Warga Kolok Jadi Pelopor di Tanah Kelahiran

Tari Baris Bebila

Singaraja, koranbuleleng.com | Di tahun 70-an, jumlah warga Kolok atau tuli bisu di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan mencapai angka ratusan kepala keluarga (KK), dan saat ini tercatat hanya 43 KK. Setiap tahun, angka jumlah penduduk warga kolok alami penurunan.

Penurunan jumlah penduduk Kolok di desa ini, salah satunya dipicu oleh program keluarga berencana, dengan jargon dua anak saja cukup. Menurut penuturan tokoh di Desa Bengkala, dulu warga Kolok sempat menolak mengikuti program KB itu.

Warga kolok adalah warga yang kritis dan lihai. Penolakan mengkuti program KB di masa lalu adalah salah satu cermin daya kritisnya. Mereka menolak ikut karena tidak mau generasi mereka terpangkas.

Namun seiring perkembangan jaman, secara perlahan warga Kolok di desa ini justru mengikuti kemauan pemerintah mengikuti program KB itu.

“ Saat ini warga kolok terdapat 23 perempuan, dan 20 laki-laki. ” terang Ketua BPD Bengkala yang juga merangkap sebagai Penyarikan desa, Ketut Darta di sela peringatan World Deaf Day di Desa Bengkala, Sabtu 26 Oktober 2019.

Menurut Darta, 43 KK  bagian dari sekitar 1300 KK penduduk di Desa Bengkala. Warga Kolok sudah menyadari tentang makna kehidupan. Diawal peluncuran program KB saat orde baru, warga Kolok sangat sulit mengikutinya.

“Patut diduga, mereka sadar untuk mengikuti program KB menjadi salah satu faktor yang menurunkan jumlah kelahiran warga kolok di Bengkala,” ujar Darta.

Dari sudut kualitas, saat ini kehidupan Kolok sudah sangat bagus. Warga kolok adalah para pekerja keras, bersikap kritis dan lihai serta kini mampu mendominasi di bidang sosiokulur dan ekonomi ini.

“Ada warga Kolok di Denpasar, dan dia menjadi pengusaha tipat cantok, kini memiliki sekitar 8 outlet,” ujar Darta.

Itu hanya salah satu contoh warga Kolok yang sudah sukses dalam  kehidupannya di daerah rantau. Di Desa Bengkala, warga kolok juga kini menjadi tuan rumah di desanya.

Warga kolok di Bengkala kini lebih banyak beraktifias di Kawasan Ekonomi Masyarakat (KEM) Bengkala. KEM Bengkala ini dibina oleh PT Pertamina melalui dana CSR.  Sekitar dua tahun lalu, Pertamina membangun KEM Kelodan, di tahun 2019 ini kembali dibangun KEM Kajanan.

Disitu, warga Kolok beraktifitas bidang ekonomi dan budaya. Bahkan, Desa Bengkala yang tidak mempunyai catatan sebagai desa penghasil kain tenun, kini di desa ini ada produksi tenun khas Bengkala yang dibuat oleh warga Kolok dan warga desa lainnya.

“Bahkan, Pertamina secara khusus memesan kain endek yang ada logo Pertamina, Kuda laut. Itu mahal harganya,” tambah Darta.

Bukan hanya itu, warga Kolok juga berwirausaha membuat inke, minuman tradisional dan usaha lainnya. Minuman tradisionol seperti Loloh Kunyit juga terasa sangat nikmat. Bahan dari tanaman kunyit di panen dari lahan perkebunan kunyit milik warga di Bengkala.

“Saat ini, memang warga Kolok ini sudah menjadi pelopor di beberapa bidang,” ungkap Darta.

Begitupun sejak lama, ada pekerjaan-pekerjaan di desa adat yang dilakoni warga Kolok dan tidak bisa digantikan warga normal lainnya. Yakni, sebagai penggali kubur hingga menurunkan jenasah ke dalam liang kubur. “Disini, hanya mereka yang melakukan itu,” katanya.

Bidang seni dan budaya, Warga Kolok juga sangat berdaya. Salah satu dosen dari ISI Denpasar,  Ida Ayu Trisnawati juga mempunyai andil untuk melahirkan seniman-seniman tari dari warga Kolok. Ada empat tarian yang diciptakan oleh Tresnawati  dan sudah bisa ditarikan oleh Warga kolok di Desa Bengkala.

Trisnawati mengajar dengan pola terbalik dari latihan menari pada umumnya. Jika selama ini, para penari mengikuti gerak alur tetabuhan, namun untuk melatih warga Kolok justru para penabuh harus mengikuti gerak penari Kolok.

Sudah ada 4 tarian yang secara khusus ditarikan oleh warga Kolok di Desa Bengkala. Yakni Tari Jalak Amuci, Tari Bebila dan Tari Puspa Arum Bengkala, dan Tari Yoga Nandini

Tari Jalak Amuci ini menceritakan tentang keceriaan dan kelincahan burung jalak. Burung jalak mempunyai karakter yang setia sebagai salah satu keunikannya. Dalam kehidupan, sepasang burung Jalak jantan dan betina sebagai pasangan, maka sepasang Jalak ini akan terus berdua.

Tari lain yakni Tari Baris Bebila, sebagai tarian yang paling pertama digarap sebagai tarian khas baris Desa Bengkala. Tari Baris Bebila ini mengisahkan semangat kelompok difabel dibawah satu komando. Dalam tarian ini, sangat kentara bahwa kekurangan dari warga kolok menjadi kelebihan tersendiri. “Tari Baris Bebila ini diciptakan tahun 2017, Bebila artinya Bebek Ingar Bengkala,” terang Trisnawati.

Sementara tari Puspa Arum Bengkala menjadi garapan tarian terakhir. Dua tarian yakni Tari Jalak Amuci dan Tari Baris Bebila dan Taro oga Nandini sudah mendapatkan hak kekayaan intelktual (HAKI), sementara Tari Puspa Arum Bengkala sedang dalam proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Tari Baris Bebila mendapatkan HAKI tahun 2019, dan Tari Jalak Amuci mendapatkan HAKI di tahun 2019. Tari Yoga Nandini mendapatkan HAKI pada bulan april 2019, dan Tari Puspa Arum Bengkalai masih dalam tahap pengusulan HAKI.

Menurut Trisnawati, dalam mengajar warga Kolok berusaha memberikan kesetaraan antara warga Kolok maupun warga normal. Dia tidak mau menggunakan kode gerakan ketika melatih warga kolok yang menari.

“Maka solsuinya, penabuh ini fokus ke penari. Penabuh mengikuti gerakan penari sehingga , penari dari warga Kolok ini sudah bebas mengeluarkan ekspresinya dalam menari,” ujar                                                                    Trisnawati.

Trisnawati mengaku dirinya tergabung dalam FLIPMAS (Forum Layanan IPTEK bagi Masyarakat) yang merupakan program CSR Pertamina. Tresnawati tergabung dalam FLIPMas bidang kesenian. Tugasnya untuk mencipta dan membimbing warga di Desa Bengkala berdaya bidang kesenian.

“Selama tiga tahun kami bolak balik untuk membimbing mereka dan menciptakan tarian khusus dari Bengkala,” ujarnya.  |NP|