Memupuk Kedalaman Rasa Menyama Braya Dalam Tradisi Nyakan Diwang

Warga di Dusun Bolangan, Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar menjalankan tradisi turun temurun "Nyakan Diwang" atau memasak dipinggir jalan. Tradisi ini dijalankan satu hari setelah Hari Suci Nyepi yakni pada saat Ngembak Gni. |Foto : Sosiawan|

Singaraja, koranbuleleng.com | Hari Suci Nyepi, Tahun Saka 1941 sangat khusuk, terlebih hujan tanpa jeda terus mengguyur wilayah-wilayah pedesaan di pegunungan. Di Dusun Bolangan, Desa Kayuputih, salah satunya. 

Hujan terus turun terasa menyejukkan, buliran air hujan dari dedaunan pohon cengkeh memunculkan kepercayaan di hari Sipeng, tentang keyakinan akan terus tumbuh kesuburan di masa depannya.

Tak ada gemerlap lampu setitik pun terlihat kala malam itu. Dingin sudah pasti, sepi menjadi indah. 

Tepat pukul 24.00 wita setelah Sipeng, semua berakhir. Gemerlap lampu memunculkan keindahan. Setidaknya, dari posisi perbukitan yang lebih tinggi, terlihat keindahan gemerlap lampu pedesaan itu memaknai bahwa hari yang baru kembali di jalani. 

Kala itulah, warga dusun Bolangan menyambut hari Ngembak Gni dengan melaksanakan tradisi “Nyakan Diwang”,  saat Jumat 8 Maret 2019.

Seolah muncul kehidupan baru. Suasana sepi berubah menjadi keramaian. Warga yang sebelumnya tertidur lelap, beranjak bangun dari tempat tidur. Menenangkan diri sejenak, langsung bergegas untuk bersiap memasak. Tempatnya bukan di dapur. Namun di luar rumah. Memasak dengan tunggu yang dibuat dipinggir jalan. Ini yang kerap disebut nyakan diwang. 

Warga memasak apa saja saat menjalankan tradisi Nyakan Diwang di Dusun Bolangan, Desa Kayuputih |Foto : Sosiawan|

Di tengah hujan gerimis, antusias warga tak pudar.  Peralatan masak dan kayu bakar langsung dibawa. Anak-anak pun tak ingin melewatkan momen tahunan ini. Mereka keluar, layaknya laron mencari sinar. Menyusuri jalan beramai-ramai. Ada yang berpelukan, berbalut canda tawa. Sangat riang, menunjukkan dunia masa kecil. Singgah di rumah kerabat, sekadar bertegur sapa. 

Ketika Apinya telah menyala, para warga membuat berbagai menu makanan. Ada nasi goreng dengan bumbu khasnya. Ada pula yang merebus pisang sebagai teman minum kopi. Cukup variatif. 

Di tengah udara yang cukup dingin, banyak orangtua yang duduk di sekitar tungku. Berdiang, mencari kehangatan. Ini diwarnai dengan obrolan santai. Tentang hari-hari yang telah berlalu hingga soal kehidupan kedepan. 

Tradisi ini warisan leluhur, yang setiap tahun selalu dilaksanakan kala perayaan Hari Suci Nyepi. 

Tradisi ini adalah sebuah penghormatan terhadap sisi pergaulan orang-orang Bali di wilayah perbukitan sana, menjadi media yang sangat efektif merajut rasa kebersamaan sesama warga, yakni menyama braya. 

Begitulah, tradisi ini juga sebagai ungkapan kegembiraan yang tiada tara. Setelah hari-hari selama setahun, warga bekerja di kebun, di perantauan dan saat Nyepi adalah momen panjang  untuk kembali kepangkuan keluarga. 

Saat Ngembak Gni itu, setelah semua masakan selesai dimasak, dan dihidangkan secara sederhana di pagi buta itu, mereka makan-makan bersama. Duduk berdekatan diantara warga lainnya. 

Duduk lesehan, rasa kekeluargaan sangat terasa. Tawa pun tak terlewatkan ditengah keramaian alunan lagu-lagu Bali. 

Aktivitas ini berlangsung hingga pukul 06.00 Wita. Setelah selesai bersibuk ria, peralatan memasak kembali dibawa satu persatu ke dapur. Tungku dibiarkan sampai api mati. 

Salah satu tokoh masyarakat, di Desa Kayuputih, I Made Seputra menuturkan tradisi ini sudah ada secara turun-temurun. Tidak diketahui kapan mulai kemunculannya.  

“Ini sudah jadi tradisi setiap ngembak Gni. Seluruh warga masak diluar,” tuturnya. 

Momen ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga dan keluarga. Sebuah momen yang semakin jarang dirasakan ditengah semakin padatnya kesibukan, terlebih yang hidup merantau. “Ini sambil kumpul-kumpul dengan keluarga setelah setahun disibukkan dengan beragam pekerjaan,” katanya. 

Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami tantangan. Ada rasa khawatir semakin ditinggalkan. Tak ingin hal itu terjadi, desa pakraman selalu gencar mengingatkan sebelum Nyepi untuk tetap melaksanakan tradisi Nyakan Diwang. Bahkan diterapkan sanksi. 

Jika melanggar diganjar denda berupa uang dan harus menggelar guru piduka di pura Bale Agung. “Tradisi ini juga wajib menggunakan tungku. Tidak boleh pakai kompor. Kami tetap melestarikan ini,” terangnya. 

Salah satu warga, I Nyoman Susana mengaku sangat menunggu momen ini. “Ini sangat ditunggu-tunggu. Rutin setiap tahun sekali. Ini juga buat tenda, biar tidak kehujanan,” ucapnya. 

Tradisi “Nyakan Diwang” ini memang dilaksanakan di sejumlah desa lainnya. Desa-desa lainnya, seperti Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, Kecamatan Banjar dan Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu  juga melaksanakan tradisi ini. Empat desa tersebut merupakan catur desa, juga melahirkan tradisi yang sama sejak turun temurun. 

Desa lain, yakni Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar dan Desa Bengkel Kecamatan Busungbiu juga menggelar tradisi Nyakan Diwang. 

Lalu di desa dekat tepian pesisir, ada Desa Dencarik, Desa Banjar dan Desa Banjar Tegeha juga melaksanakan tradisi Nyakan Diwang. 

Segala prosesi dari tradisi ini dilakukan saat Ngembak Gni oleh masyarakat di desa-desa itu. 

Di Banjar, Olahan Kuliner dari Tradisi Nyakan Diwang Dilombakan

Di desa Banjar, warga juga menggelar tradisi Nyakan Diwang, atau memasak di sisi jalan raya di depan rumah. 

Lomba Olahan kuliner dalam tradisi Nyakan Diwang di Desa Banjar, Kecamatan Banjar |Foto : Cok Aditya|

Yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya, dalam prosesi tradisi ini, warga menggelar lomba cipta menu kuliner khas Desa Banjar untuk memupuk rasa kekeluargaan. 

Warga Suka Duka Tunggal Pamukti , Banjar Dinas Melanting, Desa Banjar yang melombakan cipta rasa kuliner dari tradisi suci ini.  

Menu yang diolah diantaranya olahan cumi, daging ayam , sate, serapah kebo, serta olahan Ikan laut lainnya dengan dilengkapi aneka sambal nan pedas.

Walau hadiah yang sederhana,  warga tampak antusias mengikuti lomba sejak subuh pukul 03.00 wita.

Lomba cipta kuliner itu, dinilai langsung oleh Perbekel Banjar, Ida Bagus Dedy Suyasa dan dua juri lainnya Made Sindu dan Gusti Ngurah Suteja. 

”Nyakan diwang ini merupakan tradisi sejak dulu. Dimana kegiatan ini kami yakini untuk menyucikan lingkungan dan dapur kami. Dan tahun ini kami gelar lomba masakan agar ada yang berbeda,” ujar Ida Bagus Dedy Suyasa, SH ,Perbekel Desa Banjar yang akrab dipanggil Gus Romet

Sama seperti pelaksanaan tradisi di desa lain, seluruh warga di Desa Banjar keluar rumah memadati jalan desa. Tradisi memasak diluar rumah dilakukan di pintu masuk halaman rumah warga, keramaian dan keriuhan warga juga memberikan suasana berbeda saat tradisi usai Nyepi itu dilakukan secara bersamaan.

“Walau kondisi hujan sejak hari raya nyepi, tradisi tetap berjalan. Seluruh warga yang sedang melaksanakan tradisi saling mengunjungi dan ini tentunya menambah kekerabatan dan rasa persaudaraan,” ungkap Gus Romet. 

Sementara, Sekcam Banjar, Cok Adithya WP yang hadir dalam lomba kuliner Nyakan Diwang mengatakan tradisi nyakan diwang merupakan tradisi yang patut terus dilestarikan. 

Nyakan Diwang atau memasak diluar, merupakan satu tradisi yang harus tetap dijaga sebagai implementasi ajaran Tri Hita Karana, hubungan manusia dengan manusia, sebab memasak diluar itu hanya merupakan sarana untuk lebih mengakrabkan keluarga dengan keluarga lainnya dan sekaligus saling mengunjungi setelah melaksanakan Catur Berata Penyepian di Hari Suci Nyepi. menyucikan lingkungan rumah dan dapur.

Dimana masyarakat melangsungkan nyakan diwang dipercayai guna menyepikan dapur rumah serta diyakini bisa meningkatkan tali persaudaraan antara warga yang ada.

“Tentu dalam tradisi ini, mempunyai makna untuk memupuk semangay kebersamaan dan kekerabatan serta tali persahabatan antara satu dengan yang lainnya” jelas Cok adithya. 

Tahun depan, Di Hari Suci Nyepi yang akan datang, akan kembali lagi momen indah ini. Nyakan Diwang. |tim|