Krama Adat Bratan Samayaji Melasti di Pelinggih Beji Di Areal Pura Desa

Krama Adat Bratan Samayaji melaksanakan tradisi melasti atau mesucian di Pelinggih beji di Pura Desa setempat. |FOTO : RIKA MAHARDIKA|

Singaraja, koranbuleleng.com| Desa Pakraman Bratan Samayaji menggelar melasti Rabu, 6 Maret 2019. Uniknya, Melasti yang digelar berbeda dengan melasti pada umumnya, yakni hanya dilakukan di areal Pura Desa Setempat.

Sekitar pukul 08.00 wita, krama Desa Pakraman Bratan Samayaji Kecamatan Buleleng mulai berkumpul di Pura Desa setempat. Gamelan angklung bersuara, banten sudah siap disetiap Pelinggih. Kemudian sekitar pukul 09.00 wita, mulai dilakukan persiapan untuk melasti.

Pelaksanaan melasti diawali dengan mengeluarkan Rambut Sedana atau Pratima atau juga disebut Pralingga yang ada di Gedong Simpen Pura Desa. Disaat yang bersamaan, hujan deras pun turun. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Krama untuk melaksanakan upacara Melasti. Setelah itu, dibawah guyuran hujan krama melaksanakan perjalanan melasti menuju Pelinggih Beji yang ada di dalam Pura.

Di Pelinggih inilah prosesi mesucian dilaksanakan. Walaupun dengan kondisi hujan, namun semua tetap berjalan sesuai dengan agenda yang telah tersusun. Tidak ada alasan bagi krama untuk menunda, dan tetap kusuk mengikuti ritual.

Rambut Sedana selanjutnya dibersihkan dan mengganti busana yang digunakan. Nah bekas pembersihan Rambut Sedana inilah kemudian dibagikan kepada krama. Konon, asuhan Rambut Sedana ini juga akan membersihkan aura-aura negative yang ada di dalam tubuh krama yang mendapatkannya.

Pelaksanaan melasti di Bratan Samayaji kemudian diakhiri dengan menempatkan Rambut Sedana di Bale Panjang, dan kemudian seluruh krama menghaturkan bakti.

Jika melihat dari pelaksanaan Melasti pada umumnya, yang digelar oleh Desa Pakraman penghasil kain songket ini memang berbeda. Biasanya, melasti akan dilakukan di Laut atau di Sungai. Namun ini justru dilaksanakan di Dalam Areal Pura. Hal itu dilakukan karena Bratan Samayaji memang memiliki Palinggih yang menghasilkan sumber mata air yang disebut Palinggih Beji.

Walaupun demikian, filosifi daripada pelaksanaan melasti ini masih sama dengan melasti pada umumnya. Dimana melasti ini dalam Babad Bali, merupakan rangkaian dari Hari Suci Nyepi.

“Makna atau filosifisnya sama, untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci untuk kehidupan,” Ujar Klian Desa Pakraman Bratan Samayaji Ketut Benny Dirgariawan.

Secara khusus, proses penyucian Rambut Sedana oleh Krama Desa Bratan Samayaji disebut Ngubeng. Di Desa, sebenarnya ada tiga kali pelaksanaan Ngubeng. Mulai dari pelaksanaan meajar-ajar, Piodalan Agung, dan juga saat Melasti. Semua proses penyucian Rambut Sedana dilakukan di Palinggih Beji.

Krama sejak dulu meyakini jika Palinggih Beji ini merupakan tempat penyucian, karena di areal palinggih itu terdapat sumber air. Dimana di dalamnya ada tempat pesiraman dan juga pancoran.

Khusus untuk ritual melasti kata Benny Dirgariawan, dulu pernah sekali Desa Pakraman Beratan melakukan melasti di Pura Segara. Hal itu dilaksanakan setelah Hari Suci Nyepi ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Hanya saja, Para Dewa yang bersetana di Pura Desa setempat disebutkan tidak berkenan melaksanakan melasti di Segara, hingga akhirnya Melasti kembali dilaksanakan di Palinggih Beji.

“Kita kembalikan lagi, karena Sesuunan tidak berkenan melaksanakan melasti ke Segara. Kami berkomitmen untuk menjaga dresta atau warisan leluhur yang sudah berjalan sejak dahulu, dan sampai sekarang masih berlangsung,” Jelasnya.

Disisi lain, salah satu hal yang unik dalam Upacara Melasti di Desa Pakraman Bratan Samayaji adalah, mereka yang boleh mengogong Rambut Sedana adalah Truna Truni. Menurut Jro Mangku Ketut Swandisna hal itu memang wajib dilakukan.

“Alasannya ya karena Truna Truni itu dianggap suci, karena belum menikah,” Jelasnya.

Sementara itu, setelah Rambut Sedana itu disetanakan di Bale Panjang dan Krama usai menghaturkan bakti. Semuanya kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa. Kemudian di sore harinya, Krama kembali berkumpul di Pura Desa.

Sebelum proses Pengrupukan serangkaian dengan Hari Suci Nyepi, Krama akan mengembalikan Rambut Sedana itu ke Gedong Simpen. |RM|