Tari Cendrawasih Karya Seniman Gede Manik Direkontruksi

Tari Cendrawasih hasil karya seniman Buleleng Almarhum Gede Manik ditarikan di panggung tebruka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar |FOTO : PUTU NOVA A PUTRA|

Singaraja, koranbuleleng.com| Maestro Gde Manik sebagai salah satu pencipta tari dari Kabupaten Buleleng pernah melahirkan sebuah garapan tari yang diberinama Tari Cendrawasih. Namun jika menyimak dari segi karawitan pengiringnya serta gerakan penarinya, tari Cendrawasih ‘Buleleng’ ini jauh berbeda dengan tari cendrawasih yang diciptakan oleh Swasthi Wijaya Bandem.

Tidak ada yang mengetahui persis kapan tarian ini berhasil diciptakan oleh Gde Manik. Namun, beberapa sumber menyebut jika tarian ini pertama kali ditampilkan sekitar tahun 1920 di Subdistrik Sawan (Kini Kecamatan Sawan). Dari sisi gerakan, tari Cendrawasih khas Buleleng ini memiliki gerakan yang dinamis, dan penuh enerjik. Tarian ini juga mengandalkan ekspresi seperti halnya Tari Terunajaya yang juga diciptakan oleh Gde Manik.

Dari sisi pementasan diatas panggung, Tarian ini bisa dibawakan secara tunggal, atau boleh lebih dari satu orang penari, namun bukan sebuah tarian berpasangan. Dari sisi karawitan, tentu saja tari ini diiringi dengan tabuh gaya Bulelengan dengan khas tempo yang cepat.

Maka jelaslah jika tari Cendrawasih Buleleng ini berbeda dengan tari Cendrawasih yang diciptakan Swasthi Wijaya Bandem di tahun 1987 silam.

Tari Cendrawasih Buleleng ini sebenarnya tidak banyak yang mengetahui bahkan hampir terlupakan. Hingga kemudian, tarian ini kembali ditampikan dalam pembukaan Konferensi dan Festival Internasional Bali Utara II di Auditorium Undiksha tahun 2013 lalu. Tarian itu dibawakan dengan apik oleh Ni Luh Menek yang tidak lain adalah murid dari sang Maestro Gde Manik. Sementara untuk sekaa gong pengiring saat itu adalah Sekaa Karawitan Eka Wakya Banjar Paketan dengan pembina tabuh Made Pasca Wirsutha.

Tarian itu kemudian dikenal dan sisosialisasikan langsung oleh sang Penari. Hingga kemudian, tari Cendrawasih Buleleng ini ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) oleh Sanggar Seni Anglocita Suara Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng, baik di Eks Pelabuhan Buleleng, maupun di Panggung Ardha Candra Taman Budaya Denpasar. Para penarinya pun mendapat kehormatan karena dibina langsung oleh Luh Menek.

Kini, untuk membangkitkan dan melestarikan Tari Cendrawasih Buleleng itu, Dinas Kebudayaan (Disbud) kabupaten Buleleng berencana untuk merekontruksi. Namun, rencana itu baru akan dilakukan di tahun 2020 mendatang. Kepala Bidang Kesenian Disbud Buleleng Wayan Sujana mengatakan, pementasan Tari Cendrawasih Buleleng dalam PKB beberapa hari lalu merupakan bagian dari Pra Rekontruksi.

Rencananya, proses rekontruksi akan melibatkan Institute Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Langkah ini pun akan berjalan mudah, mengingat antara Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan ISI sudah menjalin kerjasama yang ditandai dengan penandatanganan MOU antara Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dengan Rektor ISI Denpasar I Gede Arya Sugiartha saat pelaksanaan PKB Kabupaten Buleleng Bulan Mei lalu.

“Pra rekontruksi itu nantinya akan menjadi pendalaman untuk menyusun kajian akademis oleh ISI Bali,” jelasnya.

Menurut Sujana, pembuatan Kajian Akademis memang diperlukan dalam proses rekontruksi, sebagai bagian dari legalitas. Prosesnya pun akan berjalan panjang, termasuk melakukan diskusi dengan Luh Menek sebagai Pelaku. Pasalnya, dalam rekontruksi syarat yang harus dipenuhi adalah harus ada narasumber yang bisa baik pelaku maupun pencipta. Nantinya kajian akademis ini yang menentukan apakah akan ada yang dirubah atau dimodifikasi.

“Secara akademis, ada teknis untuk menyatukan atau menambah gerakan menyesuaikan dengan pra rekontruksi, dengan mencarikan pola-pola gerak yang sesuai dengan pada masa itu, ini orang akademis yang tahu. Kita tetap menggali sesuai pengakuan ibu Menek sebagai orang yang mengetahu tari itu,” ujarnya.

Nantinya, setelah proses rekontruksi selesai, Dinas Kebudayaan pun memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan Tari Cendrawasih gaya Buleleng itu kepada masyarakat, baik dengan menggelar pementasan dan juga pelestarian melalui sekaa atau sanggar. Rencananya, Disbud akan membuat kerjasama dengan Sekaa atau Sanggar yang memenuhi syarat untuk mau melakukan pelestarian.

Hasilnya perlu kita viralkan, kelanjutannya mengadakan pementasan hasil rekontruksi. Tujuannya untuk sosialisasi kepada masyarakat, dan videonya kita sebarkan kepada sanggar sebagai ajang pelestarian, sehingga Tari Cendrawasih gaya Buleleng ini terus hidup,” pungkas Sujana.|RM|