektor pertanian.

Sektor pertanian menjadi fokus pembangunan untuk menjaga ketahanan pangan, penguatan pertanian dan peningkatan perekonomian masyarakat serta untuk menunjang program pariwisata Bali.

Dalam kesempatan itu, Bupati mengusulkan kepada masyarakat Desa Pedawa untuk membuat perarem atau aturan adat mengenai pertanian.

Ilustrasi yang diberikan Bupati yakni, dalam pararem tersbeut warga bisa menyisakan lahan seluas 5 atau 10 are untuk menanam padi gaga selain tanaman ekonomis lainnya. Sisa lahan untuk tanaman padi gaga itu untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada.

Menurutnya, orang-orang di Bali sudah diajarkan oleh para leluhur untuk menjaga ekosistem alam namun sudah mulai terlupakan karena adanya desakan tanaman-tanaman ekonomis. “Namun sekarang tanaman ekonomis tersebut mulai menjadi persoalan karena ekosistemnya berubah karena ada hama dan sebagainya. Kalau ekosistem dijaga saya yakin hama akan hilang karena pelestarian ekosistem tadi,” jelasnya.

Penjagaan ekosistem ini seperti penanaman padi gogo atau padi gaga ini. Nantinya akan ada capung, ada blauk, dan binatang lain yang akan memakan hama di alam. Hal ini tentunya akan menjaga ekosistem dan akan mengurangi hama. “Semua itu akan membuat ekosistem terjaga. Bagaimana binatang-binatang tersebut akan memakan hama juga seperti burung yang akan kembali mencari ulat,” ujar Agus Suradnyana.

Agus Suradnyana mengungkapkan kearifan lokal harus terus dilestarikan dan dikembangkan untuk kemajuan sebuah daerah. Menurutnya, Desa Pedawa selain memiliki kondisi alam yang indah nan cantik juga memiliki potensi adat dan budaya yang sangat baik. Kondisiini bisa dipadupadankan untuk kemajuan desa setempat baik dibidang pertanian dan pariwisata berbasis adat dan budaya.  

Sehingga tinggal dikembangkan kelebihan apa yang membuat orang atau wisatawan lebih tertarik lagi untuk datang ke Desa Pedawa.

“Kita lihat sendiri di sini. Alamnya bagus, pemandangannya bagus, sejuk. Nanti kalau sudah berkembang tinggal ditingkatkan lagi secara infrastruktur biar wisatawan lebih nyaman datang ke sini,” pungkasnya. |NP/R|