BPBD Catat Kerugian Sementara Rp700 Juta Lebih

Akses jalan alternatif di lingkungan Kayu Buntil, Kelurahan Kampung Anyar terhubung ke Kelurahan Kaliuntu terputus karena tergerus gelombang pasang dan hujan deras, Selasa 22 Januari 2019. |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com| Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng mencatat kerugian akibat bencana alam ditaksir mencapai Rp700 juta lebih.

Dari catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, kerugian terbesar dicatat dari kerusakan perahu milik nelayan yang tinggal di pesisir pantai. Ada 82 perahu milik nelayan yang rusak dihantam gelombang pasang,

Di Desa Kaliasem 17 unit perahu dengan kerugian Rp108 juta, Desa Pemaron 35 unit perahu dengan kerugian Rp80 juta, dan di Desa Tembok Kecamatan Tejakula sebanyak 30 unit perahu dan mesin hilang dengan kerugian mencapai Rp200 juta.

Selain kerusakan perahu nelayan, BPBD Buleleng juga mencatat terjadi kerusakan pada sejumlah fasilitas umum. Mulai dari kerusakan senderan Pantai Camplung di Kelurahan Banyuasri sekitar 100 meter dengan perkiraan kerugian mencapai Rp150 juta. Kerusakan lain yakni jalan jebol di Lingkungan Kayu Buntil Kelurahan Kampung Anyar dengan kerugian mencapai Rp70 juta.

Selain kerusakan jalan, di Lingkungan Kayu Buntil Kelurahan Kampung Anyar juga terdapat kerusakan pada tembok penyengker kuburan dan jalan jebol, hingga mengakibatkan kerugian Rp80 juta.

Di Dusun Pendem Desa Bebetin Kecamatan Sawan terjadi longsor yang berdampak pada rusaknya rumah Made Pageh warga setempat dengan kerugian mencapai Rp190 juta. Kemudian di Banjar Dinas Lebah Desa Sekumpul Kecamatan Sawan, senderan rumah milik Gede Sukma ambrol hingga menyalami kerugian Rp20 juta. Kerusakan juga terjadi di Desa Sekumpul, dimana Balai Pebatan Pura Dukuh Sakti rusak yang menelan kerugian sekitar Rp25 juta rupiah.

Kejadian pohon tumbang juga terjadi akibat terjangan hujan deras yang disertai dengan angin kencang tersebut. Sedikitnya ada 13 titik di wilayah Buleleng yang terdapat pohon tumbang. Sementara untuk perhitungan sementara, BPBD Kabupaten Buleleng mencatat jika kerugian yang ditimbulkan dari bencana alam itu mencapai Rp773 juta.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng Ida Bagus Suadnyana mengatakan, pihaknya sudah bergerak ketika mulai menerima laporan kejadian bencana. Namun yang paling menjadi prioritas adalah yang menyangkut kelancaran lalu lintas. Sehingga penanganan pohon tumbang menjadi penanganan pertama oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Buleleng.

Menurutnya, cuacan ekstrim masih akan terjadi di Kabupaten Buleleng hingga bulan Februari mendatang, sehingga masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi sejak dini.

“Hasil koordinasi kami dengan BMKG, kondisi ini akan berlangsung hingga Februari. Kami harapkan masyarakat waspada terutama para nelayan, ataupun warga yang ada di wilayah pesisir,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengajak masyarakat untuk selalu berhati-hati dengan cuaca ekstrim yang belakangan ini terjadi. Berkaca dari kejadian-kejadian dan bencana alam yang terjadi pada tahun- tahun sebelumnya, warga diminta untuk selalu waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, Agus Suradnyana juga meminta peran serta masyarakat di Buleleng untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam. Terutama untuk tidak membuang sampah ke sungai, termasuk membersihkan saluran-saluran air yang ada di wilayahnya masing-masing.

“Kepada lurah di wilayah kota juga saya himbau untuk segera melakukan gotong royong membersihkan saluran air untuk mengurangi potensi banjir,” pintanya.

Sebagian Warung Tenda Tutup

Kerusakan sejumlah warung tenda milik para pedagang di kawasan wisata Pantai Penimbangan (PP) membuat sejumlah pedagang was-was. Bahkan beberapa pedagang memilih untuk tidak berjualan sementara, hingga cuaca kembali normal.

Hingga Rabu, 23 Januari 2019 cuaca di kawasan wisata Pantai Penimbangan (PP) sekitar pukul 12.00 wita masih kurang bersahabat. Angin yang berhembus masih terasa kencang, gelombang pun juga terlihat masih besar. Sementara di pinggiran jalan setempat, para pedagang terlihat masih merapikan dan mengumpulkan peralatan dan barang dagangannya yang berhamburan akibat cuaca buruk yang terjadi Selasa, 22 Januari 2019 malam.

Made Sukadana adalah salah satu pedagang yang warung miliknya porak poranda akibat cuaca ekstrim Selasa malam. Warung miliknya rusak parah. Dinding warungnya hancur karena diterjang ombak pasang, sementara bagian atapnya diterbangkan angin kencang. Peralatannya berjualan juga berserakan, gelas banyak yang pecah dan peralatan lainnya juga rusak.

Kondisi kerusakan warungnya itu baru diketahui Rabu pagi sekitar pukuk 07.00 wita. Ia menerima telepon dari rekannya sesama pedagang, bahwa banyak warung yang rusak, termasuk warung miliknya. Sukadana langsung bergegas, dan benar saja warungnya sudah porak poranda.

Sukadana tidak menyangka jika cuaca ekstrim yang terjadi di kawasan Pantai Penimbangan akan menimbulkan kerusakan yang separah ini. Ia menuturkan jika pada selasa malam masih berjualan seperti biasa. Namun, karena cuaca buruk, Ia pun menutup warung lebih awal.

“Sudah 14 tahun saya berjualan disini pak, ini saya bilang kondisi terparah yang dialami pedagang,” tuturnya.

Untuk sementara, Sukadana memilih untuk membawa peralatan dan barang dagangannya pulang. Ia bahkan memilih untuk tidak berjualan sementara, hingga kondisi dan cuaca benar-benar normal kembali. Ia juga belum menghitung berapa kerugian yang diderita akibat kerusakan, namun ditaksir mencapai jutaan rupiah.

“Biar ngga kepikiran, semuanya mau saya bawa pulanh dulu pak, dan libur jualan, mungkin sekitar 15 hari sampai cuacanya normal,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketut Sudarma Koordinator Pedagang PP wilayah Desa Pemaron. Dari 27 pedagang dari wilayah Desa Pemaron, 26 mengalami rusak parah, sementara satu warung hanya mengalami rusak ringan. Menurutnya, kerusakan akibat cuaca buruk yang terjadi kali ini terbilang sangat parah.

Hal itu disebabkan karena pihak pedagang tidak bisa mengantisipasi sebelumnya. Terlebih lagi cuaca pada selasa siang hingga sore hari terbilang cerah, hingga kemudian malam hari turun hujan disertai angin kencang dan gelombang pasang.

Rencananya, Ia bersama dengan sejumlah pedagang lainnya akan segera melakukan koordinasi dengan Perbekel Desa Pemaron. Terlebih lagi, untuk sementara waktu, para pedagang memilik untuk menutup warungnya untuk sementara waktu.

“Ini akan segera kami laporkan, dan mudah-mudahan bisa dicarikan solusi,” jelasnya.|RM|