Mahasiswa Jepang Tertarik Dalami Keunikan Desa Pedawa

Mahasiswa asal Jepang mencoba menyalakan api dari tungku tradisional di dalam rumah adat Bandung Rangki, Desa Pedawa. |FOTO : PUTU NOVA A>PUTRA|

Singaraja, koranbuleleng.com | Pesona Desa Pedawa sebagai salah satu desa tua yang masih melekatkan tradisi dalam kehidupan sehari-hari  menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah mahasiswa dari negeri Sakura, Jepang.

Saat ini, ada 13 mahasiswa dari Jepang yang akan tinggal di Desa Pedawa selama 7 hari dari 12-19 Maret 2019. 13 mahasiswa tersebut akan menjalani kehidupan layaknya warga setempat, berbaur dengan kebiasaan dan tradisi warga dari desa Pedawa.  Selama tinggal di Desa Pedawa, 13 mahasiswa ini akan menginap di rumah-rumah warga desa.

Warga setempat juga sudah menerima tiga belas mahasiswa ini dengan terbuka, dan siap untuk bertukar pikiran dan memberikan  pemahaman tenang adat istiadat, tradisi agraris dan kebiasaan maupun prosesi budaya di Desa Pedawa. Nantinya, mereka juga akan diajak berkunjung ke desa-desa Bali aga, Sidatapa, tigawasa, Pedawa dan Banyusri.

13 mahasiswa asal Jepang ini sudah diterima secara resmi oleh Pemdesa Pedawa dan tokoh masyarakat Desa Pedawa, Selasa 12 Maret 2019. Usai penerimaan itu,  mereka langsung menuju rumah adat Bandung Rangki, Desa Pedawa.

Rumah adat Bandung Rangki ini adalah salah satu contoh rumah tradisional dari Desa Pedawa. Rumah ini, dibangun dari bahan yang diambil dari alam sekitar. Lantai tetap dari tanah, dan dinding serta atap berbahan dari anyaman bambu. Bentuk anyaman bambunya juga sangat khas dan berbeda dengan anyaman yang ada di daerah lain.

Di rurmah adat Bandung Rangki ini, beberapa mahasiswa Jepang terlihat mencoba menyalakan api dari tumgku tradisional yang terbuat dari tanah. Untuk membesarkan nyala api, mereka harus meniupnya dari sebatang potongan bambu. Aktifitas itu cukup menarik bagi mereka.

Kedatangan 13 mahasiswa Jepang yang tergabung dalam Line Japan ini bekerjasama dengan Universitas Pendidikan ganesha (Undiksha) Singaraja yang mengagas Village Stay Program. Selain didampingi oleh warga setempat, 13 mahasiswa ini juga akan didampingi oleh 6 orang mahasiswa Undiksha dari program studi Bahasa Jepang.

Awalnya, kedatangan 13 mahasiswa Jepang ini sebenarnya diajak oleh seorang peneliti dari Jepang bernama  Mitsuhabe. Mitsu, panggilan akrabnya sudah melakukan penelitian di Desa Pedawa selama dua tahun. Obyek penelitiannya tentang rumah adat Desa Pedawa.  

Selama dua tahun itu, Mitsu bukan hanya sekedar melakukan penelitian namun juga sudah berbaur dengan warga setempat. “Saya sudah sangat tahu,bahwa masyarakat Desa Pedawa ini sangat baik.” kata Mitsu yang sudah fasih berbahasa Indonesia.

Mitsu menjelaskan kedatangan mahasiswa dari Jepang ini nantinya akan mengikuti semua aktifitas warga desa mulai dari bertani, memasak dan berdiskusi. Mereka juga siap memberikan bantuan jika ada permasalahan yang dihadapi warga dibidang pertanian dan lingkungan.

“Ya kita berdiskusi, kami mau memberikan solusi jika ada masalah pertanian maupuan tentang sampah. Kami mendukung upaya desa melakukan pelestarian adat dan budayanya.” katanya.  

Sementara itu, Koordinator program studi Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Ganesha, Wayan Sadiana, mengungkapkan plafon kerjasama ini untuk mengenalkan adat istiadat budaya dan segala tradisi dari Desa Pedawa untuk dikenalkan kepada warga asing.

Diakui oleh Sadiana,  Mahasiswa Jepang ini berkolaborasi dengan mahasiswa Undiksha mengenal dan berinteraksi dengan masyarakat di Desa Psdawa.

Secara umum, ini dirancang untuk kepentingan kegiatan akademis. Mereka akan membantu segala permasalahan di desa baik tentang masalah pertanian, maupun masalah lingkungan.

“Mereka ini mahasiswa atau anak-anak muda pemikir. Apa yang akan menjadi permasalahan di desa akan dibantu dicarikan solusi baik dari sisi teknologinya ataupun solusi lainnya,” ucap Sadiana.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Desa Pedawa, Wayan Sukrata mengakui menerima dengan terbuka kedatangan 13 mahasiswa asal Jepang.

Sudah ada panitia kecil yang ditunjuk oleh Pokdarwis Desa Pedawa untuk mendampingi mahasiswa selama tinggal di Desa Pedawa.  

Ada beberapa yang akan dikenalkan kepada mahasiswa Jepang ini, diantaranya mulai soal pertanian, menganyam bambu, pengolahan kopi dan tradisi pembuatan gula aren, serta diskusi tentang lingkungan dan pertanian.

“Piranti-piranti upacara juga akan kami kenalkan sesuai dengan adat istiadat disini,” kata Sukrata.

Diskusi ini menjadi penting bagi warga Desa Pedawa, karena akan mendapatkan pemahaman dan wasasan dibidang lingkungan dan pertanian.

Desa akan lebih aktif mendorong warga juga ikut berbaur dan berdiskusi dengan mahasiswa asal Jepang ini.

Sekretaris Camat Banjar, Cok Aditya WP menyatakan promosi Desa Pedawa kepada warga asing melalui pola kerjasama dengan lembaga akademis akan membantu pemerintah dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat di pedesaan.

Menurutnya, kekhasan yang dimiliki oleh Desa Pedawa bis amenjadi modal dasar untuk membangun desa dan memeprkenalkan keunikan dari tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat.

“Pembangunan kan tidak hanya infrastruktur saja, tetapi melalui kegiatan promosi dan agenda kedatangan mahasiswa Jepang dan bermukim sementara di Desa Pedawa bis amenjadi pintu bagi masyarakat mencari ilmu atau wawasan tentang pertanian, lingkungan. Ini harus dimanfaatkan dengan baik,” ujar Cok Aditya. |NP|