Lirih Rindik dari Panggung Dwi Mekar

Lomba rindik di Padepokan Seni Dwi Mekar |FOTO : RIKA MAHARDIKA/KORANBULELENG.COM|

Singaraja, koranbuleleng.com| Suaranya khas seperti keluar dari rongga bambu, detak iramanya mengalir, penuh dengan dinamika, terdengar lirih atau lembut sesuai dengan ketukan yang mengalun. Sementara irama salendro dan pelog dari lima nada yang berulang dimainkan akan membuat orang bergerak untuk menikmatinya.

Disitu kekhasan alat musik Rindik. Seperti kebanyakan instrumen gamelan Bali, rindik disusun berpasangan namun berbeda nada. Satu instrumen memiliki nada yang lebih tinggi dari instrumen pasangannya sehingga menghasilkan dengungan yang khas rindik dan bernuansa Bali. Alunannya akan lebih menghanyutkan ketika dipadukan dengan suara seruling bambu.

Satu rindik dimainkan dengan dua atau tiga pemukul, satu dipegang di tangan kiri dan satu atau dua di tangan kanan. Biasanya melodi yang mengalun dihasilkan oleh nada yang dipukul dari tangan kiri sedangkan tangan kanan memainkan pola yang menciptakan suara nada yang terkait untuk mengiringi melodi di tangan kiri.

Terlihat mudah memang. Namun memainkan rindik adalah sebuah ketrampilan yang membutuhkan waktu untuk menjadi mahir. Dengan irama nada yang cepat dan tangan kanan serta kiri memainkan dua atau tiga pemukul untuk menciptakan irama melodi, bisa dipastikan butuh waktu lama untuk bisa trampil di alat musik tradisional Bali ini.

Di Bali sendiri, alat musik rindik ini biasanya dimanfaatkan sebagai alat musik pengiring kesenian joged bumbung. Sebuah kesenian tari Bali yang berasal dari Buleleng, yang lebih banyak sebagai seni pertunjukkan hiburan. Nah untuk alat music rindik sendiri sebenarnya jarang mendapatkan panggung pertunjukkan secara khusus. Selama ini, music rindik lebih banyak dinikmati pada tempat-tempat orang di Bali, yang tengah menggelar hajatan upacara Yadnya.

Jika dibandingkan dengan sejumlah alat musik tradisional yang ada di Bali, Rindik termasuk satu alat music yang kurang popular untuk dipelajari oleh anak-anak muda Bali. Bandingkan saja dengan Gong Kebyar, tentu peminatnya akan jauh berbeda. Salah satu penyebabnya adalah karena Rindik jarang mendapatkan panggung secara khusus untuk pementasan.

Tentu saja karena generasi muda di Bali dengan semangat yang menggebu, membutuhkan panggung untuk mengekspresikan diri mereka tampil berkesenian.  Setidaknya hal ituah yang diakui Pimpinan Padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja, Gede Pande Satria Kusuma Yudha.

Dwi Mekar menggelar loma rindik se-Bali serangkaian dengan HUT Padepokan Seni Dwi Mekar ke-29. Salah satu tujuannya, selain memberikan kelangsungan hidup bagi kesneian rindik, juga memberi panggung kesenian ini agar lebih banyak dikenal dan didengarkan lagi.

”Kami melihat bahwa rindik ini sangat jarang mendapat panggung pentas, kadang hanya sebagai penghias saja untuk mengupah telinga saja, biasanya tempatnya baru masuk upacara, atau restaurant, kurang mendapatkan panggung lah. Sebenarnya kesenian rindik ini bisa ditonton dan bisa berinovasi serta tampil atraktif,”ungkapnya.

Selain masalah panggung, tingkat kesulitan dalam memainkan alat musik bambu dengan lima nada ini juga menjadi salah satu alasan sedikit minat generasi muda untuk mau belajar.

“Satu karena tingkat kesulitan, dua memerlukan harmonisasinya harus tepat. Karena kedua tangannya bermain, yang satu menentukan nada, yang satunya menentukan pola, dan pola permainannya sedikit lebih rumit dibandingkan dengan gong kebyar,” kata pria yang akrab disapa Olit ini.

Olit menjelaskan, dipilihnya lomba rindik mengingat tabuh klasik itu jarang dipentaskan. Dan salah satu tugas dari sanggar yang dipimpinnya adalah melestarikan.

“Kita disini ingin mengkemasnya dengan cara berbeda, menyajikannya dalam performa beda diatas panggung, dengan gaya atraktif dan inovasi,” jelasnya.

Salah seorang juri dari kabupaten Jembrana Wayan Gama Astawa menjelaskan, dari pengamatannya, para peserta yang lebih banyak generasi muda sepertinya belum menjiwai tabuh-tabuh yang disajikan. Namun lebih banyak bersifat hapalan.

“Saya amati bahwa para peserta yang sebagian besar generasi muda masih hanya menghapal. belum ada penjiwaan, padahal gending-gending itu semestinya dijiwai sehingga alunan yang disajikan akan mengalir bagaikan air,”

“Kalau dilihat, anak muda sudah mampu memainkan rindik klasik, namun perlu diberikan pemahaman lebih mendalam, supaya karakter rindik betul didapat. Hanya sebatas hapal, harus ada penjiwaan dan ekspresi itu sangat penting untuk mendapatkan suasana gending yang pas,” ucapnya. |Rika Mahardika|