Ritual Bakti Ngerebeg Untuk Keseimbangan Alam, Ada Sejak Tahun 1711 Masehi

Krama Desa Pakraman Kubutambahan membawa sudukan berupa bambu runcing yang akan digunakan untuk ritual bakti ngerebeg. Ritual ini diyakini sudah ada sejak tahun 1711 masehi. |Foto : Rika Mahardika|

Singaraja, koranbuleleng.com| Desa Pakraman Kubutambahan Kecamatan Kubutambahan melaksanakan Tradisi Bakti Ngerebeg, Selasa, 5 Februari 2019. Tradisi ini menggunakan sarana utama seekor godel luwe atau anak sapi betina, yang akan ditenggelamkan ke laut. Prosesi di Bali disebut pakelem.  

Tradisi Bakti Ngerebeg diperkirakan sudah ada sejak 1711 masehi. Tradisi ini digelar agar keseimbangan alam terjaga dan menghindarkan malapetaka.

Kelian Desa Adat Kubutambahan, Jro Ketut Warkadea mengungkapkan tradisi ini merujuk dari Lontar Roga Sanggara Bumi. Dimana pelaksanaannya dilakukan setiap lima tahun sekali. Bahkan tidak menutup kemungkinan pelaksanaannya akan digelar lebih cepat, jika situasi alam yang tidak menentu dan menimbulkan bencana alam.

Krama Desa Pakraman Kubutambahan meyakini jika bencana yang terjadi diakibatkan oleh Bhuta Kala yang menjadi kekuatan negatif yang timbul, akibat ketidakharmonisan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Oleh manusia ketidakharmonisan itu dipersonifikasikan seperti mahluk gaib yang dapat mengganggu ketentraman hidup manusia.

Tradisi Bakti Ngerebeg menggunakan sarana anak sapi betina atau godel luwe |Foto : Rika Mahardika|

Maka dari itu, pelaksanaan Bakti Ngerebeg menggunakan sarana Godel Luwe yang disimbulkan sebagai Induk Bhuta kala, dan juga Sudukan untuk menusuk yang disimbolkan sebagai penolak pemali (bala). Dengan harapan, melalui upacara ini, segala mara bahaya, penyakit, dan kekuatan negatif dari Bhuta Kala segera dimusnahkan sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia.

“Semoga setelah ritual ini digelar, tidak lagi kekhawatiran adanya jenis mara bahaya yang disebabkan oleh unsur panca mahabhuta seperti angin, api, air, tanah dan gas,” jelas Warkadea.

Rangkaian upacara tersebut telah diawali dengan pelaksanaan Upacara Mabulu Geles saat hari raya tilem Sasih kaenem yang dilanjutkan dengan Upacara Bhakti Ngelebarang pada hari raya tilem sasih kapitu. Nah untuk pelaksanaan Bhakti Ngerebeg, berlangsung saat tilem sasih kawulu.

Sekitar pukul 13.00 wita. Krama Desa Pakraman Kubutambahan sudah memenuhi Pura Dalem Purwa untuk mengikuti prosesi upacara. Krama Laki-laki nampak membawa Sudukan berupa tombak dan bambu runcing yang akan digunakan sebagai sarana untuk menusuk anak sapi secara bersamaan. Sementara krama perempuan membawa sarana  ketupat kelanan yang ikut ditenggelamkan bersama anak sapi tersebut.

Setelah para krama berkumpul, upacara diawali dengan melaksanakan persembahyangan. Seusai sembahyang, sekitar pukul 15.30 Wita, krama langsung bergerak dengan berjalan kaki menuju Pura Segara, Desa Pakraman Kubutambahan. Krama berjalan secara beriringan sembari membawa sudukan. Pun demikian dengan sarana berupa godel luwa juga ikut diarak ke Pura Segara.

Sesampai di depan Pura Segara, krama kembali menggelar persembahyangan sebelum melakukan bhakti ngerebeg. Persembahyangan persis dilangsungkan di tepi pantai Dusun Kubuanyar Desa Kubutambahan dengan sejumlah sarana banten.

Dipuncak upacara setelah persembahyangan, krama laki-laki yang membawa sudukan mulai mengelilingi anak sapi betina tersebut. Prosesi Bhakti Ngerebeg didahului oleh Pemangku Pura Dalem yang menusuk godel dengan Keris Pusaka Pura Dalem. Setelah itu, barulah krama laki-laki secara beramai-ramai menusukkan sudukan. Nah, darah yang menempel pada sudukan berupa tombak dan bambu runcing itulah yang dipercaya sebagai penolak bala dan obat.

Masyarakat setemat meyakini jika sudukan bekas darah Godel itu bisa dimanfaatkan sebagai sarana penolak bala. Setelah dimanfaatkan untuk sarana ngerebeg godel, sudukan itu dibawa pulang ke rumah masing-masing Krama.

“Nah sudukan yang sudah ada darah godel itu ditempatkan di bagian depan pintu masuk. Itulah yang nantinya akan menetralisir unsur negatif yang mungkin ingin mengganggu kita,” ujar Warkadea.

Mengakhiri pelaksanaan Bakti Ngerebeg, godel luwa (anak sapi betina) yang sudah mati setelah prosesi ngerebeg, akan dipekelem ditengah laut, bersama dengan ketupat kelanan yang dibawa oleh krama istri. |Rika Mahardika|