Perjalanan 29 Tahun Dwi Mekar, Selalu Ada Penghormatan Untuk Kesenian

Lomba Tari Teruna Jaya yang digelar Padepokan Seni Dwi Mekar dalam rangka HUT ke-29 |FOTO : Putu Nova A Putra|

Singaraja, koranbuleleng.com | Sebanyak 33 orang penari mengikuti lomba tari Teruna Jaya di Padepokan Seni Dwi Mekar, Kelurahan Banyuning, Singaraja, Jumat 31 Januari 2020. Padepokan seni yang didebut oleh almarhum I Nyoman Durpa ini sedang merayakan hari jadinya ke-29. Selain menggelar lomba Tari Teruna Jaya, tarian khas Buleleng, padepokan ini juga menggelar lomba rindik se Bali.

Sepeninggal almarhum Nyoman Durpa, Padepokan ini diteruskan anak biologisnya, Gede Pande Satria Kusuma Yudha. Masih ada ratusan siswa yang belajar tentang kesenian tradisional di padepokan ini. Sepanjang 29 tahun berdiri, pasang surut memang terjadi, namun padepokan seni Dwi Mekar selalu menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk mendalami tentang tari, tabuh Bali. Sepanjang perjalanan itu juga, Dwi Mekar selalu memberi penghormatan terhadap kesenian dan karya seni.  

Padepokan Seni ini salah satu tertua di Buleleng sudah menamatkan banyak seniman tari dan tabuh. Bahkan, sanggar-sanggar tari yang ada saat ini di Singaraja, lebih banyak jebolan dari Padepokan Seni Dwi Mekar.

Seniman senior, Wayan Sujana dan almarhum Ngurah Sadika alias Susik, adalah sahabat I Nyoman Durpa sejak awal. Mereka lahir bersama dari Padepokan Seni Dwi Mekar. Begitupun seniman-seniman muda kini, banyak yang sudah membuka sanggar seni juga pernah menjadi bagian dari Dwi Mekar.  Almarhum Durpa, sudah banyak melahirkan seniman dan berkiprah hingga sekarang.

Salah satu murid dari almarhum Nyoman Durpa, Made Pasca Wirsutha alias Dek Pas, juga menyatakan banyak juga penelitian tentang kesenian tradisional Bali dilakukan di Padepokan Seni Dwi Mekar, baik oleh sejumlah akademisi maupun mahasiswa yang mau menyelesaikan skripsi maupun tesisnya.

 “Termasuk saya, jika tidak ada Bapak, belum tentu juga saya bisa lulus dari ISI. Banyak kenangan sebenarnya, banyak pelajaran yang bisa saya petik dari Pak Durpa,” ujarnya.

Dek Pas mengaku, dulu saat ujian skripsinya, Dek Pas didorong oleh Durpa. Semua peralatan kesenian diborong ke kampus langsung atas perintah Durpa.

“Dulu saat saya uijan, semua alat dari sini. Bapak yang menyuruh begitu, akhirnya tamat juga. Dulu saya sudah merasa tidak akan tamat kuliah,” ujarnya mengenang.

Di hari ulang tahun Padepokan Seni Dwi Mekar yang ke-29, Dek Pas masih setia menimpali Gede Pande Satria Kusuma Yuda atau akrab disapa Jro Olit membawa Dwi Mekar.

Dek Pas mengaku tidak bisa jauh dari Dwi Mekar, karena dirinya merasa sudah terdidik dan mengetahui segala pengetahuan tentang kesenian dari padepokan ini. Pengalaman berkesenian dari Dwi Mekar hingga ke berbagai daerah dan benua.

Kini, tanggungjawab membawa misi kesenian lebih ajeg ada dalam pundak Jro Olit. Pria brewok yang hobi menggeber Harley Davidson ini merasa harus tetap menjalankan amanah almarhum Durpa, sang ayah.

“Sepeninggal bapak selama 4 tahun ini, tidak ada kendala karena kami sejak awal juga berkomitmen untuk menjalankan amanah bapak,” ujarnya.

Penghormatan Jro Olit terhadap sang Ayah, ditunjukkan dengan cara memberikan apresiasi dan bantuan terhadap seniman-seniman tua di Buleleng. Olit merasa, seniman-seniman tua di Buleleng menjadi benteng awal bagi kelestarian kesenian di Buleleng. Itu yang dilakukan setiap kali Padepokan Seni Dwi Mekar berulang tahun.

“Mereka sangat berperan dalam perkembangan seni di Buleleng, saya kira penghormatan untuk mereka adalah kewajiban,” ucap Jro Olit.

Olit menerangkan dari seniman-seniman tua itu juga, Padepokan Seni Dwi Mekar merasa terinspirasi dari mereka hingga melakukan penggalian terhadap kesenian yang hampir punah. Seperti rekonstruksi seni tari Tari Wiranjaya dan Tari Palawakya. “Kami juga sudah berproses untuk rekonstruksi Tari Pudak Sinunggal,” ujarnya.

Terakhir, kata Jro Olit, Padepokan Seni Dwi Mekar akan memberi penghormatan terhadap almarhum Durpa dengan membuatkan sebuah patng tentang sosok Nyoman Durpa membawa seekor ayam jantan. “Gaya nyeleneh, jongkok sambil membawa ayam jantan, itu prilaku khas sebenarnya,” kata Olit.

Patung ini rencananya baru akan diwujudkan pada tahun depan, di HUT Padepokan Seni Dwi Mekar yang ke-30. |Putu Nova A.Putra|