Buleleng Cocok Untuk Tembakau, Namun Biaya dan Resiko Tinggi

Pola produksi tembakau cincang yang dikeringkan secara alami memanfaatkan cahaya matahari |FOTO : Putu NOVA A.PUTRA|

Singaraja, koranbuleleng.com| Luh Parmi tampak cekatan mencincang daun tembakau setelah di panen dari perkebunannya. Dia salah satu petani tembakau di Desa Patemon, Kecamatan Seririt. Ada cara produksi yang berbeda di lakukan oleh petani-petani tembakau di desa ini.

Setelah daun tembakau dicincang, tembakau itu ditaruh diatas kelangsah dan langsung dijemur dibawah terik matahari hingga kering. Kelangsah itu adalah ulatan tradisional yang berbahan dari daun kelapa.  

Tembakau cincang yang sudah siap jual biasanya dicari langsung oleh pengepulnya. Di desa Patemon, tidak ada tembakau yang dikeringkan dengan alat oven di dalam ruangan. Pola pengeringan tembakau secara langsung memanfaatkan cahaya matahari ini sudah berlangsung sejak lama.

TAnaman tembakau yang digabungkan dengan penanaman tanaman cabe dalam satu area |FOTO : PUTU NOVA A.PUTRA|

Bukan hanya itu, pola tanam tembakau di Desa Patemon juga tergolong berbeda. Satu area tanaman tembakau juga ditanami dengan tanaman Cabe.

“Cara tanam tembakau digabung dengan tanaman cabe memang sudah kami dapatkan dari leluhur, mungkin agar rasa tembakaunya berbeda dan bisa terasa lebih keras,” ujar Parmi.

Parmi mempunyai lahan perkebunan tembakau dari hasil mengontrak lahan. Total lahan yang dikontraknya sekitar 70 are di dua lokasi yang berbeda. Dia juga mengajak buruh mulai dari menanam, memanen dan mencincang daun tembakau tersebut.

Parmi menjual satu paket tembakau cincang seharga Rp600 ribu. Satu paket itu terdiri dari tujuh unit klangsah itu.  “Pengepulnya sudah ada, mereka yang mengambil ke rumah kami,” ujarnya.

Menjadi petani tembakau adalah warisan pekerjaan dari orang tuanya. Dulu, orang tua dan kakek neneknya juga petani tembakau dengan cara dan pola tanam yang sama.

Wanita Buruh Tembakau di Desa Panji Anom |FOTO : PUTU NOVA A.PUTRA|

Perempuan Bali lainnya di Desa Panji Anom, Kecamatan Sukasada, juga sama, banyak melakoni pekerjaan sebagai petani dan buruh tembakau.

Salah satunya, Luh Widiaring. Dia salah satu buruh tembakau yang bekerja pada seorang pemilik lahan tembakau di desa setempat. Luh widiaring bekerja sebagai buruh tembakau dengan tugas mulai menanam benih tanaman tembakau, merawat tanaman tembakau hingga masa panen, sampai pada sisi pemilihan daun tembaku setelah melalui pengeringan dengan oven.  “Kalau saya sudah sedari kecil bekerja sebagai buruh temako, sudah biasa,’ kata Widiaring.

Berbeda dengan di Desa Patemon, pola pengeringan daun tembakau di desa ini menggunakan media oven untuk mengeringkan daun tembakau.

“Setelah daun ini kering, kami pilih dan pilah untuk menunjukkan kualitas. Kualitas yang baik tentu harganya lebih mahal,” kata Widiaring.

Tembakau yang dikeringkan melalui alat oven |FOTO : PUTU NOVA A.PUTRA|

Daun-daun tembakau dipasok untuk kebutuhan bahan rokok. Sejumlah pabrik rokok sudah bekerjasama dengan sejumlah petani tembakau di Buleleng. Jadi, pasar tembakau itu sudah ada.

Namun kadangkala tingginya biaya produksi untuk menanam tembakau di Kabupaten Buleleng, menyebabkan semakin menurunkan minat petani untuk menanam tembakau.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng Made Sumiarta menjelaskan, tanah di Kabupaten Buleleng sebenarnya sangat bagus sebagai penghasil hasil bumi tembakau ini.  Sehingga, hampir semua lahan pertanian di Buleleng bisa dimanfaatkan. Jenis tembakau yang cocok di Buleleng yakni Virginia.

Kebun tembakau

Setiap tahun, jumlah lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman musiman tembakau ini semakin sedikit. Tahun 2019 hanya mencapai 360 hektar dengan produksi rata-rata per hektar mencapai 2,5 ton sampai dengan 3 ton. Itu tersebar di tujuh Kecamatan di Buleleng, kecuali Kecamatan Tejakula dan Kecamatan Busungbiu.

“Luasan lahan yang dimanfaatkan semakin sedikit, karena tingginya biaya produksi seperti sewa lahan, biaya pembelian gas, ongkos tenaga kerja, termasuk juga tingginya resiko penanaman,” jelas Sumiarta. Resiko penanaman itu salah satunya penyebaran virus yang menggerogoti tanaman tembakau. 

Saat ini, virus mozaik menyerang sejumlah tanaman tembakau hingga daun tembakau menjadi keriting. Ini menjadikan, kualitas tembakau itu menjadi berkurang.

Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng mengetahui, beberapa wilayah lahan perkebunan tembakau yang terserang virus ini yakni di Desa Patemon. Sedikitnya, ada lima hektar tanaman tembakau yang terserang virus. Dari 60 hektar tanaman tembakau, sebanyak 20 hektar diketahui terseerang virus ini.

Sumiarta mengaku pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk kembali meningkatkan minat dari petani untuk menanam tembakau serta menangani resiko penanaman itu. Tidak hanya dengan memberikan pembinaan untuk peningkatan dan pemahaman, namun pemerintah juga memberikan bantuan untuk mendukung kelangsungan keberadaan lahan tembakau di Buleleng.

“Kami mengupayakan petani tembakau mendapatkan harga subsidi harga gas, memberikan stimulan bantuan cangkang kemiri untuk pengopenan tembakau setelah panen. Dan kami juga memfasilitasi kemitraan untuk menyepakati harga dengan mitra beringin bali  dan gudang garam,” ujarnya.

Untuk diketahui, luas lahan pertanian tembakau di Kabupaten Buleleng terus mengalami perubahan dan cenderung menurun. Di tahun 2017 misalnya, luas lahan tembakau yang tersebar di tujuh kecamatan di Buleleng mencapai 410,5 hektar, kemudian menurun drastis di tahun 2018 yakni mencapai 275,5 hektar.  |RM|