Asa Galungan Menata Ekowisata

Air terjun Desa Galungan berada ditengah hutan lindung seluas 712 hektar. |FOTO : PUTU NOVA A.PUTRA|KORANBULELENG.COM|

Singaraja, koranbuleleng.com | Panorama persawahan dengan latar belakang pegunungan terlihat gagah di Desa Galungan. Apalagi, cuacanya cerah, biru langit dengan beberapa titik gumpalan awan terlihat sempurna.

Bila menuju Desa Galungan dengan berkendara, biasanya sering mengantuk. Sebabnya, hawa disini yang teramat sejuk, membuat mata kadang terkantuk-kantuk. Karena itu, berhati-hatilah.

Memasuki Desa Galungan, cuaca disini sudah terasa sangat sejuk. Pepohonan cengkeh yang sudah berumur tua, konon ada yang sudah berumur 80 tahun masih lestari. Aroma wangi cengkeh akan menyebar bilamanana panen telah tiba. Desa ini memang eksotis.

Dengan kekayaan alam yang maha megah, Desa Galungan punya potensi besar sebagai desa yang pantas untuk jumawa bidang ekonomi. Namun, semua itu harus butuh konsep yang matang.

Sebagai desa yang berada di wilayah pegunungan, terletak kurang lebih 1000 dpl (diatas permukaan laut).  Di wilayah pegunungan itu, ada hutan lindung seluas 712 hektar. Di dalamnya, juga terdapat sumber air terjun.

Hutan dan air, satu kesatuan alam. Ini kekayaan alam yang tak terhingga.  Keduanya masih lestari di Desa Galungan.

Sebenarnya, hewan khas di Hutan Desa Galungan masih ada, yakni Kijang. Namun, masyarakat setempat meyakini, keberadaan hewan tersebut juga bagian dari “Taksu” alam setempat yang tidak begitu mudah muncul ke permukaan. Desa ini, mempunyai tradisi meboros kijang bilamana terdapat piodalan di Pura Desa Setempat. Hasil perburuan kijang itu, digunakan untuk sarana banten.

Tentang air, juga masih lestari. Debitnya masih tinggi di dalam hutan ini. Bahkan, beberapa ikan khas seperti Julit masih terlihat. Ikan tawar lainnya seperti jajung, kepiting dan lainnya.

Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana memahami Desa Galungan mempunya potensi yang besar jika dikembangkan menjadi salah satu desa dengan nuansa ekowisata perairan.

Sabtu 15 Juni 2019 lalu, beberapa mahasiswanya bersama sejumlah dosen ikut menyumbangkan saran dan pikiran agar desa ini bisa berkembang menyelaraskan dengan kondisi alam yang ada. Civitas fakultas ini bersama elemen masyarakat di Desa Galungan, termasuk Pokdarwis Giri Kencana dan Pemerintahan Desa Galungan melakukan penebaran benih ikan air tawar. Jenisnya, ikan nila dan udang air tawar. Benih ditebar di pusat sumber air terjun di dalam  hutan lindung, serta beberapa aliran sungainya.

Salah satu Dosen fakultas itu, Wayan Restu, memaparkan di Desa Galungan sudah ada lanskap alam yang begitu indah, dan sumber daya alam yang lestari.

Potensi Desa Galungan yakni hutan, sungai, masyarakat serta iklim yang sejuk untuk pengembangan desa wisata. Letak desa wisata juga dekat dengan usat pengembangan wisata, mulai dari Bedugul, Munduk, Lovina ataupun Buleleng timur.

“Masukan besar, untuk mengembangkan Galungan harus membangun institusional building, sebuah lembaga yang menyiapkan potensi ini menjadi atraksi, akomodasi, eksebision hall dan lainnya,” kata Restu.

Generasi berikutnya, kata Restu, harus menjadi sumber daya utama untuk mempersiapkan rencana di masa depan. Yang biasa terjadi, nilai benefit ke masyarakat lokal tidak seimbang karena sumber daya manusianya tidak kompeten.

“Sumber daya manusia harus disiapkan untum membangun potensi-potensi yang ada,” katanya.

Hal lain yakni kunci dari pengembangan wisata, kata Restu, harus disiapkan pasar yang bersifat global. Caranya membangun jejaring. Kelompok sadar wisata yang ada saat ini digenjot sedemikian rupa untuk membangun jejaring, hubungan dengan pelaku pariwisata seperti agen travel, hotel, pemerintah.

“Tidak kalah penting, pengembangan pariwisata harus ada modal. Pemerintah mungkin bisa membantu memberikan dukungan modal untuk kelompok sadar wisata atau pariwisatanya langsung,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Galungan, I Gede Haryono menyatakan pelestarian hutan dilkaukan dnegan swadaya masyarakat. Seluruh masyara kat mengawasi sehingga tidak terjadi penebangan liar. 

“Kami lakukan upaya pelestarian hutan dengan isinya beserta satwa yang ada di dalamnya,” kata Haryono.

Pokdarwis Desa Galungan juga berperan penting untuk mengelola upaya pengembangan parwisata desa. Sejumlah pelatihan bagi Pokdarwis juga sudah diberikan dengan mengundang sejumlah pemateri dibidang pengembangan pariwisata desa. |NP|