Jejak Supit Udang di Jagaraga Masih Terlihat Tapi Tak Terawat

Diskusi terbatas Kajian Peristiwa Sejarah Perang Jagaraga

Singaraja, koranbuleleng.com| Puputan Jagaraga di Kecamatan Sawan yang terjadi ditahun 1848 dan 1849 ternyata masih menyisakan peninggalan. Salah satu yang menjadi peninggalan dari jeniusnya strategi Perang Gusti Ketut Jelantik adalah sebuah Benteng Pertahanan Supit Urang atau Supit Udang.

Puputan Jagaraga menjadi salah satu pertempuran terbesar di Pulau Dewata pada era penjajahan Belanda. Belanda sempat kerepotan menghadapi pasukan Kerajaan Buleleng yang dipimpin I Gusti Ketut Jelantik ditahun 1848, maupun pertempuran menghadai pasukan yang dipimpin Istrinya Jro Jempiring di tahun 1849. Hingga akhirnya, Belanda pun berhasil menguasai tanah Bali kala itu.

Untuk menghargai kepahlawanan Gusti Ketut Jelantik dan Istrinya Jro Jempiring beserta para pasukannya yang gugur, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) telah membangun Monumen Perang Jagaraga di Kecamatan Sawan. Monument yang telah diresmikan di Bulan Februari tahun 2017 lalu itu, dibangun diatas lahan seluas 0,5 hektar, dengan tinggi patung mencapai 15 meter.

Namun ternyata, sisa-sisa peninggalan Puputan Jagara tidak hanya bisa dikenang melalui keberadaan monumen tersebut. Karena saat ini, masih ada beberapa peninggalan yang berkaitan dengan Perang tersebut. Salah satunya adalah benteng pertahanan Supit Urang atau Supit Udang.

Benteng Supit Urang ini memang dibangun Gusti Ketut Jelantik dengan memanfaatkan alam Desa Jagaraga kala itu yang tandus, namun memiliki topografi pegunungan terjal dengan dua sungai pengapit di bagian kiri dan kanan yang menghubungkan ke tepian untuk dijadikan basis pertahanan. Berkat benteng pertahanan inlah di tahun 1846, pasukan Militer Belanda mundur.

Sayangnya, benteng Supit Urang itu kini dalam kondisi yang tidak terawat. Ketidak tahuan masyarakat Desa Jagaraga tentang sejarah Puputan yang pernah terjadi di Desanya menjadikan peninggalan itu terbengkalai.

“Supit urang, masih ada, kami selaku Aparat Desa pernah melihat namun kurang jelas, karena dipakai pembuangan jempana untuk orang meninggal, dan tidak terawat,” ujar Kasi Pemerintahan Desa Jagaraga Made Buda Rastawa.

Saat ini, secara perlahan masyarakat setemat semakin memahami tentang pentingnya bukti peninggalan sejarah. Sehingga kedepan, desa berencana akan melaksanakan musyawarah untuk menindaklanjuti keberadaan supit urang tersebut sebagai bagian dari sejarah Desa.

“Sebagai generasi muda dan tokoh akan berusaha menghidupkan sisa sejarah itu. Kita akan ada musyawarah desa apakah kita bangun disana, nanti dimusyawarah desa diputuskan,” Imbuh Buda Rastawa.

Sementara itu, terkait dengan keberadaan Monumen Perang Jagaraga itu, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melaksanakan diskusi terpumpun Kajian Peristiwa Perang Jagaraga di Kabupaten Buleleng di Kantor Dinas Kebudayaan Buleleng Senin, 16 September 2019.

Diskusi itu menghadirkan instansi terkait, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan pemuda dan Olahraga, serta dari Jurusan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.

Dalam kegiatan itu, Disbud Bali menggandeng Tim Kajian Sejarah Bali Pupitan Jagaraga dari Universitas Udayana (Unud) Denpasar. Salah satunya adalah Ida Ayu Putu Mahyuni. Menurutnya, Tim ini bertugas untuk menyusun sejarah dari Puputan Jagaraga, untuk bisa diketahui masyarakat luas dan untuk menanamkan nilai kepahlawanan dari Puputan tersebut.

Terlebih lagi ada nilai positif yang didapat dari Diskudi ini yakni tentang keberadaan peninggalan sejarah perang tersebut. Sehingga kedepan, sangat diharapkan peran serta dari masyarakat dan juga Pemerintah untuk menjaga dan melestarikan.

