Sawan Terluas Kena Dampak Pembangunan Bendungan Tamblang

Sosialisasi pembangunan bendungan Tamblang di Desa Sawan

Singaraja, koranbuleleng.com | Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali – Penida semakin gencar melakukan sosialisasi terkait rencana pembangunan bendungan di Buleleng timur. Desa-desa yang terdampak dari pembangunan bendungan itu yakni Desa Sawan, Desa Bila, Desa Tamblang, Desa Bebetin dan Desa Bontihing.

Desa Sawan, Kecamatan Sawan merupakan desa yang paling luas terdampak. BWS juga melakukan sosialisasi kepada sejumlah warga pemilik lahan yang terkena imbas dari pembangunan bendungan ini, di desa Sawan Rabu 13 Februari 2019.

Perbekel Sawan, Nyoman Wira mengatakan seluas 38,587 hektar lahan di Desa Sawan dimanfaatkan untuk pembangunan bendungan. Luasan itu dimiliki oleh 73 KK (kepala keluarga) dengan jumlah lahan sebanyak 73 bidang. Sementara total luas lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan bendungan sekitar 58,79 hektar di seluruh desa yang terdampak.

Wilayah genangan bendungan yang terdampak mencapai 11,39 hektar yang dimiliki oleh 16 KK. Sedangkan untuk borrow area yang terdampak seluas 26,8623 hektar yang dimiliki oleh 48 KK dan untuk jalan akses ke bendungan yang terdampak mencapai 0,335 hektar yang dimiliki oleh 9 KK.

“Desa Sawan paling luas terdampak. Baik untuk genangan, akses jalan menuju pintu masuk bendungan dan borrow area atau tanah urug,” ujar Nyoman Wira.

Pembangunan bendungan ini diharapkan bisa memberikanmanfaat bagia masyarakat luas untuk irigasi, pemenuhan air baku hingga pemenuhan tenaga kerja lokal.  

“Setidak-tidaknya keberadaan bendungan ini dapat menyerap tenaga kerja lokal agar diberikan prioritas,” pungkasnya.

Sementara Pejabat Pelaksana Teknis BWS Bali Penida, Gede Panca Rasa dalam pemaparannya mengungkapkan proses pembangunan Bendungan Tamblang dimulai tahun 2018 hingga 2022, dengan rancangan biaya yang digunakan mencapai Rp800 miliar.

Bendungan ini nantinya disebut Bendungan Tamblang, akan dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, pemenuhan air baku, pengendalian banjir saat musim hujan dan untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH).

Dari sisi pemenuhan untuk pengairan atau irgasi, keberadaan bendungan ini dapat meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP) dari 175 persen menjadi 300 persen.  

“Artinya dari semula petani yang hanya pola tanamnya Padi-Padi-Palawija menjadi berpola tanam Padi-Padi-Padi.”ungkap PAnca.

Bendungan ini juga dirancang untuk memenuhi kebutuhan air baku dengan debit 510 liter per detik. Distribusinya untuk pemenuhan air bersihd I wilayah Buleleng Wilayah Timur, seperti Wilayah Sawan dan Kubutambahan hingga ke timur.

“Dan ini juga dipersiapkan untuk mengantisipasi pemenuhan air bersih jika Bandara Internasonal Bali Utara dibangun,” ujar Panca.

Panca menguraikan bendungan ini mampu menampung debit air hingga 7 juta meter kubik. Sehingga bendungan ini juga difungsikan untuk mengendalikan banjir saat musim hujan, dan mampu mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau.

Konsultasi publik di Desa Sawan merupakan tahap ketiga dari persiapan, setelah melaksanakan pengumuman dan pendataan tahap awal. Ini bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan dari masyarakat.

“Bahwa masyarakat di empat desa ini menyetujui pembangunan Bendungan Tamblang ini. Setelah itu baru dilanjutkan dengan penetapan lokasi yang dilakukan oleh Gubernur Bali. Dan dilanjutkan  tahap pelaksanaan pembebasan lahan dari Kanwil Badan Pertanahan Negara (BPN) Provinsi Bali,” kata Sekretariat Tim Persiapan Pengadaan Tanah dari Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Ardana.

Ardana juga menyatakan tentang pembebasan lahan, akan dibentuk tim appraisal sebagai penentu harga berdasarkan hasil kajian yang dilakukan di lapangan secara mendalam.|NP|