Akulturasi Budaya Dari Kisah Cinta Sri Jaya Pangus dan Kang Cing Wie

Latihan pementasan fragmen tari Sri Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wie

Singaraja, koranbuleleng.com | Sejumlah seniman dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng akan mementaskan fragmen tari kisah cinta Raja Bali Kuna, Sri Jaya Pangus dengan Putri Kang Cing Wie, atas undangan dari Konsulat Jenderal Tiongkok di Denpasar, Rabu 25 September 2019 mendatang.

Saat ini, tim kesenian dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng masih terus memantapkan persiapan dengan menggelar latihan intensif. Pementasan kisah  Putri Kang Cang Wie ini sebagai upaya kerjasama kebudayaan antara Tiongkok dengan Bali.    

Menurut penuturan Kabid Kebudayaan, Wayan Sujana, kisah ini hidup ditengah-tengah masyarakat Bali hingga kini. Ini merupakan kisah percintaan Raja Bali Sri Jaya Pangus dengan Puteri Kang Cing Wie, seorang putri seorang saudagar asal Cina. Kang Cing Wie adalah seorang perempuan perawan yang cantik jelita. Karena kecantikannya ini, Raja Sri Jaya Pangus mengawininya.

Banyak kisah dibalik perkawinan dari Sri Jaya Pangus dengan Putri Kangcing Wie.  Perkawinan Sri Jaya Pangus ini melahirkan sejumlah tradisi dan akulturasi budaya Bali dan Cina.

Semisal, Penggunaan uang kepeng atau pis bolong di setiap upacarca adat atau keagamaan yang dilakukan di Bali. Penggunaan uang kepeng itu berasal muasal dari sejarah perkawinan Sri Jaya Pangus dan Kang Cing Wie. Kala itu, Orang cina memberikan hadiah uang kepeng kepada pihak kerajaan Bali dan rakyatnya. Uang kepeng tersebut, selain untuk transasksi bisnis di masa lalu, namun juga dipergunakan untuk sarana upacara adat dan keagamaan.

Bukan saja tentang penggunaan uang kepeng, di bali sampai kini juga masih lestari ajaran siwa buda. Ajaran siwa buda ini merupakan kelahiran dari percampuran agama dan budaya Bali di masa lalu dengan budaya cina. Putri Kang Cing Wie adalah penganut Buda. Sementara Sri Jaya pangus merupakan penganut keyakinan Siwa.    

Ketika terjadi bencana Gunung Batur meletus,  Putri Kang Cing Wie meminta agar kerajaan Balingkang dan rakyatnya dipindahkan atau diungsikan ke daeraha man, yakni sebuah desa yang disebut Ping An, kala itu.  Atau sekarang tempat ini disebut Desa Pinggan.   Kepindahan itu membuat rakyatnya selamat dari bencana, dan sampai saat ini desa tersebut masih ada dan berdiri sebuah Pura Dalem Balingkang. Semua itu, tercatat dalam sebuah prasasti Dalem Balingkang.

Dari perkawinan Sri Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wie, teryata mereka tidak bisa memiliki keturunan untuk penerus tahta Balingkang. Padahal pihak kerajaan maupun rakyatnya sangat berharap seorang penerus kerajaan.  

Akhirnya, Raja Sri Jaya Pangus memutuskan diri untuk bertapa di wilayah Gunung Batur. Namun, dalam perjalanan menuju pertapaan, Sri Jaya Pangus justru bertemu Dewi Danu, dewipenguasa Danau Batur.  Pertemuan ini membuat Sri Jaya Pangus terpesona dengan kecantikan Dewi Danu.

Kala itu, Sri Jaya Pangus mengaku seorang raja yang sedang mencari petunjuk agar segera mendapatkan pendamping hidup. Sri Jaya Pangus tidak mengatakan dirinya telah mempunyai seorang permaisuri. Akhirnya, Sri Jaya Pangus menikahi Dewi Danu dan melahirkan seorang putera bernama Mayadenawa. Bertahun-tahun,Sri Jaya Pangus meninggalkan kerajaan dan Puteri Kang Cing Wie.

Hingga akhrinya, Putri Kang Cing Wie memutuskan untuk mencari Sri Jaya Pangus menuju pertapaan. Namun, alangkah kaget, Putri Kang Cing Wie mendapatkan Sri Jaya Pangus telah menikah dengan Dewi Danau. Dari situasi itu, Dewi Danu dan Putri Kang Cing Wie terlibat pertengkaran.

Dewi Danu mengutuk Putri Kang CIng Wie menjadi sebuah patung. Tidak terima dengankeadaan itu, Sri Jaya Pangus membela utri Kang Cang Wie dan memicu amarah Dewi Danu. Dewi Danu juga mengutuk Sri Jaya PAngus menjadi sebuah patung.

“Dua patung inilah dijadikan simbol barong landung, Jro Gede dan Jro Luh.” ujar Wayan Sujana, Kasi Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng.

Pementasan fragmen tari ini meibatkan 48 orang terdiri dari seniman tari, penabuh, serta official. Persiapan sudah dilakukan oleh tim Dinas Kebudayaan sejak jauh hari. Undangan pementasan ini menjadi bagian dari kerjasama seni dan budaya antara Provinsi Bali dengan Tiongkok.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Komang mengaku pementasan kesenian fragmen tari Putri Kang Cing Wie merupakan tonggak sejarah kerjasama kebudayaan antara tiongkok dan Bali, dalam hal ini diwakili oleh Kabupaten Buleleng.

Kerjasama ini didasarkan pada kondisi di masa lalu bahwa telah terjadi akulturasi seni dan budaya Bali dan Cina ditengah-tengah kehidupan masyarakat Bali kuna.

“Ini patut kita sambut, karena bagian dari pemajuan kebudayaan kita di Bali,” ujar Gede Komang. |I Putu Nova A.Putra|