Peneliti Ungkap Prasasti Sakral Era Raja Jaya Pangus

Peneliti melakukan identifikasi dan pembacaan Prasasti Klandis |Foto : Putu Nova A.Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com |  Beberapa keping prasasti yang sejak lama disimpan dan disakralkan di Pura Desa Pakraman Klandis, Kecamatan Kubutambahan diungkap oleh peneliti dari Balai Arkeologi Bali dan Universitas Udayana, Bali , Selasa 26 Maret 2019.

Tiga keping Prasasti yang terbuat dari tembaga dari era Raja Jaya Pangus ketika memerintah Bali pada tahun 1178 – 1881 Masehi, bertuliskan tentang pola pembayaran pajak Desa Bengkala dan Desa Pakuan. Desa Pakuan yang disebut itu adalah saat ini bernama Desa Pakisan di Kecamatan Kubutambahan.

Tiga prasasti yang dibacakan menunjukkan beberapa bagian yakni halaman 5, halaman 6 dan 7. Berat ketiga prasasti itu berbeda-beda, prasasti halaman 5 setelah ditimbang mempunyai berat 450 gram, halaman 6 beratnya 470 gram dan halaman 7 beratnya 455 gram.  Ketiga keping prasasti rata-rata berukuran panjang 40,5 cm dan lebar 7,5 cm.

Sebelum dibaca, tim membersihkan prasasti dengan campuran jeruk nipis agar jamur diatas keping prasasti itu bersih dan tulisannya bisa dibaca.

Menurut Koordinator Peneliti Balai Arkeologi Bali Nyoman Sunarya, terungkap jika Desa Pakuan yang saat ini bernama Desa Pakisan, pada masa lalu ingin memekarkan diri dengan Desa Bengkala. Karena itu Desa Pakuan wajib membayar pajak atau upeti satu bagian sedangkan Desa Bengkala wajib membayar 2 bagian.

“Dalam prasasti tersurat jika Wilayah Pakuan itu memekarkan diri dengan Bengkala. Berkaitan dengan pajak, maka Pakuan membayar satu bagian sedangkan Bengkala dua bagian. Nah apa yang menjadi pertimbangan itu tidak dijelaskan secara detail,” ujar Sunarya.

Sunarya menjelaskan pada tahun 1885 silam, seorang  peneliti asing bernama Dr. J.L.A Brandes pernah melakukan penelitian  Prasasti Klandis ini.  Oleh Brandes, Aksara Jawa Kuno yang tertulis di prasasti sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno.

Dari terjemahan itu terungkap hanya empat halaman yang diteliti oleh Brandes. Yakni halaman 2, 5, 6 dan 7.  Sedangkan halaman 1,3 dan 4 masih misteri.  

Pada tahun 2002, prasasti itu sempat dicuri oleh seseorang dan dijual hingga ke Bondowoso Jawa Timur. Dari hasil penelusuran, prasasti itu akhirnya berhasil ditemukan dan dibawa kembali ke Klandis.

“Nah dari sana terungkap halaman 2 hilang. Kini yang ada prasastinya hanya halaman 5, 6 dan 7. Diduga yang halaman 2 itu hilang dicuri,” bebernya.

Tim Balar Bali akan menyampaikan hasil identifikasi secara lengkap pada kurun waktu tiga bulan kedepan kepada masyarakat Desa Pakraman Klandis. Butuh proses untuk alih aksara, kritik teks dan alih bahasa sehingga bisa diulas tentang substansinya dari prasasti tersebut.

Sakral

Prasasti Klandis sangat disakralkan oleh warga Desa Pakraman Klandis

Sementara itu Bendesa Adat Klandis, Wayan Sadra mengatakan jika Prasasti Klandis ini sangat disakralkan oleh masyarakat desa Pakraman Kelandis.  

Prasasti  sering disucikan saat Purnama Sasih Kapat dengan cara dibasuh menggunakan air. Selanjutnya air itu disiratkan kepada masyarakat yang melakukan persembahyangandi Pura Desa saat pujawali, untuk memohon kemakmuran dan kesuburan.

“Sejauh ini secara turun temurun belum ada yang tahu apa isinya dari prasasti Klandis ini karena tidak ada yang paham aksaranya. Kami sangat terbantu dengan adanya Tim dari Balar melakukan identifikasi,” ujar Jro Sadra.

Sadra membenarkan, bahwa dulunya prasasti ini sempat dicuri dan dijual ke Bondowoso. “Akhirnya, warga memohon petunjuk untuk mengetahui dimana prasasti itu. Ternyata prasastinya dicuri dan terungkap dijual ke Bondowos. Lalu ditebus dan berhasil dibawa pulang lagi,” jelas Sadra.

Selain dari prajuru adat Kelandis, identifikasi prasasti juga dihadiri oleh Penyarikan Desa Pakraman Bengkala, Ketut Darpa. Kehadirannya untuk mengetahui sejauh mana kaitan prasasti itu secara historis  dengan Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan.

Penyarikan Desa Pakraman Bengkala, Ketut Darpa mengapresiasi pengungkapan isi prasasti Klandis yang sangat berharga warga di Desa Bengkala.

Dari prasati ini bisa terungkap tentang sejarah masa lalu antara Desa Bengkala dengan Klandis. Terlebih ada persamaan antara Desa Bengkala dan Klandis.  Bahkan sampai saat ini, masih terlihat dari hubungan kedua desa melalui keberadaan Pura Kumpi di Bengkala dan Pura Sang Kumpi di Klandis.

“Ini hubungan dari leluhur. Bilamana di Bengkala ada pujawali, maka wajib nangkil ke Pura Sang Kumpi di Klandis untuk memohon ijin. Bagi kami inilah bentuk hubungan historis religius yang terus dibina,” ujar Darpa.

Terlebih di dalam Prasasti Klandis terungkap jika wilayah Klandis dulu merupakan bagian dari Bengkala.

“Jadi penyebab terjadinya pemekaran dulu kami tidak tahu pasti seperti apa dinamikanya. Sehingga kami sebagai generasi penerus sekarang wajib menjaga prasasti ini sebagai rasa menyama braya semakin kuat antara Bengkala dengan Klandis,” tutupnya.

Sebelum prasasti dibaca, Tim Balar bersama Prajuru Desa PAkraman Klandis terlebih dahulu menggelar upacara atur piuning dan persembahyangan bersama di Pura Desa Pakraman Klandis.

Upcara dipimpin oleh Jro Bendesa Adat Kelandis, Wayan Sadra, didampingi sejumlah pemangku kahyangan desa.  Setelah prosesi matur piuning, prajuru adat menurunkan prasasti itu dari Pelinggih Gedong Prasasti di areal Utama Mandala Pura Desa.  Prasasti telah dibungkus dengan kain putih kuning.

Prasasti itu terlihat tersimpan rapi diatas sebuah benda seperti nampan yang terbuat dari tembaga. Nampan tersebut yang berdiameter sekitar 30 cm.

Usai segala prosesi niskala itu, Tim peneiti Uniersitas Udayana dan Balai Arkeologi langsung melakukan identifikasi isi prasasti. |NP|