Walaupun Minim Peminat, Lomba Nyastra Untuk Pelestarian Budaya Bali

Lomba Nyastra Bali

Singaraja, koranbuleleng.com| Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng menggelar Lomba Nyastra yang dibuka di Wantilan Sasana Budaya Singaraja Jumat, 31 Mei 2019. Ada enam jenis yang dilombakan, namun beberapa lomba ternyat minim peminat. Lomba Nyastra ini digelar untuk mengkaji, melestarikan dan mengembangkan potensi budaya khususnya Bahasa Bali dikalangan  generasi muda di Buleleng.

Enam jenis yang dilombakan, yakni lomba Mesatua, Baca Berita Bali, Puisi, Macecimpedan, Nyurat, dan Lomba Pidarta berbahasa Bali. Yang minim peserta satunya adalah Lomba pidarta yang hanya diikuti tiga orang peserta. Kemudian ada lomba Nyurat yang diikuti lima orang peserta, dan juga lomba puisi yang hanya diikuti enam peserta. 

Padahal, lomba nyastra ini menyasar seluruh sekolah baik tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK yang ada di kabupaten Buleleng. Namun jumlah peserta yang mendaftar secara keseluruhan hanya sebanyak 46 orang saja.

Walaupun demikian, hal itu tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan Lomba Nyastra yang pertama kalinya digelar Dinas Kebudayaan tersebut. Terlebih lagi kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi penerapan Pergub No. 80 Tahun 2018 yang diterbitkan Gubernur Bali I Wayan Koster.

“Seberapa jauh implementasinya. Targetnya nanti tidak hanya lingkungan sekolah, lomba akan menyasar masyarakat secara luas, sehingga  kegiatan ini akan menjadi cikal bakal berkembangnya bahasa Bali di masyarakat,” ujar Kadis Kebudayaan Gede Komang usai membuka lomba nyastra.

Gede Komang pun menyadari jika Lomba Nyastra ini khususnya dalam hal Nyurat lontar sepi peminat. Tetapi dibalik lomba ini, ada misi yang sangat luhur yakni untuk pelestarian budaya Bai. Maka dari itu, kegiatan ini juga akan menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan program pengembangan Kebudayaan Bali di tahun mendatang.

“Justru itu karena kurang diminati, kami mencoba mendorong dan memotifasi generasi muda. Mudah-mudahan melalui lomba ini ada progress peningkatan,” tegasnya. 

Disisi lain, Koordinator Lomba Nyurat Lontar I Dewa Ketut Djareken mengaku sangat prihatin dengan minimnya peminat generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan Nyurat Lontar. Padahal dari hasil pengamatan selama ini, Ia merasa minat anak-anak muda masih tinggi.

Pasalnya, selain mendapatkan pembinaan di Sekolah masing-masing, kini pembinaan tentang kebudayaan Bali juga dibantu dengan keberadaan Penyuluh Bahasa Bali melalui kegiatan Pasaraman di Desa Pakraman. Menurutnya, Pemkab Buleleng juga harus mengambil peran untuk pelestarian dengan menggelar lomba-lomba, sehingga minat generasi muda semakin tinggi untuk mewarisi kebudayaan Bali.

“Pembinaan itu sekarang tidak hanya di sekolah, namun bisa melalui Pasraman. Dan peran Pmerintah juga harus memperbanyak lomba-lomba yang berkaitan dengan nyastra Bali, termasuk melakukan sosialisasi untuk menumbuhkan rasa untuk mau melestarikan warisan ini,” ujarnya.|RM|