Jelang Nyepi, Krama Nagasepaha Gelar Tradisi Medungdung dan Ngutang Reged

Krama (warga) desa Pakraman Nagasepaha nunas (meminta) hidangan yang akan dibawakan untuk sanak keluarga di rumah |Foto : Komang Yudha Wironegoro||

Singaraja, koranbuleleng.com | Warga Desa Pakraman Nagasepaha, Kecamatan Buleleng menggelar tradisi unik Medungdung dan Ngutang Reged, Senin 4 Februari 2019. Tradisi ini biasa dijalankan oleh warga ketika satu bulan sebelum pelaksanaan Catur Brata Penyepian, atau hari raya Nyepi.

Sebelum kedua tradisi itu itu digelar, warga terlebih dahulu menggelar ritual Pecaruan Panca Sanak Medurga Dewi untuk menyucikan seluruh sarana dan sesajen dari tradisi yang dijalankan.

Tradisi Medungdung dan Ngutag reged sudah diturunkan oleh leluhur warga desa Nagasepaha sejak lama. Tradisi digelar sebagai ungkapan rasa syukur warga dan sukacita menyambut hari raya Nyepi.

Dalam tradisi Medungdung, krama adat mempersiapkan dungdungan atau hidangan untuk dihaturkan kepada bhatara bhatari dan bhuta kala, sesuai keyakinan dan tradisi dari desa adat setempat.

Dalam tradisi Medungdung ini, ada juga hidangan yang dipersiapkan untuk masyarakat yang akan dibawa pulang ke rumah masing-masing dan diberikan kepada sanak keluarga.

Semua sudah dipersiapkan oleh para Saye, sebagai warga krama adat yang ditunjuk secara khusus oleh desa adat untuk mempersiapkan sarana dan prasarana tradisi Medungdung tersebut.

Hidangan yang dihaturkan itu dibedakan. Untuk dungdungan dari bahan daging sapi dan babi dijadikan masing-masing satu kelompok hidangan.

Satu kelompok hidangan harus berjumlah 18 tekor (bungkus). 18 tekor makanan itu ditempatkan sedemikian rupa, 8 tekor di samping kanan, 8 tekor di samping kiri, sementara 2 tekor lainnya harus berada di depan dan belakang.

18 tekor tersebut nantinya yang akan dibawa oleh warga untuk dibawa pulang dan diberikan kepada sanak saudara. Hidangan itu diberikan bag keluarga dirumah yang belum sempat mengikuti prosesi dan memohon dungdungan di pura.

Warga desa adat setempat, wajib untuk meminta dungdungan tersebut. Baik itu yang berstatus krama negak, desa saya dan desa mirak wajib untuk nunas dungdungan. Dungdungan itu berisi lauk, lawar dan sate yang dihaturkan di Pura Dalem Desa Nagasepaha sebagai wujud nunas merta di Pura Dasar.

Kelian Desa Pakraman Nagasepaha, I Gusti Ngurah Supena mengungkapkan Desa Pakraman Nagasepaha masih melestarikan nilai-nilai luhur yang diturunkan sejak lama. Sebagai desa tua di Bali, krama Desa Pakraman Nagasepaha masih menjalankan segala tradisi yang diwariskan leluhur.

”Pecaruan ini digelar atas dasar sukacita krama sareng sami,menyambut hari raya nyepi yang tinggal sebulan lagi. Bahkan tradisi yang sudah diwariskan kepada kami ini,tidak pernah kami tidak laksanakan, sehingga krama kami melaksanakan tiga kali pecaruan,sebelum dan sesudah perayaan hari raya nyepi,” ujar Supena.

Krama adat Desa Nagasepaha menjalankan tradisi Ngutang Reged dengan membawa pedau yang berisi sesajen untuk dilarung ke sungai |Foto : Komang Yudha Wironegoro|

Sementara tradisi Ngutang Reged, dijelaskan pula oleh Supena bahwa tradisi ini diyakini untuk membuang sial atau malapetaka. Jadi, dalam tradisi ini ada nilai-nilai untuk menjaga keseimbangan alam. Baik dan buruk berjalan seimbang sehingga tidak ada gangguan apapun dalam menjalankan kehidupan tradisi adat dan budaya.

Sarana yang digunakan dalam tradisi Ngutang Reged ini yakni sebuah pedau kecil yang dibuat oleh krama adat dengan bahan dari batang pohon pisang. Pedau tersebut didalamnya berisi sesajen yang dilengkapi dengan ayam dan bebek hitam.

Pedau ini dihanyutkan ke sungai dekat dengan Pura Dalem secara bersama-sama oleh krama adat. Sorak sorai bergemuruh ketika krama adat mengiringi pedau dihanyutkan ke sungai yang berjarak 500 meter dari Pura Dalem. Iringan tabuh baleganjur membuat tradisi ini berjalan dengan sangat khusuk.

Pedau yang sudah lengkap dengan sesajen dan dihanyutkan ke sungai itu diyakini akan sampai bermuara ke laut sebelum pelaksanaan catur brata penyepian.

“Kami mempercayai saat menghanyutkan pedau pasti selalu diiringi dengan guyuran hujan. Hujan pun akan berhenti ketika pelaksanaan upacara keseluruhan selesai dilaksanakan” terang Supena.

Sementara itu, Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken mengatakan tradisi ini merupakan salah satu kekayaan desa, atau local genius yang harus diwariskan oleh masyarakat Desa Nagasepaha.

“Sebagai generasi penerus, sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menjaga dan melestarikan adat dan tradisi yang ada,” ujar Sumeken. |Komang Yudha Wironegoro|