“Memang masih ada peninggalan, dan harus menjadi perhatian pihak-pihak terkait. Apakah itu dikelola, direkontrusi pastinya diperhatkanlah. Karena itu bisa dikembangkan untuk diketahui oleh dunia,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Praktisi Sejarah yang juga Dosen Jurusan Sejarah Undiksha Singaraja Made Pageh justru mengkritisi cerita sejarah yang selama ini berkembang. Terkait dengan kepemimpinan dua pahlawan yakni Gusti Ketut Jelantik dan Istrinya Jro Jempiring. Dari cerita-cerita sejarah yang ada, justru Gusti Ketut Jelantik yang paling menonjol. Padahal menurutnya, ada peran kepemimpinan yang berbeda dilakukan oleh keduanya.

Menurutnya, dalam Puputan Jagaraga terjadi dua perstiwa besar pada tahun 1848 yang disebut Puputan Jagara Pertama dan juga 1849 yang disebut Puputan Jagaraga Kedua. Saat Puputan Jagara Pertama, Gusti Ketut Jelantik memang berperan sebagai patih yang memimpin pasukan dengan benteng pertahanan Supit Urang dan berhasil mengusir Pasukan Belanda.

Namun saat Puputan Jagaraga Kedua, pasukan justru dipimpin oleh Jro Jempiring, karena saat itu, Gusti Ketut Jelantik memilih pulang ke Kerajaan Karangasem akibat adanya ancaman dari Belanda untuk menghancurkan Kerajaan Karangasem.

“Jadi keduanya itu adalah Tokoh pemimpin pasukan. Dan Jro Jempiring memang berperang hingga tetes darah penghabisan saat Puputan Jagaraga Kedua itu dan Gugur. Aryinya, dalam Puputan itu memang ada dua pahlawan sebagai pemimpin pasukan,” jelasnya.

Monumen Perang Jagaraga Membutuhkan Guide

Pemerintah Kabupaten Buleleng memang telah meresmikan Monumen Puputan Jagaraga di Bulan Februari tahun 2017 lalu. Bahkan Dinas Pariwisata Buleleng telah menetapkannya sebagai Objek Daya Tarik Wisata (DTW) Sejarah.

Hanya saja, hingga kini ternyata Monumen tersebut belum memiliki pemandu wisata yang ditempatkan untuk menjelaskan terkait dengan sejarah Perang Jagaraga yang diabadikan menjadi monument tersebut. Hal itupun muncul dalam diskusi terpumpun Kajian Peristiwa Perang Jagaraga.

Dalam diskusi itu mencuat jika tingkat kunjungan wisatawan khususnya mancanegara yang mengunjungi Monumen masih rendah. Wisman lebih memilih berkunjung ke Pura Dalem Desa Jagaraga yang masih berkaitan dengan Perang Jagaraga. Namun yang menjadi penyebab adalah karena di Pura tersebut, Desa menempatkan seorang pemandu yang bisa memberikan penjelasan kepada wisatawan.

“Kami memberikan saran karena ada beberapa hal yang masih diperlukan seperti guide yang diperlukan untuk menceritakan sejarah perang Jagaraga. Outputnya nanti peberdayaan monument sebagai wisata sejarah dan sarana edukasi para pelajar, generasi muda tentang pemahaman nilai-nlai kepahlawanan,” kata Ida Ayu Putu Mahyuni.

Sementara menurut Made Pageh yang seorang Sejarawan menyebut jika keberadaan Monumen Jagaraga bisa dijadikan tempat untuk mewariskan nilai dalam sebuah peristiwa besar di Buleleng. Namun tidak cukup hanya dengan membangun Monumen.

Menurutnya, harus ada sejumlah terobosan yang dilakukan, sehingga bisa menarik orang dalam jumlah banyak untuk datang, kalau di Desa Jagaraga pernah ada peristiwa besar, pernah ada pahlawan Laki-laki dan Perempuan, dan ada sebuah Daerah Strategis untuk dikembangkan. Dan hal itupun bisa dilakukan oleh Pemerintah secara bersinergi dengan masyarakat setempat.

“Harusnya ikut mengembangkan agar masyarakat disekitarnya ikut memelihara, karena kalau tidak, tidak akan berguna. Kelanjutannya nanti membangun struktur lain untuk menghidupi masyarakat setempat, dengan memanfaatkan objek-objek yang ada, untuk “dijual” sebagai pariwisata sejarah dan budaya,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Komang mengatakan, apa yang tertuang dalam diskusi itu nantinya akan ditindak lanjuti bersama dengan Instansi terkait di Pemkab Buleleng. Pun demikian, Ia pun tidak menampik jika saat ini, memang kunjugan wisatawan mancanegara ke Monumen Jagaraga masih sepi, karena tidak adanya pemandu wisata.

“Karena selama ini petugas disana belum lengkap, siapa yang menjadi guide disana untuk menjelaskan tentang keberadaan Monumen itu. Pengunjung kan tidak semuanya mengerti. Oleh karena itu, kedepan, akan dipikirkan menempatkan guide disana untuk bisa lebih dipahami oleh pengunjung,” ujarnya. |RM|