Bulfest, Nostalgia dan Harapan Buleleng

Tari Rangrang

#kilasbalik

Singaraja, koranbuleleng.com| Sebagian besar, banyak yang menantikan even Buleleng Festival yang biasa digelar dibawah tugu Singa Ambara Raja, maskot besar kota Singaraja. Walapun ada juga yang mengkritik secara pedas bahwa Bulfest itu tidak mendatangkan keuntungan dan kesejahteraan bagi warga Buleleng secara umum. Apalagi sampai menutup jalan besar yang biasa digunakan untuk lalu lalang transportasi publik.  

Tapi garis besarnya, Bulfest itu isinya tentang pentas kesenian, kuliner, dan industri kreatif serta ragam lomba yang suasananya melibatkan siswa, masyarakat umum maupun diramaikan oleh PNS. Begitulah Bulfest digelar sejak awal di tahun 2013 silam. 

Jadi, Bulfest itu sebuah event tahunan yang kini sudah memasuki tahun ke-7. Sejak mulai dirancang dan hingga kini telah menjadi salah satu Calendar Of Event Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, Bulfest digagas dengan misi Pengembangan, Penggalian, dan Pelestarian Seni dan Budaya di Kabupaten Buleleng.

Mari kembali ke masa lalu. Beragam tema juga ditentukan setiap kali perhelatan Bulfest setiap taahunnya. Tema itu sebagai gambaran tentang potensi daerah dan perjalanan manusia disertai aktifitas seni budaya Buleleng, warisan masa lalu dan yang akan diwariskan dari di masa datang. Ada nostalgia dan harapan didalamnya.

Di tahun 2013 misalkan, Bulfest pertama kali digelar dengan tema “My City, My Pride”. Tema ini diusung atas dasar rasa kebanggaan terhadap Kota Singaraja. Maka itu, berbagai ornament yang muncul di setiap sudut area Bulfest adalah kreatifitas tanpa batas dari para penghuni Kota Singaraja, terutama para kreator kreatifitas pada masa itu.

Ingat, sebuah  backdrop di panggung utama di bawah Tugu Singaraja kala itu sangat unik dan menggetarkan jiwa. Yang membuat adalah sebagian dari anak-anak mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha. Persiapannya juga cukup lama, kurang lebih enam bulan pihak panitia melakukan berbagai pertemuan dan diskusi panjang hingga Bulfest pertama digelar dengan sukses dan menggugah kebanggaan. 

Kemudian dalam pelaksanaan Bulfest tahun selanjutnya di tahun 2014, Buleleng Festival berlangsung dengan tema “The Dynamic Of Buleleng”, yang bermakna kehidupan seni dan budaya Buleleng yang dinamis. Saat itu, Bulfest menampilkan sekitar 1.000 penari yang membawakan Tari Nelayan yang merupakan hasil karya I Ketut Merdana.

Ditahun berikutnya tepatnya tahun 2015, Buleleng Festival mengambil tema “Gurnitaning Denbukit” dengan makna Gemuruh Musik di Bali Utara. Bulfest ketiga itu dibuka dengan penampilan 20 sekaa gong, termasuk 10 sekaa Ngoncang yang ada di Buleleng. Saat pembukaan itu suasana begitu gemuruh sesuai dengan tema. Karena alat musik berupa Gong Kebyar dan juga irama ngoncang yang berasal dari suara ketungan berbunyi saling bersahutan.

Selanjutnya pada tahun 2016 tepatnya 2-6 Agustus 2016, Bulfest digelar untuk ke-empat kalinya dengan mengangkat tema “Masterpieces Of Buleleng” dengan makna Mahakarya Buleleng. Pembukaannya pun tidak kalah dari tahun-tahun sebelumnya, karena menampilkan parade joged masal yang melibatkan tidak kurang dari 400 orang seniman.

Dan kemudian di tahun 2017, Buleleng Festival berlangsung dengan mengangkat tema “The Power of Buleleng” yang berarti menunjukkan segala potensi yang menjadi kekuatan Kabupaten Buleleng. Berlangsung selama lima hari, pembukaan menampilkan parade Ngoncang dan Parade Baleganjur massal. Atraksi ini melibatkan kurang lebih 850 seniman, dari 10 Sekaa Ngoncang dan 20 Sekaa Baleganjur.

Ketenaran festival Seni dan Budaya terbesar di Gumi Denbukit ini kemudian mencapai puncaknya. Ketika di tahun 2017, Buleleng Festival mendapatkan penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2017 dari Kementerian Pariwisata. Ditambah lagi, Buleleng Festival sudah tercatat sebagai salah satu Calendar of Event Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI.

Berbekal penghargaan tersebut, Bulfest kembali berlangsung di tahun 2018. Mengangkat tema “The Spirit of Pluralism” atau semangat keberagaman, pembukaan Bulfest berangsung semarak dengan menyajikan Tari Rangrang, yang disimbolkan sebagai tarian pluralism.

Tarian ini secara filosofi berarti warna-warni, yang melambangkan kehidupan masyarakat di Buleleng yang heterogen. Tarian ini ditarikan oleh 58 penari. Para penari ini mereprentasikan empat etnis seperti etnis Tionghoa, Etnis Bali, Etnis Muslim yang hidup berdampingan dengan damai.

Tidak hanya mengangkat potensi kesenian dari Buleleng, Bulfest bahkan menjadi salah satu ajang untuk munculnya sejumlah potensi lain. Mulai dari kuliner, termasuk industry kreatif. Tidak hanya itu, Bulfest juga pernah menjadi ajang berdiskusi para seniman, melalui kegiatan workshop. Dimana topik yang diangkat dalam workshop tersebut mengenai 100 tahun usia Gong Kebyar. Sebagai tuan rumah kegiatan diskusi tentu special bagi Buleleng. Karena dari Gumi Denbukit lah, Gong Kebyar itu muncul.

Sudah berjalan selama tujuh tahun, Bulfest menjadi salah satu agenda yang paling dinanti. Hal ini pun tidak terlepas dari bagaimana awal mula Bulfest ini digagas sejak tahun 2013. Kala itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana yang baru beberapa bulan menjabat sebagai Bupati Buleleng, memiliki keinginan agar Bali Utara memiliki sebuah even berkualitas, sekaligus menjadi ikon dari Kabupaten.

Saat itu, Bupati Agus Suradnyana menunjuk Gede Suyasa yang menjabat sebagai Kepala Bappeda Buleleng sebagai Ketua Panitia. Pembentukan Panitia hingga pembentukan Tim Kreatif saat itu lanjut melakukan pembahasan yang panjang. Ada beberapa nama tim kreatif kala itu yang tercatat, diantaranya Kadek Sonia Piscayanti, Tjokorda Aditya WP, Dedet, Dedek dan Nyoman Budi Suharta. Atas sumbangsih tindakan dan pencapaiannya atas kesuksesan Bulfest kala itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana memberikan penghargaan bagi mereka.

Banyak harapan kegiatan festival yang akan digelar harus menjadi even yang bisa dilaksanakan dengan berbagai kegiatan, untuk menunjukkan bahwa Buleleng memiliki potensi besar yang perlu di publish. Kegiatan itu pun kemudian diberi nama “Buleleng Festival”.

“Bulfest memiliki misi dalam tiga point besar, yaitu penggalian, pengembangan dan pelestarian seni dan budaya. Namun dibalik itu ada dokumentasi dan promosi. Disini ada sinergitas dari misi yang ada dari sisi promosi, maka multi sektor bisa digerakkan,” jelas Suyasa.

“Dengan catatan, bahwa semua pengisi acara harus terseleksi dengan baik, agar tampilannya secara kualitas memenuhi standar terbaik,” katan Suyasa.

Kini, ketika kegiatannya memasuki tahun ketujuh, Suyasa mengaku tidak heran jika Buleleng Festival masih bisa eksis. Hal itu tidak terlepas dari konsep kegiatan yang disusun berdasarkan misi penyelenggaraan, sehingga Bulfest memiliki konten yang berkualitas dan unik. Baik dari sisi kesenian, budaya, kuliner, serta industry kreatif. Dari kreatifitas dan keunikan konten kegiatan yang disajikan, masyarakat atau pengunjung yang hadir, bisa memilih, sajian mana yang harus mereka nikmati.

“Kita berharap bahwa makin tahun makin baik, dan tentu akan memberikan vibrasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat disamping bisa menggali, mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya yang ada di Buleleng,” harap Suyasa.

Kesuksesan pelaksanaan Buleleng Festival hingga kini juga tidak terlepas dari peran serta Made Adnyana ‘Ole’ Budayawan dari Komunitas Mahima sebagai salah seorang yang juga ikut merumuskan pelaksanaan Bulfest. Ole menyebut jika Bulfest adalah sebuah festival untuk menunjukkan hasil-hasil pencapaian kebudayaan Buleleng.

Pencapaian yang dimaksud adalah hasil karya dari seseorang yang telah mendapat pengakuan dan tidak ada di Daerah lain. Ia melihat ada banyak hasil pencapaian orang Buleleng yang terpendam dan perlu mendapatkan wadah untuk dihadirkan dan diketahui oleh banyak pihak.

Dan untuk menyajikan festival dengan konten yang berkualitas, harus diberlakukan sistem kurasi. Sehingga hasil karya yang telah menciptakan pencapaian yang ditampilkan patut untuk tampil dalam Bulfest.

“Dari penggalian hasil pencapaian itu, sekaligus bisa melestarikan kita mengembangkan agar menjadi inspirasi untuk menciptakan hal yang baru. Dan tentunya, pencapaian-pencapain kebudayaan baru yang muncul pun nantinya juga disajikan lagi dan Bulfest benar-benar menjadi ikon yang berkualitas dari Buleleng,” kata Ole.

Disisi lain, Buleleng Festival pun telah mendapatkan hasil-hasil pencapaian tujuan yang luar biasa, sehingga bisa berlangsung secara berkesinambungan. Bulfest telah menjadi salah satu Calendar Of Event dari Kementerian Pariwisata RI. Maka itu bisa menjadi salah satu pijakan dari sekian tapak jalan yang harus digunakan untuk menggaungkan nostalgia masa lalu dan harapan masa depan Buleleng. |Rika Mahardika|